Kisah Kepergian Paul Pogba dari Manchester United dan Penyesalan Seorang Ferguson

Ia mengambil langkah berani ketika meninggalkan Manchester United untuk berkembang bersama Juventus. Evans Simon melihat kembali polemik Pogba dan Sir Alex Ferguson di United, dan bagaimana ia kembali sebagai pemain yang berbeda musim panas ini...

Manchester United pernah memiliki skuat generasi muda yang menjanjikan pada tahun 2011. Mereka menjuarai Piala FA Junior. Beberapa namanya, adalah Michael Keane, Tom Thorpe, Ryan Tunnicliffe, Ravel Morrison, Sam Johstone, Will Keane, Jesse Lingard, dan tak terkecuali Paul Pogba. Perlu diketahui, mereka adalah yang kali pertama membawa United menjuarai kejuaraan tersebut sejak 2003. Mereka juga merupakan angkatan skuat terakhir yang berhasil hingga saat ini.

Yang cukup menyedihkan, tidak banyak pemain generasi tersebut yang berhasil melanjutkan kesuksesannya ke level senior. Thorpe, sang kapten, saat ini berada di Rortherham United. Tunnicliffe juga berada di Championship bersama Fulham. Sedangkan, Michael Keane baru saja berhasil membawa Burnley promosi ke Premier League. Morrison tengah menjalani karier yang tak begitu bagus bersama Lazio. Praktis, hanya Will Keane, Tyler Blackett, Johstone, dan Lingard yang tetap dimiliki oleh Man. United hingga saat ini. Itu pun, hanya nama terakhir yang mampu menembus tim utama, sejak musim 2015/16.

Paul Pogba

Bakatnya sudah terlihat sejak bergabung dari akademi Le Havre

Pogba berbeda. Tidak seperti rekan-rekannya, ia mengambil keputusan untuk keluar dari zona nyaman. Ia memilih untuk berlabuh di Italia, bergabung bersama Juventus

Pogba berbeda. Tidak seperti rekan-rekannya, ia mengambil keputusan untuk keluar dari zona nyaman. Ia memilih untuk berlabuh di Italia, bergabung bersama Juventus. Di bawah arahan pelatih Antonio Conte, ia berkembang menjadi salah satu gelandang muda paling disorot oleh penggila sepak bola dunia. Ia turut berperan penting ketika Massimiliano Allegri membawa Juventus menjadi finalis Liga Champions 2014. Total, empat scudetto dan dua titel Coppa Italia ia koleksi. Ia juga menjadi tulang punggung tim nasional Prancis.

Di luar lapangan, Pogba pun menjadi ikon berbagai merek ternama. Ia muncul di berbagai iklan produk. Ia dianggap sebagai salah satu pemain sepak bola paling menjual. Tak aneh jika kemudian kepindahannya yang memecahkan rekor transfer dunia tersebut sampai dibuatkan iklan sendiri.

Penyesalan Sir Alex

Legenda Man United, Rio Ferdinand, pernah mengatakan bahwa sebenarnya yang paling bertalenta di angkatan tersebut adalah Morrison. Tetapi, yang paling disesali kepergiaannya oleh manajer Sir Alex Ferguson adalah Pogba.

Sejak didatangkan dari akademi Le Havre pada 2009, Pogba sejatinya sudah merupakan salah satu mutiara yang betul-betul dijaga oleh Sir Alex Ferguson. Ia diproyeksikan untuk mengisi lini tengah skuat Setan Merah, jika memang waktu yang ditentukan sang manajer telah tiba. Hal terakhir inilah yang tak disukai Pogba.

Semua memuncak di partai Premier League pada Desember 2011. Menghadapi Blackburn Rovers di Old Trafford, kubu tuan rumah kalah dengan skor 3-2. Ferguson menurunkan Park Ji-sung dan Rafael sebagai gelandang pada hari itu.

“Paul Scholes sudah pensiun dan Darren Fletcher mengalami cedera. Tidak ada lagi yang bisa bermain di lini tengah,” beber Pogba. “Dan, kemudian malah Rafael yang bermain sebagai gelandang. Aku tidak dapat memahaminya dan aku merasa dipermalukan.”

Satu pekan kemudian, Paul Scholes kembali dari masa pensiun dan membuat Pogba semakin terpinggirkan.

Paul Pogba

Ia merasa dipermalukan ketika Sir Alex lebih memilih Rafael sebagai gelandang

Pogba memilh untuk tidak memperpanjang kontraknya yang berakhir pada pengujung musim 2011/12. Atas sikapnya tersebut, ia dihukum oleh Ferguson. “Kami, bersama dengan saudara lelakinya, menyepakati bahwa ia tidak akan menandatangani kontrak baru. Ferguson lalu menghukumnya. Ia tidak memainkannya. Paul merasa kesepian. Ia bahkan menangis di kantor Ferguson karena caranya diperlakukan,” beber ibu Pogba, Yeo Moriba.

Pelatih mengatakan ia memiliki kepercayaan terhadapku, tetapi tidak memainkanku. Ia mengatakan bahwa aku terlalu muda. Ia mengatakan waktuku akan tiba, tetapi tak kunjung tiba

- Paul Pogba

Pemain berumur 23 tahun tersebut telah berkali-kali menyatakan kekecewaannya terhadap Ferguson secara terbuka di media.

"Aku sudah tidak sabar. Ada banyak hal yang tidak kalian dengar. Aku sama sekali tidak menyesali keputusan tersebut. Aku belajar banyak hal di sana, tetapi anda harus menjadi diriku untuk memahami keputusanku,” ujar Pogba seperti yang dikutip oleh BBC. “Ini adalah tentang perasaanku dengan (Ferguson). Pelatih mengatakan ia memiliki kepercayaan terhadapku, tetapi tidak memainkanku. Ia mengatakan bahwa aku terlalu muda. Ia mengatakan waktuku akan tiba, tetapi tak kunjung tiba.”