Kisah

Kisah Suporter Sriwijaya FC yang Penuh Polemik

Sementara laju klubnya di kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia cukup mulus, tidak demikian dengan perjalanan para suporternya di tribun stadion....

We are part of The Trust Project What is it?

Sepak bola di Sumatera Selatan saat ini sudah sangat menggeliat, apalagi jika dibandingkan dengan 12 tahun yang lalu. Hal ini terjadi tak lain dan tak bukan lantaran hadirnya Sriwijaya FC sebagai klub yang mewakili Sumatera Selatan di kancah tertinggi persepak bolaan nasional.. Gairah sepak bola Sumatera Selatan semakin hidup dengan ingar bingar prestasi yang diberikan oleh Laskar Wong Kito sejak berdirinya klub ini.

Meriahnya sepak bola di Bumi Sriwijaya pun berimbas pada lahirnya basis-basis pendukung Sriwijaya FC. Beberapa kelompok suporter kecil yang terkoordinir sering berdatangan ke Stadion Jakabaring saat Sriwijaya FC bermain. Kelompok-kelompok kecil ini pun akhirnya membesar dan membentuk suatu wadah suporter yang lebih terkoordinasi.

Kelompok supprter pertama yang lahir adalah Sriwijaya Mania pada tahun 2004. Saat itu, istilah ‘Mania’ memang begitu populer di sepak bola Indonesia. S-Man pun tak ketinggalan dan mengadopsi istilah ini untuk nama mereka. Sebagai kelompok suporter yang maniak (menggilai klubnya), kegiatan mereka pun tak lepas dari memberikan dukungan kepada Sriwijaya FC.

Berbagai rintangan mereka lalui sebagai kelompok suporter besar pertama Sriwijaya FC, hingga pada akhirnya mereka harus mengalami pergolakan internal organisasi pada tahun 2005. Masalah yang berujung pada pertikaian antar anggota Sriwijaya Mania pun mulai menyeruak ke publik. Masalah sensitif ditenggarai menjadi penyebab memanasnya hubungan antara anggota Sriwijaya Mania.

Pecah dan lahirlah Sriwijaya Mania Sumsel dan Singa Mania

Tensi panas di internal S-Man yang disinyalir akibat tak transparannya aliran dana di tubuh organisasi membuat beberapa kelompok terpecah. Beberapa sepakat untuk membentuk organisasi baru dan salah satunya adalah Sriwijaya Mania Sumsel alias SMS. Kelompok baru ini mengambil tempat di tribun timur Stadion Jakabaring.

Sriwijaya Ngamuk Mania atau yang dikenal dengan Singa Mania juga lahir dari buah perseteruan antar anggota Sriwijaya Mania. Singa Mania mudah dikenali, karena memilih warna hijau yang menurut mereka merupakan warna asli klub ini. Memilih mendukung Sriwijaya FC di tribun utara, Singa Mania ternyata juga alami perpecahan anggota. Tak jelas apa yang menjadi penyebabnya. Mereka yang tak puas lalu membentuk kelompok suporter baru, yakni Singa Mania Indonesia alias Simanis.

‘Perpecahan’ organisasi suporter Sriwijaya FC pada akhirnya tak hanya memberikan imbas di dalam stadion saja. Bahkan sebuah bentrok antara oknum anggota S-Man dan SMS terjadi di sebuah konser musik di Jakabaring pada tahun 2007. Belakangan, pasca bentrok tersebut, Sriwijaya Mania memilih bubar.

Simanis berdiri

Simanis yang lahir pada medio 2007, memilih jalan mendukung Sriwijaya idealisme ala ultras. Karenanya, mereka juga dikenal dengan sebutan Simanis Ultras Palembang. Pada masa awal terbentuknya Simanis, mereka selalu tampak menyatu dengan SMS. Namun, Simanis Ultras Palembang terlihat lebih dominan dengan gaya dukungan mereka yang berkiblat ke Eropa.

Akan tetapi, Simanis juga tak akur dengan Singa Mania. Beberapa kali mereka alami perbedaan pandangan. Bahkan mereka juga kerap tak akur di dalam maupun di luar stadion. Di tengah konflik tersebut, SMS memilih berpisah dengan Simanis dan pindah ke tribun selatan. Bahkan SMS pun menghidupkan kembali kelompok suporter legendaris, Sriwijaya Mania, dengan menghilangkan kata-kata Sumsel di belakang. Tak mengherankan, karena SMS memang banyak diisi beberapa pentolan Sriwijaya Mania angkatan pertama. Sriwijaya Mania pun dibangkitkan kembali dan memilih mengurus organisasinya sendiri, lepas dari sistem koalisi dengan Simanis.

Meski selalu tak lepas dari intrik dan konflik, namun dukungan mereka kepada Sriwijaya FC tak pernah berhenti. Kefanatikan semua kelompok supproter Bumi Palembang dengan Sriwijaya FC sudah dibuktikan dengan selalu berangkatnya kelompol-kelompok pendukung Sriwijata FC ke kandang lawan.

Beladas, pemersatu suporter Sriwijaya FC

Upaya-upaya penyatuan kelompok suporter Sriwijaya FC terus diupayakan oleh para petinggi kelompok suporter dan juga manajemen klub. Pada tahun 2011, dua kelompok suporter Sriwijaya yaitu Sriwijaya Mania yang dipimpin Edy Ismail dan Simanis yang dipimpin Qusoi sepakat membentuk kelompok baru bernama Bela Armada Sriwijaya atau Beladas.

Beladas pun menjadi simbol persatuan kelompok Sriwijaya. Mereka memilih warna kuning, warna kebesaran Sriwijaya FC saat ini, sebagai identitas mereka. Sedangkan Singa Mania masih memilih hijau sebagai warna kebesaran kelompoknya, dan persoalan warna identitas ini pula yang membuat Singa Mania tak mau bergabung dengan Beladas.

Tapi lagi-lagi konflik terjadi. Beladas terpecah dan kelompok suporter tertua di Palembang, Sriwijaya Mania memilih untuk kembali aktif dan berdiri sendiri, lagi. Konflik yang terus terjadi membuat kelompok suporter Sriwijaya FC agak terpecah, tapi tak memengaruhi dukungan mereka sebagai pendukung setia Laskar Wong Kito.

Koreografi, dukungan penuh para pendukung Laskar Wong Kito

Sebagai pendukung yang mengikuti arus masa, maka koreografi juga menjadi bagian penting perjalanan para kelompok supporter Sriwijaya FC. Tak hanya melakukan koregrafi dengan keratas diiringin chant tradisional, tapi gaya kelompok suporter Eropa pun terkadang diikuti oleh mereka.

Dengan warna kebesarannya mereka, yakni hijau, Singa Mania pernah membuat koreo dengan tulisan SFC Day. Selain itu mereka juga pernah melakukan koreo 3D dengan menaikkan lambang Sriwijaya berupa burung rajawali dan pemain Sriwijaya FC berkostum hijau. Aksi menarik itu mereka lakukan di tribun utara, basis massa mereka.

Sedangkan di tribun selatan, Sriwijaya Mania dan Simanis juga tak ketinggalan memberikan koregrafi saat pertandingan. Jika Singa Mania memilih warna hijau, maka Sriwijaya Mania dan Simanis setia dengan warna Sriwijaya FC saat ini, yakni kuning. Maka, koreografi mereka pun tak lepas dari warna kuning.

Keduanya sangat memeriahkan Stadion Jakabaring saat Sriwijaya FC bermain. Dukungan total mereka kadang menjadi senjata yang ampuh dalam meneror lawan yang datang ke Jakabaring. Meski berbeda, tapi tujuan mereka tetap sama.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID