Liga Super Cina Semakin Banyak Dilirik Oleh Pemain Asing

Kekayaan dan kemakmuran dari Liga Super Cina semakin menarik bagi bintang sepakbola asing, tetapi Peter Davis memberikan analisisnya yang percaya bahwa menggunakan talenta lokal akan semakin memperkaya kekuatan sepakbola Cina itu sendiri...

Kekayaan Liga Super Cina mungkin menarik banyak bintang asing, tapi itu juga membuat pemain lokal merasa terperangkap dalam rasa nyaman dari kekayaan sepakbola Cina.
 
Isu penting untuk sepakbola Asia adalah bagaimana mengirim bakat-bakat terbaik mereka ke liga terbaik di luar negeri, dan bukan hanya sebagai alat untuk berjualan seragam. Ada kesukesan untuk beberapa pesepakbola Jepang dan Korea Selatan, tapi sebagai negara dengan populasi terbanyak dan terkaya, Cina hanya memiliki kesuksesan kecil dalam hal mengirim pemain terbaik mereka untuk mengasah permainan mereka ke liga-liga terbaik yang memiliki perbedaan kecepatan dan gaya.
 
Mantan manajer tim nasional Inggris, Sven-Göran Eriksson, adalah salah satu pelatih sepakbola paling berpengalaman dan setelah melaksanakan tugasnya dengan mengesankan di Guangzhou, ia kini berada di klub keduanya di Liga Super Cina dengan tim peserta Liga Champions Asia, Shanghai SIPG. Berbicara secara eksklusif untuk FFT, Eriksson memiliki beberapa pendapat tentang kenapa pemain China kesulitan bermain di luar negeri.
 
"Saya yakin bahwa banyak dari para pemain ini dapat bermain di liga-liga Eropa, tapi saat ini di Liga Super Cina jika anda seorang pemain Cina yang bagus, anda akan memiliki keuangan yang cukup bagus, jadi saya pikir China bisa bersaing dengan liga-liga Eropa dalam hal ini," kata Eriksson.
 
Ini bukan masalah baru, tapi dengan kekayaan Liga Super Cina yang meningkat, akan jauh lebih mudah bagi pemain untuk hanya bermain di Cina di mana mereka lebih nyaman dan di mana bahasa tidak menjadi masalah.

Pada beberapa turnamen terakhir, tim nasional Cina tidak memiliki pemain dari klub asing di skuad mereka dalam helatan Piala Asia Timur 2008 dan 2013, dan Piala Asia AFC 2015. Hanya ada satu pemain yang bermain di luar negeri di Piala Asia Timur 2010, Feng Xiaoting di Jeonbuk Hyundai Motors, dan satu pemain di Piala Asia AFC 2011, Hao Junmin di Schalke 04.
 
Bukan hanya klub luar negeri yang gagal untuk menarik pemain Cina. Eriksson juga menjelaskan bahwa ini juga sulit bagi klub-klub Cina, dengan begitu banyak klub menjadi lebih mudah untuk menarik nama-nama besar internasional seperti Diego Tardelli, Tim Cahill dan Alberto Gilardino.
 
"Jauh lebih mudah untuk mendapatkan pemain asing yang bagus dibandingkan dengan pemain Cina yang bagus," kata Eriksson. "Ada persaingan kuat dari Beijing Guoan, Shandong Luneng dan kedua klub Guangzhou untuk mendapatkan pemain yang sama. Ini cukup sulit untuk menemukan mereka, tetapi setelah anda menemukan mereka, menandatangani mereka juga menjadi hal yang sulit."
 
 
Sudah berlalu hari-hari ketika Sun Jihai, Zheng Zhi, Fan Zhiyi dan Li Tie membuat sepakbola Cina menjadi menjanjikan dengan bermain di luar negeri. Sekarang generasi baru harus belajar bagaimana mereka bisa bermain di luar negeri. Namun, sejak saat itu pula liga sepakbola China yang lebih kaya muncul. Ambisi tinggi mendorong klub-klub baru di Liga Super China. Tim besutan Sven, Shanghai SIPG, adalah contoh yang pas dari hal itu - berdiri pada tahun 2005 mereka mencapai kompetisi teratas sepakbola China pada 2013 dan tidak menunjukkan tanda-tanda melemah.
 
"Pemilik dan pelatih sebelumnya melakukan pekerjaan yang luar biasa dengan klub ini. Membawa mereka dari bawah ke posisi lima di Liga Super Cina. Sekarang pemilik baru telah datang dengan uang yang lebih banyak, ambisi besar dan itu berubah menjadi contoh yang baik dari klub berkembang Cina," kata Eriksson.

"Klub ini ingin masuk ke Liga Champions Asia dan selanjutnya memenangkan Liga Super Cina dan itu tidak akan terjadi dalam satu tahun tapi ini adalah apa yang ingin mereka lakukan."

Baru-baru ini, salah satu pemain terbaik sepakbola China, Zhang Xizhe, pindah dari Beijing Guoan ke Wolfsburg tapi langkah tersebut belum memberikan kegembiraan karena Zhang belum tampil di tim utama. Bek Guangzhou Evergrande, Zhang Linpeng, juga telah dikaitkan beberapa kali dengan Inter Milan, sementara pemain Shanghai SIPG, Wu Lei, hingga kini masih menanti pindah ke FC Copenhagen.
 
 
Pasti ada kecemasan tersendiri dalam diri pemain Cina untuk pergi ke luar negeri setelah kegagalan Dong Fangzhou yang hanya bermain beberapa laga untuk Manchester United dalam rentang waktu 2004 hingga 2008 dan berakhir di klub Liga Primer Armenia, Mika. Pada tahun 2012, Dong kembali ke Cina dengan masuk klub divisi kedua dalam usia 28 tahun, terlihat kelebihan berat badan dan tidak layak, dan kini tidak memiliki klub pada musim 2015.
 
Meskipun demikian, ada suasana optimis tumbuh di sekitar sepakbola Cina. Banyak hal telah membaik secara internasional setelah kekalahan 5-1 dari Thailand hampir dua tahun yang lalu. Tim nasional Cina hanya kalah sekali dalam 16 pertandingan terakhir mereka dan dan kekalahan itu datang dari tim yang kemudian menjadi juara Piala Asia 2015, Australia.
 
Dengan sepakbola Cina mendapatkan lebih banyak publikasi dan pengakuan internasional, mungkin uang tak akan menjadi masalah dan keinginan untuk mengembangkan pendidikan sepakbola akan menjadi lebih penting. Siapa tahu, kita mungkin akan melihat lebih banyak pemain Cina di daftar FFT Asia 50 di tahun-tahun mendatang.

Simak yang lain di #FFTAsia50

FourFourTwo 50 Pesepakbola Asia Terbaik bekerjasama dengan Samsung SportsFlow - memberikan Anda liputan olahraga terlengkap dalam satu aplikasi. Unduh dan temukan lebih banyak lagi di www.sportsflow.me