Kisah

Kisah Luar Biasa Naby Keita: Pemuda yang Ditolak Lorient dan Kini Menjadi Salah Satu Bintang Liverpool

Perjalanan dari Guinea ke Prancis sebagai pesepakbola remaja membawa banyak kisah penolakan, kemunduran dan tantangan - namun rekrutan anyar Liverpool ini terus berjuang menghadapi itu semua, seperti yang dikisahkan oleh Michael Yokhin

We are part of The Trust Project What is it?

Hal yang paling luar biasa tentang Naby Keita adalah keserbagunaannya. Dalam kasusnya, keserbagunaan bukan berarti kemampuan untuk mengisi sejumlah posisi, tetapi lebih mengacu pada kesulitan dalam menggambarkan perannya di lapangan. Keita ada di mana-mana, dan ia membawa beragam kualitas ke setiap bagian di dalam lapangan. Dia bukan gelandang bertipe box-to-box, ia lebih cocok dikategorikan sebagai playmaker, pemain sayap dan perusak – secara bersamaan.

Pemain berusia 23 tahun ini bermain seperti pesepakbola jalanan. Dia tidak pernah belajar di akademi atau memiliki pelajaran taktis sebelum pindah ke Eropa. Bahkan, itu sebabnya dia sangat kesulita dalam upaya  memenuhi impiannya sejak awal berkarier. Dillain sisi, bakatnya dalam mengolah si kulit bundar tak bisa disepelekan (ia dijuluki 'Deco' saat masih kecil), beberapa pelatih tidak menganggapnya sebagai seorang profesional yang memiliki potensial karena ia tidak memahami istilah sepakbola secara luas. Bagi Naby muda, kata-kata instruksional itu adalah jargon yang misterius.

Itulah yang terjadi ketika Keita mencoba bergabung dengan Lorient saat berusia 16 tahun. Orang tuanya takut membiarkan remaja itu melakukan perjalanan yang panjang, tetapi dia memiliki rekomendasi yang bagus. Pascal Feindouno, pencetak gol terbanyak sepanjang masa di tim nasional Guinea yang juga menjadi idola bagi Keita, dulu sempat bermain untuk klub Prancis dan memberi tahu mereka untuk melihat keajaiban sensasional ini. Namun, ia terpaksa pulang dengan kekecewaan; Lorient mengatakan kepadanya bahwa dia tidak cukup baik.

Perhentian berikutnya bahkan lebih traumatis kisahnya. Le Mans sebenarnya menaruh kepercayaan pada Keita; tidak mengherankan mengingat rekam jejak mereka dalam membesarkan bintang-bintang Afrika, termasuk Didier Drogba. Namun, ketika gelandang ini berpikir kalau usahanya akan membuahkan hasil, ternyata klub itu menuju kebangkrutan.

BALDE SANG PENYELAMAT

Namun, Keita menolak untuk menyerah. Dia tinggal di Prancis untuk mengambil bagian dalam turnamen amatir yang diselenggarakan oleh mantan bek Celtic, Bobo Balde, yang juga pernah mewakili Guinea meskipun ia lahir di Marseille. Keikutsertaannya dalam turnamen ini terbukti sangat penting. Keita dilirik oleh tim sepakbola Istres, yang mendapat saran dari beberapa rekanan di Le Mans. Mereka terkesan dengan permainan yang dilakukan Keita muda. Dirinya segera diberi kontrak tiga tahun dan mulai bermain untuk klub divisi dua itu pada November 2013.

Dari sana, ia membutuhkan waktu sekitar tiga tahun (dan dua langkah) untuk menjadi salah satu gelandang yang paling banyak dibicarakan dan dicari di Eropa. Kebangkitan itu berlangsung cepat, dan sebagian kredit harus diberikan kepada Jerome Leroy.

Relatif tidak dikenal di luar Prancis, Leroy dikenang sebagai maverick berkepala panas sebagai pemain. Itulah mengapa karirnya tidak berkembang seperti yang diharapkan di Paris Saint-Germain atau Marseille, tetapi Leroy terus bermain hingga usia 40 tahun, dan menjadi lebih bijaksana seiring waktu berlalu. Itu sebabnya dia suka mengambil debutan di bawah asuhannya, dan Keita - yang saat itu kurang dari setengah usia mentor barunya – mendengarkan nasihat yang diberikan.