Keruntuhan Barcelona: Bagaimana Minimnya Inovasi Taktik Menghancurkan Blaugrana

Barcelona mencapai titik terendah mereka di era Luis Enrique ketika luluh lantak di Paris. Apa yang sebetulnya terjadi dan mengapa hal ini terjadi? Zakky BM memberikan analisisnya...

“Ini bukanlah masalah sikap, namun tentang masalah sepakbola. Mereka (PSG) lebih banyak menekan dan lebih baik secara taktik. Mereka tahu bagaimana membuat persiapan dan melakukannya ketika dibutuhkan,” ungkap Sergio Busquets, seperti yang dilansir laman Sport pasca kekalahan di Paris beberapa waktu yang lalu. Busquets adalah pemain pertama yang berkomentar atas kekalahan memalukan tersebut.

Tafsiran dari pernyataan Busquets sangat jelas mengacu kepada “taktik yang lebih baik” serta “mampu membuat perencanaan pertandingan” yang menjadikan Barcelona tak lebih superior dari Paris Saint-Germain dalam hal tersebut. Singkatnya, perancang taktik dan strategi Barca yaitu Luis Enrique menemui jalan buntu untuk menghadapi pertandingan.

Tafsiran dari pernyataan Busquets sangat jelas mengacu kepada “taktik yang lebih baik” serta “mampu membuat perencanaan pertandingan” yang menjadikan Barcelona tak lebih superior dari Paris Saint-Germain dalam hal tersebut

Lucho – sapaan untuk Luis Enrique – menyanggahnya tak lama kemudian. “Aku tak mengerti apa yang dimaksud oleh Busquets (pada pernyataannya tersebut). Tidak benar mereka (PSG) telah mengejutkan kita. Namun aku tak akan terlalu menanggapi komentar pemain pasca pertandingan karena kondisi mereka baru saja berlaga di lapangan,” cetus mantan pelatih AS Roma dan Celta Vigo tersebut.

Tak ayal, tudingan kepada Luis Enrique yang menanggap bahwa ia tak punya “rencana B” atau bahkan pelatih tersebut terlah merusak gaya main Barcelona ini terus berhamburan. Maklum saja, level ekspetasi penggemar Barcelona sangatlah tinggi. Memboyong satu trofi di akhir musim bisa jadi dianggap sebagai kegagalan.

Mari kita tarik mundur ke belakang. Kedatangan Lucho ke Barcelona adalah untuk memeberikan warna baru bagi permainan Barcelona pasca nirgelar pada 2013/14 di bawah asuhan Gerardo Tata Martino. Hasilnya jelas; Lucho mengimplementasikan sepakbola “yang lebih direct” dengan memanfaatkan trio Lionel Messi, Luis Suarez dan Neymar Jr di barisan penyerang.

Pada awal kedatangan Lucho, ia mencoba membagi beban sirkulasi bola di lini tengah yang biasa diemban Xavi Hernandez, Andres Iniesta dan Sergio Busquets kepada dua sisi dari sayap Barcelona. Reduksi peran lini tengah tersebut berhasil. Ini adalah inovasi dari Lucho untuk permainan tim dengan dampak yang sangat besar.

Skema Enrique banyak mengandalkan trio MSN dan awalnya, segalanya berjalan sempurna

Lalu mengapa Barca telah kehilangan identitasnya di bawah kepelatihan Lucho?

Ini adalah pertanyaan yang bisa dibilang cukup rancu. Jika yang dimaksud identitas Barca adalah bermain menyerang, maka sepakbola Barcelona sekarang pun masih bermain menyerang meski dengan cara yang berbeda.

Namun jika identitas Barca yang dimaksud adalah permainan umpan-umpan pendek (yang kerap salah kaprah diidentikan dengan tiki-taka) lewat lini tengah seperti yang diperagakan pada era-nya Guardiola, maka ini patut dipertanyakan. Mereka yang berkomentar demikian, dicurigai tak menyimak sepakbola Barcelona di era Frank Rijkaard.

Barcelona tetaplah bermain sepakbola menyerang. Namun, jika merujuk kepada pernyataan Busquets yaitu perihal jebloknya taktik dan perencanaan (strategi) dari Lucho, maka anggapan itu ada benarnya. Luis Enrique memang seperti kehabisan akal untuk meracik strategi dan taktik baru untuk pertandingan-pertandingan Barca, setidaknya dalam satu musim terakhir ini.

Inovasi Lucho yang melakukan progresi serangan dari dua sisi kanan-dan kiri dengan melibatkan penyerang sayap dan bek sayap yang ditopang (di-cover) dengan pemain tengah, tampaknya sudah mulai banyak dipelajari tim lawan

Inovasi Lucho yang melakukan progresi serangan dari dua sisi kanan-dan kiri dengan melibatkan penyerang sayap dan bek sayap yang ditopang (di-cover) dengan pemain tengah, tampaknya sudah mulai banyak dipelajari tim lawan.

Mereka (tim lawan), sudah mulai sadar bahwa upaya merusak aliran bola di dua sisi tersebut sekaligus mematikan trio MSN, maka tamatlah Barcelona. Padahal, sistem ini awalnya berupaya merenggangkan (stretching) pertahanan lawan yang kerap menumpuk pertahanan berlapis-lapis.

Penyerang Leganes mengerti bahwa Sergi Roberto bukanlah bek kanan natural. Pasca mampu merebut bola dari Sergi dan melancarkan pressing tinggi, Leganes menciptakan gol penyeimbang

Dalam beberapa pertandingan Barca di musim ini, kerap kali sirkulasi bola dari lini belakang berjalan sangat lambat dan hanya berputar-putar antara duo bek tengah dan bek sayap saja. Bahkan pergerakan statis para pemain yang mengisi slot-slot vital permainan ala Enrique ini (bek kanan/kiri, penyerang kanan/kiri dan gelandang tengah kanan/kiri) terutama mereka yang baru direkrut awal musim ini membuat serangan Barcelona terlihat melempem.