Kisah

Ketika Alan Shearer Membawa Blackburn Rovers Menciptakan Kejutan Besar di Premier League 1994/95

Alan Shearer Blackburn 1994/95

Nick Moore mengisahkan kembali musim ketika Alan Shearer mendapatkan ganjaran yang setimpal atas kemampuannya mencetak gol di pertengahan 1990an

We are part of The Trust Project What is it?

Terkadang, mudah bagi kita melupakan soal betapa bagusnya Alan Shearer dalam menendang – dan menyundul – bola ke dalam gawang.

Coba lihat fakta-fakta ini: selama 25 musim Premier League berjalan dengan ratusan penyerang tengah top menghiasi liga ini, standar 30 gol dalam semusim baru bisa dilewati sembilan kali. Enam pemain – Andy Cole, Thierry Henry, Kevin Phillips, Cristiano Ronaldo, Robin van Persie, dan Luis Suarez, semuanya berhasil melewatinya satu kali di masa-masa keemasan mereka. Wayne Rooney, Didier Drogba, Ruud van Nistelrooy, Robbie Fowler, Michael Owen, dan Ian Wright tak pernah mampu mencapainya. Harry Kane baru ‘nyaris’ melakukannya. Tetapi Alan Shearer bisa melewatinya tiga kali.

Bahwa gol-golnya jarang membuahkan trofi juara mungkin menjadi alasan mengapa lelaki Geordie ini tak pernah menjadi pilihan utama secara otomatis ketika orang-orang memilih penyerang terhebat di divisi teratas Inggris ini dalam dua dekade terakhir. Tetapi statistiknya menunjukkan bahwa ia memang yang terhebat – dan satu-satunya musim ketika kualitas mencetak golnya mendapatkan ganjaran yang setimpal adalah musim 1994/95.

Alan Shearer 1995

Musim itu, ia jarang gagal mencetak gol. Ia mencetak 34 gol, menyamai rekor Andy Cole untuk Newcastle United yang tercipta setahun sebelumnya. Tidak ada seorang pun yang bisa mendekati catatan tersebut sejak saat itu, dan rekor itu pun masih bertahan hingga sampai ini (Ronaldo dan Suarez mencetak 31 gol di musim terbaik mereka; Van Persie, Henry, dan Phillips, hanya sampai angka 30 saja).

Perekrutan murah terbaik di abad ini

Over 25 Premier League seasons featuring hundreds of centre-forwards, the magical 30-goal mark has only been breached nine times. Shearer has three of them

Shearer adalah kunci utama mengapa Blackburn Rovers berhasil merebut gelar juara liga kasta tertinggi ketiga mereka di sanjang sejarah, 81 tahun sejak mereka merebut gelar kedua. Memang, tim ini memiliki pemain-pemain bagus lainnya: Tim Flowers adalah penjaga gawang yang luar biasa; Colin Hendry adalah tembok raksasa Kaledonia di lini belakang; dan ada maestro lini tengah Inggris yang pernah membuat pemilik klub, Jack Walker, menolak keinginan manajer Kenny Dalglish untuk merekrut Zinedine Zidane. “Mengapa Anda menginginkan Zidane ketika kita sudah memiliki Tim Sherwood?”

Tetapi Shearer – yang direbut dari Southampton dengan nilai £3,6 juta setelah mengalahkan usaha Alex Ferguson – terbukti menjadi pembelian terbaik Walker.

Sebagai seorang penyerang, ia punya banyak kualitas. Kuat dan mengandalkan fisiknya (beberapa orang akan menganggapnya agak keterlaluan kadang, terutama mereka yang pernah dihajar oleh sikutnya), mampu menahan bola dengan pengambilan posisi yang hebat, memiliki lompatan yang luar biasa, sundulan mematikan, dan tendangan yang bisa menjatuhkan seekor gajah besar, Shearer adalah sosok yang bisa membuat lini pertahanan lawan takut (Rahasianya? “Gerakkan kepala dan lututmu untuk membuat tendangan tidak melambung, dan tending bola dengan bagian tali sepatu untuk menghasilkan tenaga yang besar,” katanya suatu kali kepada FourFourTwo).

Lihat salah satu dari tiga hattrick-nya di musim itu

Ia juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan memainkan umpan bagi rekan setimnya – sebuah kualitas dari masa-masa mudanya ketika ia bermain sebagai gelandang – dan meski elemen yang disebut terakhir ini mulai memudar di akhir kariernya, Shearer selalu merupakan seorang pemain yang akan tampil hebat ketika ia memiliki rekan setim yang tepat. Pada musim panas 1994, partner sempurnanya hadir dari Norwich City.

Chris Sutton adalah penyerang yang sama-sama bertipe berotot-namun-cerdik – dan bersama-sama, duo SAS yang orisinal ini memberikan hukuman bagi lini pertahanan lawan. Kemampuan keduanya untuk memberikan peluang bagi satu sama lain jelas tidak bisa dipandang sebelah mata: Sutton memberikan asis bagi Shearer sebanyak 11 kali dan Shearer membalasnya sembilan kali; keduanya berkontribusi pada 61,25% dari semua gol Blackburn di musim 1994/95. Sutton mengakhiri musim dengan 15 gol dan 17 asis; Shearer dengan luar biasa mencatatkan 34 gol dan 16 asis.

Alan Shearer, Chris Sutton 1995

Big Al mencetak gol-gol penting dalam kemenangan atas Arsenal, Chelsea, Manchester City, Coventry, dan Southampton; ia mencetak trigol ke gawang QPR, West Ham, dan Ipswich Town. Pada akhirnya, ia menciptakan perbedaan yang sangat penting. Setelah hasil imbang tanpa gol melawan Leeds, Ferguson – manajer rival Blackburn saat itu, Manchester United – menggunakan ucapannya untuk menyerang rivalnya dengan mengklaim Rovers akan ‘finis seperti Devon Loch’ jika mereka gagal merebut gelar juara.

Gol yang menyelamatkan Rovers

Sutton ended the year with 15 strikes and 17 assists; Shearer with an unbelievable 34 goals and 16 assists

Perbandingan itu sempat terlihat memberikan hasil bagus. Blackburn kemudian kolaps di Manchester City dan West Ham. Ferguson menambah tekanannya dengan mengatakan Rovers mungkin tak punya nyali, membuat Flowers meledak di wawancara TV-nya yang terkenal (“jangan nasihati saya soal keberanian!”) – dan Shearer menjawabnya dengan sempurna. Penampilan bagus dan satu gol ke gawang klub kota asalnya, Newcastle United, membantu Blackburn menang 1-0 dan menghentikan hasil-hasil buruk timnya.

Pada akhirnya, United lah yang tidak memiliki nyali yang cukup. Perebutan gelar harus ditentukan di hari terakhir musim, dan Rovers membuat petaka dengan kalah di Anfield (setelah seminggu penuh dengan spekulasi aneh soal bagaimana Liverpool mungkin akan membiarkan mereka menang karena mereka tak ingin United juara lagi). Tetapi anak-anak asuhan Ferguson juga terpeleset dan hanya imbang di Upton Park. Shearer pun merebut gelar Premier League pertama dan satu-satunya di sepanjang kariernya.

Dalam gayanya yang khas, Shearer secara terkenal dikabarkan pulang ke rumah untuk membersihkan pagar rumahnya keesokan harinya (meski belakangan ia mengungkapkan bahwa ayah mertuanya lah yang melakukannya, sementara ia hanya membeli makanan ringan untuk mereka). Anekdot yang sering dibicarakan itu memberikan Shearer reputasi sebagai seorang aneh, dan sikapnya yang lurus di kehidupan sehari-hari dan di sepakbola masih membuatnya dinilai lebih rendah daripada Henry yang elegan atau Suarez atau Van Persi yang cerdik dan berseni.

Tetapi Shearer, yang terpilih sebagai Pemain Terbaik versi PFA tahun itu, tidak terlalu peduli. Ia mencetak 31 gol di musim sebelumnya, dan mencetak 31 gol juga di musim 1995/96, membuatnya menyempurnakan hattrick melewati angka 30 gol yang luar biasa yang sepertinya tidak akan pernah bisa disamakan pemain manapun.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com