Kisah

Kisah Kalinic di Piala Dunia 2018: Datang, Membangkang, Pulang

Datang ke Rusia, Mario Mandzukic tak pernah mengira bahwa timnya, Kroasia, bisa melangkah jauh hingga ke babak final. Ia paham bahwa Kroasia saat ini memang dipenuhi sejumlah pemain berkualitas, namun Mandzukic melihat ada negara lain yang lebih berpengalaman sekaligus punya skuat lebih mentereng. Karena itu sejak awal, ia mencoba realistis dengan berencana untuk setidaknya bisa bermain bagus dan tak membikin malu negara. Hanya itu.

We are part of The Trust Project What is it?

Ivan Perisic, rekan Mandzukic, juga merasa demikian. Begitu pula dengan sejumlah pemain Kroasia lain. Pelatih mereka, Zlatko Dalic, bahkan sejak Kroasia mencapai babak perdelapan final saja sudah merasa tak percaya. Apalagi babak final.

Singkat kata, banyak yang tak mengira Kroasia bisa melangkah sejauh ini. Termasuk Nikola Kalinic yang barangkali tengah menyesal sejadi-jadinya atas sikap yang ia tunjukkan beberapa waktu lalu.

Datang, Membangkang, Pulang

Nikola Kalinic mendapat panggilan tim nasional Kroasia usai menjalani musim yang sebetulnya biasa saja di AC Milan. Dalam 31 penampilan di Serie A, ia hanya mampu membikin enam gol, jumlah yang terbilang rendah untuk ukuran seorang penyerang. Lebih dari itu, jumlah tersebut masih kalah dengan Bonaventura, rekannya di AC Milan yang berposisi sebagai pemain tengah.

Tapi pelatih Zlatko Dalic punya rencana lain menyangkut Kalinic. Dengan tubuh tinggi menjulang serta gaya bermain yang benar-benar menggambarkan seorang penyerang nomor sembilan, Kalinic bisa menjadi alternatif bagi strategi Dalic, sebab dua penyerang lainnya, Mandzukic dan Andrej Kramaric, gemar bergerak ke sana-sini. Mandzukic biasa bermain melebar, sementara Kramaric lebih pas jika dimainkan sebagai penyerang lubang. Karena itulah ia masih dipanggil.

Kalinic sendiri sebetulnya punya kualitas yang lumayan oke. Saat masih di Fiorentina, tim yang ia bela sebelum AC Milan, jumlah golnya selalu mencapai dua digit. Pada musim 2015-16, ia mencetak total 12 gol di Serie A dari 36 kali penampilan. Sementara musim berikutnya, 2016-17, ia membukukan 15 gol dari 32 penampilan saja.

Di tim nasional Kroasia pun, statistiknya tak bisa dibilang buruk. Ia 41 kali mendapat kesempatan bermain dan dari sana mampu mencetak 15 gol. Maka pada titik tertentu, pemanggilan sang pemain untuk ikut ke Rusia bisa dipahami. Lebih-lebih, selain dia rasanya tak ada penyerang Kroasia lain yang saat ini tengah menonjol dan layak untuk menemani Mandzukic dan Kramaric.

Kaliningrad Stadium, 17 Juni 2018, Kroasia mulai mengawali kiprah mereka. Yang menjadi lawan saat itu adalah Nigeria. Subasic berada di bawah mistar gawang, diapit oleh Vida dan salah satu bek terbaik dunia (hehe), Dejan Lovren. Dua sisi bek sayap diisi Vrsaljko dan Strinic. Sementara lini tengah ditempati nama-nama tenar macam Ivan Rakitic dan Luka Modric yang menopang Andrej Kramaric, Ante Rebic, Ivan Perisic, dan Mario Mandzukic, di lini depan.

Laga berjalan alot pada 20 menit pertama. Kedua tim terlihat hati-hati dalam melancarkan serangan sehingga jarang sekali terlihat adanya peluang membahayakan. Sampai kemudian… ‘bang..!’, Etebo, pemain Nigeria mencetak gol ke gawang sendiri setelah gagal mengantisipasi tandukan Mandzukic. Kroasia 1, Nigeria 0, dan ini bertahan hingga babak pertama usai.

Babak kedua, Nigeria terlihat lebih berbahaya dengan menghasilkan sejumlah peluang. Namun, justru Kroasia yang akhirnya mendapat keuntungan. Dalam situasi tendangan sudut, seorang pemain Nigeria menghentikan pergerakan Mandzukic yang oleh wasit dianggap sebagai pelanggaran sehingga berbuah penalti. Modric kemudian maju sebagai eksekutor dan tentu saja berhasil menuntaskan tugasnya dengan baik. Kroasia 2, Nigeria 0. Skor ini berakhir hingga laga tuntas. Kroasia menang.