Kerusuhan Suporter dan Polemik Jadwal Pertandingan: Catatan-Catatan dari ISC A 2016

Indonesia Soccer Championship A akhirnya telah berakhir. Ada banyak catatan yang tertinggal dari gelaran 'kompetisi darurat' ini. Lalu, bagaimana tahun depan: akankah kompetisi ini akan berlanjut, atau lebih baik kembali ke ISL?

Gelaran Indonesian Soccer Championship (ISC) A 2016 sudah usai. Selama delapan bulan klub-klub kasta tertinggi bertarung memperebutkan gelar juara dari turnamen berbentuk liga yang bisa juga dibilang sebagai pra-kompetisi resmi yang akan bergulir pada 2017 mendatang.

Persipura Jayapura akhirnya keluar sebagai juara ISC A setelah bertarung ketat dengan Arema Cronus hingga laga terakhir. Meski hanya sebagai kompetisi darurat, ISC ternyata mampu menyihir publik sepak bola Indonesia yang sempat putus asa dengan pembekuan PSSI oleh FIFA.

Perseteruan PSSI dan pemerintah juga sempat mengguncang awal berjalannya ISC A. Meski demikian, PT Gelora Trisula Semesta (GTS) selaku operator yang harus menghadapi banyak rintangan tetap menjalankan roda ‘kompetisi darurat’ ini dengan semangat.

Mari kita melihat lebih dulu isi kompetisi ISC A sebelum masuk pada bahasan apakah kompetisi ini layak diteruskan. Pertama, ucapan selamat harus dilayangkan kepada Persipura yang sudah keluar sebagai juara. Sungguh bukan perjalanan yang  mudah bagi Mutiara Hitam untuk bisa muncul sebagai kampiun ISC A.

Pemecatan pelatih Jafri Sastra seakan menjadi kunci kebangkitan Si Merah-Hitam. Pelatih Alfredo Vera menjadi juru selamat bagi Persipura

Sempat melempem di awal musim, ternyata Persipura bisa berlari kencang menjelang putara kedua bergulir. Pemecatan pelatih Jafri Sastra seakan menjadi kunci kebangkitan Si Merah-Hitam. Pelatih Alfredo Vera menjadi juru selamat bagi Persipura. Di tengah rasa pesimistis publik Jayapura dengan kinerja tim kesayangannya, ternyata Vera bisa membangkitkan jiwa juara dalam tubuh Persipura.

Naik turun Persipura juga tak lepas dari merosotnya beberapa kandidat juara seperti Sriwijaya FC, Bhayangkara FC, hingga yang terakhir adalah Madura United. Namun, seperti kisah klasik dalam liga terdahulu, pada akhirnya Persipura bertarung ketat dengan Arema Cronus.

Pertarungan sengit keduanya memuncak pada pekan ke-32, saat keduanya masih memiliki jumlah poin yang sama. Persipura punya sedikit keuntungan karena akan menghadapi tim lemah, Persegres Gresik United, di pekan ke-33 dan bermain di kendang sendiri pada pekan terakhir.

Sedangkan Arema, tampak sedikit gamang jelang akhir-akhir kompetisi mengingat mereka harus bertandang ke Pusamania Borneo FC di pekan ke-33 dan menghadapi Persib Bandung di laga terakhir. Perlu diingat, mereka beberapa kali kecolongan di pertandingan luar kandang. Benar saja, pada pekan ke-33, Arema terpeleset di kandang Pusamania Borneo FC. Singo Edan bermain imbang 2-2, dan bahkan sempat tertinggal dua gol di babak pertama.

Lain dengan Persipura yang menang 3-0 di kandang Persegres. Meski tanpa Boaz Solossa, Mutiara Hitam punya mental bagus dan bermodal tim yang lebih kuat menghadapi tuan rumah Persegres. Hasil tersebut membuat pekan berikutnya menjadi sebuah pesta bagi publik sepakbola Papua.

Persipura menang besar atas PSM Makassar dengan skor 4-2. Hasil itu pun memastikan langkah Persipura menjadi juara ISC A, apalagi dengan Arema yang hanya bermain imbang 0-0 melawan tamunya Persib Bandung. Persipura mengakhiri ISC dengan poin 68 diikuti Arema dengan poin 64.

Sayangnya, euforia juara ini tak banyak disorot oleh publik sepakbola Indonesia karena keberhasilan timnas Indonesia mencapai final Piala AFF

Ucapan selamat bertubi-tubi datang untuk Persipura. Tapi sayangnya, euforia juara ini tak banyak disorot oleh publik sepakbola Indonesia karena keberhasilan timnas Indonesia mencapai final Piala AFF – meski lagi-lagi gagal untuk juara. Sangat disayangkan memang, karena gelar juara yang diraih susah payah oleh Persipura jadi tak terlalu menonjol. Apa boleh bikin, inilah yang terjadi jika kompetisi dipaksakan jalan terus meski timnas Indonesia tengah berjuang keras di turnamen antar negara. (Bahkan ketika final leg kedua Indonesia digelar pun, tetap ada pertandingan ISC A yang berlangsung. Hebat.)

Di sini, kita harus menilai apakah ISC sangat layak dilanjutkan atau kembali dengan label Indonesia Super League (ISL) sebagai kompetisi resmi sepak bola Indonesia.