Klub-Klub yang Bisa Menjadi Contoh Manajemen Sepakbola yang Baik di Indonesia

Memiliki manajemen klub yang bagus adalah sebuah keharusan di era industri sepakbola saat ini. Lalu, klub mana saja yang memiliki manajemen klub terbaik di Indonesia saat ini?

Pada 2003, perusahaan susu lokal bernama Parmalat, yang merupakan perusahaan pemilik Parma, menumpuk utang hingga €14 miliar lebih. Itu menjadi pintu kebangkrutan Parma beberapa tahun setelahnya.

Parma sejatinya merupakan klub papan atas yang punya banyak prestasi. Prestasi-prestasi mayor yang pernah mereka raih di antaranya adalah tiga Coppa Italia, dua Piala UEFA, satu Piala Winners dan menjadi runner-up Serie A 1997, tepat di bawah Juventus yang menajdi juara. Tapi kejatuhan perusahaan pemilik mereka yang saya sebut sebelumnya membuat prestasi Parma terjun bebas setiap musimnya.

Gelar juara Piala UEFA terasa seperti mimpi

Pada awal 2007, pengusaha bernama Tommaso Ghirardi membeli Parma dengan mahar sebesar €30 juta. Pembelian ini sempat menghidupkan asa para fans dan pemain Parma untuk bangkit. Namun, sang pemilik baru ternyata tidak mampu mengurus Parma dengan cukup baik sehingga kembali terlilit utang. Nominalnya tak main-main, yaitu sebesar €200 juta euro.

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitulah yang dialami Parma. Selain terbelit utang yang cukup besar, Parma juga harus menerima kenyataan pahit bahwa pada akhir musim 2007/08, mereka terdegradasi ke Serie B karena hanya finis di urutan ke 19 klasemen Serie A. Prestasi terburuk setelah mereka mampu bertahan selama 18 musim di kasta tertinggi sepakbola Italia.

Tapi kejatuhan Parma tak lama. Semusim setelahnya, mereka sudah kembali mentas di Serie A. Bahkan, hebatnya lagi, mereka perlahan kembali menjadi tim yang disegani. Puncaknya adalah ketika mereka berhasil finis di urutan keenam Serie A musim 2013/14. Pada musim itu mereka berhasil mengumpulkan 58 poin.

Finis di urutan keenam mestinya membuat mereka mendapat tiket untuk tampil di Europa League. Tapi, mereka tak bisa mengambil kesempatan itu lantaran sudah beberapa bulan tak membayar pajak dan gaji beberapa pemain dan staf.

Hingga musim 2014/15 berjalan, terungkap bahwa para pemain dan staf tidak menerima gaji mereka sejak Juli 2014.

Tomaso Ghirardi, sempat memberikan harapan, tapi gagal menyelamatkan Parma dari kebangkrutan

Pada Maret 2015, Ghirardi dan direktur olahraga mereka sedang menjalani penyelidikan atas tindakan yang dianggap menjadi penyebab kebangkrutan klub. Pada penyelidikan inilah ditemukan fakta bahwa Parma telah dua kali dijual dengan harga hanya €1 kepada grup Rusia, Siprus Dastraso Holdings yang dipimpin Rezard Taci.

Ya, hanya €1 atau ketika itu senilai Rp14.500. Anda dan saya tentu dapat membeli klub itu, tapi dengan catatan, sang pembeli harus melunasi utang yang jumlahnya segudang.

Tapi, Taci dan rekannya merasa gagal dan kembali menjual Parma ke pengusaha lain, Giampietro Manenti. Harganya tetap sama: €1.

Parma akhirnya dinyatakan bangkrut dan turun ke Serie D, tiga tingkat di bawah kasta tertinggi Liga Italia.

Pentingnya Kemampuan Manajerial Bagi Sebuah Klub

Semua orang tahu, Parma merupakan salah satu keselebelasan papan atas di Serie A. Tapi fakta bahwa mereka kemudian terlilit utang besar dan mengalami krisis finansial membuat pamor dan prestasi mereka redup.

Memang benar faktor utama kebangkrutan Parma adalah masalah finansial. Tapi pangkal atau awal mula munculnya masalah finansial itu adalah kelalaian pemilik dan manajemen. Dengan kata lain, manajemen Parma ketika itu dapat disebut buruk.

Lantas, seperti apa manajemen yang tidak buruk? Apakah manajemen yang mampu menghasilkan sejumlah dana sehingga terbebas dari pajak dan utang?

Ya, jelas, tapi tak hanya itu. Untuk ukuran klub sepakbola, finansial yang baik tak menjadi satu-satunya indikator keberhasilan manajemen atau pengelola klub. Ada aspek atau indikator lain semacam pengelolaan tiket pertandingan, penyediaan infrastruktur, pembinaan tim usia muda, strategi perekrutan pemain, hingga pemasaran dan promosi klub.

Mempunyai bintang mahal adalah hal bagus, tapi tak mengatur keuangan dengan baik adalah bencana

Jika mengacu pada teori dalam ilmu ekonomi, manajemen yang baik salah satunya dapat diukur dari keberhasilan menerapkan POAC atau planning, organizing, actuating, dan controlling.  POAC sendiri merupakan prinsip yang banyak digunakan oleh kelompok kecil maupun besar dengan tujuan mengelola dan mengembangkan kelompok atau organisasi mereka.

Sepakbola sejatinya juga membutuhkan prinsip tersebut meski tidak serta-merta terlihat. Sebagaimana diketahui, sepakbola kini tak hanya sebatas pertandingan 90 menit di lapangan. Di era kontemporer seperti sekarang, sepakbola sudah berkembang dari yang hanya sebuah cabang olahraga untuk memuaskan hobi, menyehatkan tubuh, dan meraih prestasi, menjadi olahraga yang juga dapat menghasilkan keuntungan. Maka jelas, manajemen yang bagus sangat dibutuhkan.

Kedengarannya sangat rumit dan tak gampang, tapi memang begitulah faktanya. Bukankah untuk meraih tujuan memang tak ada yang gampang?

Di Indonesia, ada beberapa klub yang memiliki manajemen bagus. Saya coba memaparkan beberapa di antaranya.

Barangkali terkesan sok tahu, sebab saya sendiri mengakui, tak begitu tahu secara persis bagaimana ‘dalaman’ sebuah klub. Meski begitu, saya kira pembaca tak akan membantah mengenai kualitas manajemen klub-klub yang akan saya bahas di bawah.

Pages