Analisa

Ketika Manajer Kehilangan Kepercayaan Para Pemain: Apakah Hal Ini Benar-Benar Terjadi?

David Moyes, Manchester United

Ini adalah sebuah frase yang akan anda dengar tiap kali ada manajer yang kesulitan mendapat hasil bagus untuk timnya, tapi apakah fenomena ini memang benar ada? Chris Flanagan dari FFT menyelidikinya

We are part of The Trust Project What is it?

Ia telah memenangi tiga gelar liga dan membuat dirinya sebagai manajer terhebat dalam sejarah klub, tapi tidak ada satupun dari fakta itu yang berarti. Bahkan meskipun para fans masih mengagumi dirinya, kekuatan pemain lah yang menang.

“Saya tidak akan pergi kecuali dipecat,” ucapnya, beberapa pekan sebelum akhirnya kapak pemecatan datang. Dalam pengumumannya, para petinggi klub nyaris seperti meminta maaf, “Dalam hal rekor hebat yang ia miliki, para direktur klub merasa berat mengambil keputusan seperti ini,” ucap mereka di pernyataan resmi. “Tapi manajer tidak mendapatkan rasa percaya dan rasa hormat lagi dari para pemain.”

Stan Cullis, yang membangun salah satu tim terbaik yang pernah ada di sepakbola Inggris, dipecat sebagai manajer Wolverhampton Wanderers. Era hebat Molineux pun berakhir.

Dengan bantuan Billy Wright cs, Cullis menjadikan Wolves sebagai klub yang dominan di Inggris. Mereka bahkan sempat disebut secara tidak resmi sebagai “Juara Dunia” setelah mengalahkan tim Hungaria Honved di sebuah laga eksebisi penuh gengsi di tahun 1954. Salah satu bagian di Molineux masih dinamakan dengan nama mantan manajer mereka ini.

Stan Cullis

Sebuah patung dan tribun untuk menghormati legenda Wolves, Cullis

Tapi saat beberapa bintang Cullis mulai memudar, segalanya mulai berantakan di awal 1960an. Dengan semakin kuatnya pemain-pemain di seluruh negeri berkat dihilangkannya batas gaji maksimal, manajer penuh disiplin yang tegas ini pun kehilangan skuatnya.

Masalah Wolves pun dengan segera mempengaruhi kesehatan Cullis. Penyakit membuat pria 47 tahun ini tidak bisa menghadiri pertandingan di awal musim 1964/65. Klub ini langsung terpuruk di posisi terbawah Divisi Satu dan bahkan kemenangan perdana di musim tersebut yang terjadi bersamaan dengan kembalinya ia di pinggir lapangan terbukti tidak cukup untuk mengobati ketidakpuasan banyak orang.

“Masalah ini dimunculkan dengan protes dan permintaan transfer dari pemain-pemain yang ada, yang memaksa pengurus klub untuk percaya bahwa masalah tersebut terjadi karena perlakuan kepada para pemain oleh manajer,” jelas pengurus klub ketika itu.

Mitos atau bukan? 

Di akhir kepemimpinan Roy di klub, seorang wartawan menulis bahwa saya ingin pergi. Roy merasa bahwa sayalah yang membocorkan hal ini – bukan saya, bahkan saya tidak ingin pergi – dan kamipun berselisih

- Kevin Gallacher

Di masa modern, media akan menjelaskan fenomena ini sebagai ‘losing the dressing room’ atau kehilangan kontrol di kamar ganti. Ini adalah sebuah label yang kontroversial, dan sering dibantah oleh manajer yang dituduh. “Orang-orang berkata saya kehilangan kamar ganti,” ucap Ian Holloway setelah masa-masa berat dalam upaya membawa Crystal Palace promosi, menambahkan dengan humor khasnya: “Tapi saya tahu di mana lokasinya. Turun dari koridor, lalu ke sebelah kiri.”

Jadi apa sebenarnya makna dari kehilangan kontrol di kamar ganti, dan apakah fenomena ini memang benar-benar terjadi?

“Saya bisa pastikan bahwa ini memang terjadi,” jelas asisten manajer St. Mirren dan penulis, David Farrel, yang sudah menjadi saksi kejadian semacam ini tidak hanya sekali tapi dua kali – sebagai pemain, dan kemudian sebagai pelatih tim utama di Notts County. “Kehilangan kontrol di kamar ganti adalah ketika manajer kehilangan rasa hormat dari pemain; saat pemain tidak lagi percaya dengan apa yang dikatakan manajer, atau ke arah mana mereka bergerak.”

Biasanya ada satu hal umum yang menjadi penyebab seorang manajer kehilangan kontrol di ruang ganti: hasil-hasil yang buruk.

“Jika Anda menang, Anda bermain, dan Anda bahagia, maka Anda akan menganggap sang bos melakukan pekerjaan yang hebat,” ucap mantan strker Inggris dan komentator BT Sport saat ini, Michael Owen, kepada FFT. “Jika Anda tidak menang, Anda mungkin sedang makan malam dan seseorang berkata: ‘Apa yang ia lakukan hari ini? Mengapa ia memilih dirinya? Mengapa kita bermain dengan taktik seperti ini? Begitu Anda kehilangan rasa hormat ke sang manajer, maka semua masalah mulai membesar.”

Gerard Houllier, Michael Owen

Owen menikmati karier sepakbola terbaiknya di bawah asuhan Gerard Houllier di Liverpool

Ini situasi yang bisa mempengaruhi bahkan manajer yang paling dihormati sekalipun. Roy Hodgson, misalnya, telah memenangi tujuh gelar liga utama Swedia, membawa Swiss ke 16 besar di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, dan membawa raksasa Italia, Inter, ke final Piala UEFA sebelum datang ke Blackburn Rovers di tahun 1997.

Setengah perjalanan musim pertamanya sebagai manajer, Rovers berada di posisi kedua Premier League. Blackburn kemudian finis di posisi 6, yang mana cukup bagus, dan lolos ke Eropa. Namun pada bulan November di musim keduanya mereka berada dekat dengan degradasi dan atmosfir di dalam ruang ganti pun berubah. Menolak untuk mundur, manajer Inggris di masa mendatang ini pun harus dipecat.

Hodgson menyalahkan sebagian masalah ini ke Tim Sherwood, setelah sang kapten digagalkan untuk pindah ke Tottenham di awal musim. “Ia menjadi tidak puas dengan klub dan segalanya di sekitarnya,” jelas Hodgson kemudian. “Ketidakpuasannya menyebar ke pemain lain. Orang-orang ini tidak punya karakter yang cukup kuat untuk melawan seseorang yang selalu menemukan sesuatu yang salah di banyak hal.”

Tim Sherwood, Roy Hodgson

Gaya kepelatihan Hodgson ala Eropa membuatnya berselisih dengan kapten dan para pemainnya

Meski begitu, Kevin Gallacher, salah satu anggota skuat Blackburn saat itu, memberikan kritik ke arah sang manajer. “Penting untuk memastikan pemain besar berada di sisi Anda,” ucap orang Skotlandia ini ke FFT. “Biasanya sang kapten, karena ia adalah pemimpin para pemain. Di kursus kepelatihan sekarang mereka mengajarkan tentang sisi psikologis hal ini juga.”

“Anda bisa merasakan jika terjadi sesuatu di kamar ganti. Para pemain mengeluh dan saling menyalahkan. Musim panas itu Roy membawa pemainnya sendiri dan membuat beberapa orang tidak nyaman. Semuanya merasa khawatir dan mereka tidak berkonsentrasi penuh ke sepakbola lagi. Saat para pemain baru tidak mendapatkan hasil seperti pemain lain dapatkan sebelumnya, pertanyaan pun muncul.”

Cara melatih Hodgson juga menjadi sasaran. Ia sangat mengandalkan sisi taktis, secara rutin menghentikan sesi latihan untuk mengeluarkan ide-idenya, dan hal ini membuat pemain-pemainnya menggigil kedinginan di musim dingin Lancashire.

“Roy memperkenalkan sistem Italia untuk latihan di klub, tapi lingkungannya lebih dingin dibandingkan Italia,” jelas Gallacher. “Kami terbiasa untuk melakukan lima lawan lima dan berlatih sambil tersenyum. Yang ia bawa adalah mentalitas Eropa, di mana Anda tersenyum sebelum dan sesudah latihan, tapi saat berlatih maka Anda sedang bekerja. Sulit bagi kami untuk melakukan ini.”

“Kemudian ada momen, di akhir kepemimpinan Roy di klub, saat seorang wartawan menulis bahwa saya ingin pergi. Roy merasa bahwa sayalah yang membocorkan hal ini – bukan saya, bahkan saya tidak ingin pergi – dan kamipun berselisih. Saya masih tetap memberikan 100 persen. Dan ia tidak pernah mengeluarkan saya dari tim. Mungkin masalah yang muncul adalah saat pemain yang tidak ingin bermain untuk seorang manajer biasanya berakhir cedera. Mereka selalu mengalami cedera jadi tidak akan bermain.”