Kisah

Kisah Luar Biasa Naby Keita: Pemuda yang Ditolak Lorient dan Kini Menjadi Salah Satu Bintang Liverpool

We are part of The Trust Project What is it?

"Jerome memberi saya banyak nasihat dan mengajari saya bahwa perlu bekerja keras untuk memenuhi potensi saya. Saya sering memikirkan hal itu," Keita berkomentar setelah dia pindah dari Istres ke Red Bull Salzburg.

RED BULL MEMBERINYA SAYAP

Pemain asal Guinea ini telah bermain dengan sangat apik di Istres, tetapi, itu tidak dapat mencegah mereka dari terdegradasi ke divisi ketiga pada tahun 2014. Dia mungkin akan tetap bertahan di klub itu jika Istres tak terdegradasi, tetapi sekarang ia harus pindah. Gerard Houllier datang untuk menyelamatkannya. Mantan manajer Liverpool itu bekerja sebagai konsultan klub Austria pada saat itu, dan - setelah mengamati Ligue 2 dari dekat – ia sangat merekomendasikan Keita.

Mencari bakat dengan cara yang unik adalah spesialisasi dari Red Bull. Tim sepakbola ini mungkin dikritik karena mendirikan klub ‘buatan’, tetapi, rencana bisnis mereka sebenarnya mengesankan. Mereka memberi peluang kepada pemain-pemain yang mungkin akan terlupakan dalam keadaan lain. Sadio Mane, yang ditandatangani oleh Red Bull Salzburg pada tahun 2012 dari Metz setelah mereka terdegradasi ke divisi ketiga di Prancis, adalah contoh yang sangat bagus.

Ketika Keita bergabung dengan penyerang Senegal itu dua tahun kemudian, mereka menjadi teman dekat, meskipun waktu bermain bersama keduanya terbatas hanya untuk beberapa minggu dibadingkan satu musim penuh.

Mane dijual ke Southampton, tetapi Keita berhasil melewati klub-klub Red Bull. Musim pertamanya di Salzburg tidak berjalan konsisten karena dia diposisikan terlalu dalam, tetapi musim keduanya sangat luar biasa, ia mencetak 12 gol, memberi sembilan assist dan kontribusi pertahanan yang luar biasa. Pelatih segera mengerti bahwa membatasi Keita ke posisi yang ketat adalah kontraproduktif. Dia harus menggunakan instingnya sebagai pesepakbola jalanan untuk terlibat dimanapun dia suka.