Analisa

Lahirnya Formasi 3-5-2: Awalnya Diragukan Tapi Malah Menghasilkan Kesuksesan

Sumber: YouTube

Sempat diragukan di awal kelahirannya, formasi 3-5-2 membuktikan bahwa memasang tiga bek bukanlah sebuah langkah yang penuh resiko. Sepakbola modern pun tak kuasa membendung keampuhan formasi ini, seperti yang dituturkan oleh Renalto Setiawan...

We are part of The Trust Project What is it?

Menjelang Piala Dunia 1986, nasib Carlos Bilardo begitu dekat dengan pintu pemecatan. Bisikkan tidak mengenakkan selalu menghampiri telinganya. Dalam 15 pertandingan awalnya sebagai pelatih Argentina, ia hanya menang tiga kali. Ia pun mencari solusi untuk menyelamatkan kariernya. 

"Mereka (para wartawan) mengatakan bahwa saya melakukan kesalahan, mengenai komposisi tiga bek yang saya mainkan," kata Carlos Bilardo, mengenai solusinya itu.  "Tetapi saya katakan kepada mereka bahwa saya tidak ragu. Kami akan bermain dengan tiga bek, lima pemain tengah, dan dua orang penyerang." 

Bilardo di sini menjalaskan bahwa dia memasang tiga bek demi memenangi pertarungan di lini tengah

Bilardo benar. Para wartawan tidak tahu apa-apa. Mereka yang salah.

Dengan formasi tersebut Argentina membaik. Dalam tiga laga pemanasan, mereka selalu menang. Swiss dan Belgia dibungkam dua gol tanpa balas dan setelah mereka berhasil mengalahkan Jerman Barat, juara Piala Dunia 1954 dan 1974, dengan skor 3-1,  Bilardo menyadari bahwa formasi 3-5-2 memang yang terbaik untuk timnya. 

Agar tidak terus diamati oleh calon-calon lawan Argentina di Meksiko, tempat digelarnya Piala Dunia 1986,  Bilardo kemudian menyimpan formasi terbaiknya itu. Formasi 3-5-2 tersebut hanya akan digunakannya di pertandingan-pertandingan krusial.  Ia beralih ke formasi 4-3-1-2.

Bilardo baru benar-benar kembali memainkan formasi 3-5-2 di pertandingan perempat-final Piala Dunia 1986 melawan Inggris. Saat itu ia tidak mau menganggap remeh Inggris yang diperkuat oleh pemain-pemain hebat seperti, Glenn Hoddle, Gary Lineker, serta Peter Breadsly.

Menariknya, tidak hanya menerapkan formasi terbaiknya, Bilardo juga melakukan pendekatan khusus dalam pertandingan tersebut. Sementara Hector Enrique, Jorge Burruchaga, dan Sergio Batista akan memadati lini tengah, Diego Maradona, yang bermain sebagai salah seorang penyerang depan Argentina, diberi peran unik. Ia diminta untuk sering bergerak ke lini tengah. 

Tujuannya jelas: karena menghadapi para bek Inggris di dalam kotak penalti mereka sama saja cari mati, Bilardo ingin agar Maradona membuat bek-bek Inggris yang mengawalnya keluar dari zona nyamannya.  

Pada akhirnya, Argentina menang 2-1 dalam pertandingan itu, lolos hingga ke final, dan berhasil meraih gelar Piala Dunia. Sayangnya, banyak yang mengatakan bahwa keberhasilan Argentina tersebut terjadi berkat campur tangan Tuhan secara langsung.

Tuhan menjelma menjadi Maradona, mencetak gol dengan tangan ke gawang Inggris, mencetak gol kedua dengan cara menari-nari sambil mengerjai pemain-pemain Inggris di atas lapangan, dan meraih gelar Piala Dunia sendirian. Singkat kata, Argentina dianggap beruntung berhasil membawa pulang Piala Dunia. 

Lalu, benarkah seperti itu? Tanpa pendekatan taktik yang diterapkan oleh Bilardo, apakah hasil pertandingan melawan Inggris akan sama? Apakah Maradona akan tetap di-Tuhan-kan? Dan yang lebih jauh lagi, apakah Argentina mampu memenangi Piala Dunia tersebut? 

Pages