Ketika Indonesia Menahan Tim Sepakbola Terkuat di Dunia di Olimpiade

Ini adalah cerita yang tak pernah bosan-bosannya diceritakan oleh kakek kita. Cerita tentang satu momen yang begitu membanggakan bagi masyarakat Indonesia, disumbangkan oleh tim nasional sepakbolanya. Renalto Setiawan menceritakan kembali detail perjalanan timnas hingga bertemu dengan tim sepakbola terkuat dunia saat itu, Uni Soviet...

Dari banyaknya "cerita rakyat" yang terus direproduksi dari genenrasi ke generasi lainnya di negeri ini, cerita tentang kehebatan Indonesia saat menahan imbang Uni Soviet 0-0 dalam gelaran Olimpiade Melbourne pada tahun 1956 lalu adalah salah satu yang paling fenomenal. Cerita ini, barangkali, tak kalah sering diceritakan oleh ibu atau bapak kepada anak-anaknya menjelang tidur daripada cerita Malin Kundang. Media-media di Indonesia juga seperti tak pernah merasa bosan untuk menceritakan lagi kisah heroik yang terjadi di Melbourne tersebut. FIFA, otoritas tertinggi sepakbola dunia, melalui kisah mereka tentang Ramang, salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, bahkan ikut ambil bagian untuk mengenang ‘mukjizat’ yang pernah ditorehkan Indonesia di ajang kelas dunia tersebut.

Sejatinya, semua saksi sejarah besar sepakbola Indonesia di ajang Olimpiade tersebut memang sudah menua. Tetapi ketika pertanyaan tentang perjuangan hebat anak asuh Toni Pogacnik tersebut menghampiri telinga mereka, sebagian besar dari mereka akan menjawabnya dengan antusias seolah mereka mendadak kembali menjadi muda. Jusuf Kalla, wakil presiden Indonesia yang saat ini berusia 74 tahun, misalnya. Dirinya tak pernah berhenti menekankan betapa luar biasanya perjuangan Maulwi Saelan dkk. di Melbourne setiap kali membicarakan tentang sepakbola di negeri ini. "Pertandingan antara Indonesia melawan Uni Soviet di Melbourne selalu terngiang-ngiang di ingatan beliau (Jusuf Kalla)," kata Suryo Pratomo, ketua Tim Ad-Hoc Sinergi PSSI.

Sepakbola tak hanya dengan kaki, tapi juga pikiran

Setelah melakukan proses seleksi yang sangat panjang, yaitu dengan membagi pemain-pemain di tiga zona; Jawa, Sumatera, dan Indonesia Timur, ditambah dengan pemain-pemain lama yang bermain di Asian Games 1954, Toni Pogacnik berhasil mengumpulkan 20 pemain terbaik yang akan mewakili Indonesia di ajang Olimpiade Melbourne 1956. Maulwi Saelan (PSM Makassar), Tan Liong Houw (Persija Jakarta), Aang Witarsa (Persib Bandung), dan Rusli Ramang (PSM Makassar) merupakan beberapa di antaranya. Pemain-pemain tersebut kemudian terus ditempa di Stadion Ikada (saat ini menjadi Monas) agar mampu mengeluarkan terbaiknya saat perjalanan menuju Olimpiade dimulai.

Saat itu, selain melatih teknik dan fisik, Toni juga menamkan pentingnya wawasaan bermain, ide, dan kecerdasan kepada para pemain Indonesia. Menurutnya, sebaik apa pun teknik dan fisik seorang pemain dan sebagus apa pun taktik yang diterapkan oleh seorang pelatih tak akan berguna jika para pemainnya tidak memiliki kecerdasan di atas di lapangan. "Yang peting ialah belajar bagaimana bermain. Bermain sepakbola itu sebenarnya tidak sukar. Tetapi di samping mempergunakan kaki, perlu juga memakai pikiran," begitu penjelasan pelatih asal Yugoslavia tersebut kepada majalah IPPHOS mengenai metode kepelatihannya.

Pemain-pemain Indonesia pun secara konsisten mengikuti kemauan Pogacnik. Selain berlatih sungguh-sungguh, mereka juga berusaha memahami sepakbola secara mendalam. Apa yang mereka lakukan tersebut kemudian menjadi salah satu kunci sukses mereka saat menghadapi Uni Soviet di Olimpiade Melbourne.

Ramang sang legenda

Indonesia sendiri pada akhirnya berhasil lolos ke Olimpiade karena dinaungi sedikit keberuntungan. Taiwan, lawan main Indonesia pada babak kualifiaksi, memilih mengundurkan diri karena sejumlah alasan. Padahal saat itu Taiwan merupakan salah satu tim terbaik di kawasan Asia. Indonesia pun tak perlu mengeluarkan keringat untuk menginjakkan kakinya di Olimpiade Melbourne. Menariknya, keberuntungan Indonesia tak hanya berhenti sampai di situ. Di pertandingan pertama, Ramang dkk. juga tidak perlu bertanding karena Vietnam Selatan membatalkan keikutsertaannya. Secara otomatis, Indonesia pun kemudian lolos ke babak perempat-final, di mana Uni Soviet akan menjadi lawan yang cukup berat bagi Indonesia. Bagaimanapun Uni Soviet adalah kandidat juara Olimpiade Melbourne 1956, dan salah satu tim terkuat di dunia ketika itu. Peluang Indonesia untuk sekadar mampu mengimbanginya pun seperti akan menyalahi takdir. 

Indonesia pun kemudian lolos ke babak perempat-final, di mana Uni Soviet akan menjadi lawan yang cukup berat bagi Indonesia. Bagaimanapun Uni Soviet adalah salah satu tim terkuat di dunia ketika itu

    

Saat itu, Uni Soviet sebenarnya juga datang ke Melbourne sebagai salah satu tim terbaik dari Eropa. Permainan keras dan disiplin khas Eropa Timur yang mereka peragakan sering diakhiri dengan kemenangan. Selain itu, Uni Soviet juga membawa pemain-pemain terbaik mereka ke Australia. Ada nama Lev Yashin, Igor Netto, Valentin Ivanov, dan Anatoli Maslenkin yang empat tahun sesudah Olimpiade 1956 tersebut menjadi bagian penting kemenangan Uni Soviet dalam gelaran Piala Eropa 1960 di Prancis – ketika itu Uni Soviet berhasil mengalahkan Yugoslavia 2-1 di pertandingan final.

Sebelum menghadapi Indonesia, Uni Soviet secara meyakinkan berhasil mengalahkan kandidat kuat juara lainnya, Jerman. Mereka berhasil mengalahkan Jerman 2-1 melalui gol Anatoly Isayev dan Eduard Strelsov. Saat itu, mesin Jerman tak cukup kuat untuk meladeni permainan fisik arahan Gavril Kachalin tersebut. Dan dari pertandingan inilah Pogacnik mampu menemukan taktik yang tepat untuk meredam permainan Uni Soviet.