Kisah

Ketika Manchester City Masih Klub Kasta Rendah: Cerita Musim 1998/99 yang Mengubah Takdir Klub

Manchester City Gillingham 1999

City saat ini mungkin telah menjadi raksasa sepakbola dan tim favorit untuk juara di Premier League lagi musim ini, tetapi dua dekade lalu mereka berada di divisi ketiga – dan bisa saja tenggelam ke kasta yang lebih rendah

We are part of The Trust Project What is it?

Ada banyak momen yang ‘mengubah takdir’ di sepanjang sejarah sepakbola Inggris. Bagaimana jika hakim garis asal Azerbaijan, Tofiq Bahramov memutuskan bahwa peluang Geoff Hurst tidak gol di Piala Dunia '66? Apa yang akan terjadi jika Stuart Pearce mencetak gol penalti Panenka ke gawang Bodo Illgner di Piala Dunia Italia ´90? Bagaimana jika Mark Robins tidak mencetak gol ke gawang Nottingham Forest pada tahun 1990 dan Manchester United memecat Alex Ferguson?

Semua skenario tersebut tentu akan menghasilkan sebuah dunia yang sangat berbeda, karena butterfly effect atau dampak yang menjalar yang mungkin terjadi. Namun, hanya sedikit momen yang bisa saja menghasilkan perbedaan yang jauh lebih besar bagi dunia sepakbola secara lebih luas daripada kejadian di Wembley pada 30 Mei 1999.

Dengan waktu pertandingan sudah menginjak 94 menit dan Manchester City sedang tertinggal 2-1 dari Gillingham di final Play-off Second Division, bola yang dioper jauh ke arah depan, jatuh di depan Paul Dickov. Pemain penuh nyali asal Skotlandia ini – yang dijuluki 'the Crocus' oleh manajernya, Joe Royle, setelah performanya naik di akhir musim – kemudian sukses mencetak gol untuk timnya. Gillingham yang terpuruk karena gol dramatis itu kemudian hancur di babak adu penalti.

Dunia Alternatif

Tapi bagaimana seandainya Dickov gagal mencetak gol?

"Manchester City berantakan," kata Royle kepada FourFourTwo. “Saya benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada klub jika kami tidak segera keluar dari divisi itu. Saya tidak yakin akan ada tahun depan (kesempatan lain). ”

Penjaga gawang Nicky Weaver, yang menyelamatkan dua penalti pada babak adu penalti, juga setuju. "Siapa yang tahu di mana kita akan berakhir jika Dicky tidak mencetak gol penyama kedudukan itu," katanya kepada FFT. “Lihat saja apa yang terjadi pada Leeds. Segalanya pasti tidak akan lebih mudah. City adalah klub sinetron dan setiap pertandingan adalah final untuk lawan kami. ”

Dan Christie McDonald, penggemar City, berpikir kalau mereka akan habis.

 “Orang-orang berkata, 'Oh, jika City tidak promosi tahun itu, kami akan melakukannya pada musim berikutnya',” dia menjelaskan. "Tapi saya tidak setuju. Saya tidak berpikir semuanya akan baik-baik saja jika gol Dickov tidak masuk. Hal itu (promosi) tidak akan terjadi setahun kemudian. Orang-orang telah berada di titik kesabaran terakhir – ketinggalan 2-0 di Wembley menjelang injury time, dan banyak berkata, 'Cukup, saya sudah selesai dengan City'. Saya yakin bahwa kepindahan ke Commonwealth Stadium tidak akan terjadi dan Maine Road benar-benar berantakan. Para pendukung memberikan dukungan yang fantastis pada musim itu, tetapi itu tidak akan berlanjut.”

Lalu apa yang akan terjadi seandainya tidak ada gol penyama kedudukan Dickov atau aksi penyelamatan penalti Weaver? Mungkin klub ini akan bangkrut dan tidak akan ada lagi Manchester City. Tapi yang pasti tidak akan ada revolusi besar, tidak ada Sheikh Mansour, tidak ada "AGUEROOOOOO!", dan tidak ada gelar juara yang penuh dengan rekor di Premier League musim lalu.

“Orang-orang melihat kembali pada hari-hari itu dengan tatapan optimisme dan berkata, 'Itu lucu, bukan?'” tambah McDonald. "Tapi tidak. Tidak, itu tidak lucu. Itu pengalaman yang mengerikan. Itu mengerikan. Itu sampah. Klub dijalankan dengan menggelikan, hubungan antara penggemar dan pemain itu sangat-sangat buruk, dan suasananya mengerikan. Saya membencinya. ”

Begitulah cara City lolos dari sebuah momen yang menentukan dan membuka peluang menuju masa depan yang lebih baik.

Oh, Pollocks

Puncak dan titik nadir The Blues terlihat jelas, dan entah bagaimana memuaskan, dalam dua dekade terpisah. Pada bulan April 2018, City, sekarang adalah klub dengan keuangan paling kuat di dunia olahraga yang dipimpin oleh manajer yang paling dikagumi dan dipenuhi oleh beberapa bintang top dunia, meraih gelar dengan keren. Kembali ke April 1998, klub berada pada titik kehancuran terendah.

Dalam pertandingan kedua terakhir dari Divisi One musim itu, melawan QPR di Maine Road, Jamie Pollock mencetak salah satu gol bunuh diri yang paling memilukan sepanjang masa (sundulan kepala melewati kipernya). Pertandingan berakhir dengan skor 2-2, dengan poin yang cukup untuk membuat QPR tidak terdegradasi. Para pendukung mereka membajak jajak pendapat online untuk menyebut Pollock sebagai manusia paling berpengaruh di milenium terakhir. “Saya mengalahkan Yesus di tempat kedua,” kenangnya.

City menang 5-2 di Stoke pada pertandingan terakhir, tetapi itu tidak cukup. Terdegradasi ke divisi ketiga untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka adalah memalukan dan chairman Francis Lee mengundurkan diri selama musim yang mengerikan itu.

Bek Richard Edghill telah hidup selama bertahun-tahun untuk bermain dan berubah. “Kami memiliki banyak manajer dan masing-masing memainkan gaya yang berbeda dan membawa pemain mereka sendiri,” katanya. “Saya pikir pada saat Joe Royle tiba, ada 54 pemain profesional. Itu tidak ideal ketika Anda hanya dapat menempatkan 11 pemain di lapangan – Anda tidak bisa membuat 54 orang senang.”

'Pemain asing yang tidak menyukai malam Selasa yang basah di Stoke' telah dipanggil, Kinkladze berkemas untuk Ajax. Juga yang keluar dari klub ada Paul Beesley, David Morley, Martin Phillips, Scott Hiley, Ian Brightwell, Kit Symons dan Nigel Clough. Sedangkan yang datang ada Danny Tiatto, Ian Bishop dan anak muda Danny Allsopp. Royle ditinggalkan dengan tim yang penuh pekerja keras yang dia yakini bisa melakukan pekerjaan baik pada divisi ini.

Hari pembukaan menunjukkan dia benar. Lebih dari 30.000 orang masuk ke Maine Road – kehadiran divisi ketiga tertinggi selama lebih dari 20 tahun – untuk melihat City menghajar Blackpool 3-0. Kiper muda, Weaver, khususnya tampak seperti bintang masa depan.

"Royle membersihkan tim dan untungnya dia melihat sesuatu dalam diriku," kenang Weaver. “Saya baru 19 tahun, jadi bermain di Second Divisin baik-baik saja untuk saya. Suasana di ruang ganti sangat buruk ketika kami terdegradasi, tapi cukup kondusif pada tahun itu – perpaduan yang baik antara para pemain pemuda dan pemain berpengalaman. ”

Namun, City segera tertahan. Seri dengan Wrexham, Notts County (yang mereka bantai 7-1 di Piala Liga beberapa hari sebelumnya), Chesterfield, Northampton, Millwall dan Burnley diikuti dengan kekalahan 1-0 di kandang Preston. "Kami butuh beberapa waktu untuk padu," ucap Royle. “Kami perlu mencari jalan keluar, tetapi setiap kali Anda terdegradasi selalu ada masa limbung. Sulit untuk memulai ketika Anda mengalami kekecewaan. Kami tidak seburuk itu, tapi ada banyak hasil seri.

“Kami juga merupakan sebuah klub besar untuk semua orang dan itu menjebak kami. Tim datang untuk bermain di lapangan besar ini dan mereka sering membawa lebih banyak pendukung ke Maine Road daripada ketika mereka main di kandang. Para pendukung lawan menikmati setiap momen berada di Manchester, seperti bermalam dan pergi ke pertunjukan! Dan kemudian tim mereka bermain dengan baik. Itu adalah fenomena aneh.”