Lini Depan Indonesia di AFF Suzuki Cup: Haruskah Alfred Riedl Mengubah Formasi?

Cederanya Irfan Bachdim membuat Alfred Riedl sedang kebingungan mencari partner baru untuk Boaz Solossa di lini depan Indonesia untuk menghadapi laga perdana di AFF Suzuki Cup 2016 pada Sabtu ini. Pelatih asal Austria itu tidak banyak memiliki pilihan saat ini. Namun ada alternatif yang dirasa bisa membuat Indonesia tak akan kekurangan kekuatan saat menghadapi Thailand...

Cedera tulang fibula yang dialami Bachdim empat hari sebelum laga perdana Indonesia di AFF Suzuki Cup 2016 jelas sebuah musibah. Pentingnya peran pemain kelahiran Amsterdam itu di tim inti Alfred Riedl tak bisa terbantahkan. Kiranya kita tahu pula jika Bachdim akan mengisi satu tempat inti di lini depan Indonesia dalam skema 4-4-2 yang diperagakan Riedl. Absennya Bachdim jelas membuat sang pelatih harus memutar otak. Sialnya, dalam stok pemain yang tersisa, tak ada yang sepadan untuk menggantikannya.

Tiga gol dan satu assist Bachdim di empat latih tanding terakhir Indonesia adalah bukti bagaimana sangat penting sosoknya di lini depan Indonesia. Visi permainan bagus dan pergerakannya yang cair sebagai pemain depan memang jadi kelebihan Bachdim. Tapi, tak hanya perihal peran dalam urusan gol saja. Lebih dari itu, Bachdim adalah salah satu pemain yang paling penting dalam skema 4-4-2 milik Riedl. Berperan sebagai ‘defensive forward’, pemain berusia 28 tahun ini adalah pemain pertama yang akan menjadi pemutus aliran bola dari lini belakang tim lawan dan orang yang paling penting dalam sukses atau tidaknya serangan balik yang dilakukan Indonesia. Tak hanya itu, kengototan dan daya jelajahnya juga sangat penting dalam strategi yang menekankan pada pressing tinggi sebagaimana yang diperagakan Indonesia saat ini.

Cederanya Irfan Bachdim membuat Alfred Riedl (seharusnya) sakit kepala

Begitu komplet dan pentingnya pemain Consadole Sapporo inilah yang membuat Indonesia sulit mencari pengganti dirinya. Dua nama terdepan yang mungkin akan menggantikannya di posisi penyerang sebagai rekan duet Boaz adalah Lerby Eliandry dan Ferdinand Sinaga. Sayangnya, kedua bomber itu sama sekali belum memberikan penampilan berarti dan dampak besar seperti yang ditunjukkan Bachdim. Lerby yang menjadi kandidat terkuat karena mendapat menit bermain lebih banyak dalam laga uji coba jauh berbeda tipe dengan Irfan.

Sayangnya, kedua bomber itu sama sekali belum memberikan penampilan berarti dan dampak besar seperti yang ditunjukkan Bachdim

Lerby sejatinya adalah penyerang bertipe target-man yang lebih kaku dalam bergerak dan mencari ruang. Dirinya pun tak memiliki kecepatan yang terlalu baik dalam skema serangan balik cepat yang diperagakan Riedl. Selain itu, sebagai pemutus aliran bola pertama dari lawan, Lerby tak memiliki determinasi tinggi seperti Bachdim. Pemain Pusamania Borneo FC ini sebenarnya lebih baik dijadikan rencana B oleh Riedl jika permainan cair, cepat, dan penuh pressing yang diperagakannya sudah mulai menemui kebuntuan.

Nama kedua, Ferdinand Sinaga juga dianggap tidak pas sebagai pengganti Bachdim. Ferdinand memang memiliki kecepatan, namun atribut defensifnya tak sebagus milik Bachdim. Tak hanya itu, pemain PSM Makassar itu juga tak memiliki determinasi dan daya jelajah tinggi. Selain itu minimnya kepercayaan Riedl kepada eks bomber Persib Bandung itu dalam empat laga uji coba terakhir juga menunjukkan jika tampaknya ia tak akan dipilih untuk mengisi tempat Bachdim. Lagipula, Ferdinand dibawa lebih untuk mengemban tugas yang sama seperti Boaz, yakni sebagai goal getter yang cepat dan tanpa kompromi.

Ferdinand Sinaga lebih pas sebagai pelapis Boaz Solossa

Satu nama striker lain yang dibawa ke Filipina adalah Muchlis Hadi Ning. Pemain PSM itu tampaknya jadi pemain yang memiliki peluang paling kecil untuk menjadi rekan duet Boaz mengingat Riedl pun memanggilnya karena sudah tak ada pilihan lagi. Dengan tiga pilihan striker yang ada, Riedl jelas tak menemukan pengganti sepadan. Hal realistis yang sejatinya bisa menjadi opsi pertama Riedl adalah, memainkan Stefano Lilipaly sebagai pengganti Bachdim.

Dengan tiga pilihan striker yang ada, Riedl jelas tak menemukan pengganti sepadan

Resikonya memang, formasi 4-4-2 yang selama ini sudah dibangun dan menjadi fondasi utama harus sedikit diubah menjadi pola 4-2-3-1. Lilipaly dalam hal ini berposisi sebagai gelandang serang tengah dan berperan sebagai playmaker. Tapi dengan catatan, walaupun posisi pemain SC Telstar itu berada di belakang Boaz, namun ketika timnas melakukan pressing, dirinya harus lebih aktif membantu sang kapten memberi tekanan kepada lawan. Selain itu, dirinya juga bisa memperkokoh lini tengah timnas karena dapat membantu dua gelandang tengah yang ada ketika dalam posisi bertahan.

Seperti diketahui, ketika bermain dengan dua gelandang dalam skema 4-4-2 di empat latih tanding sebelumnya, lini tengah kerap kali mudah ditembus oleh tim-tim lawan. Dengan tambahan Lilipaly untuk membantu dua pivot itu, diharapkan lini tengah timnas bisa lebih kokoh namun juga tetap berbahaya dalam menyerang. Karena dirinya pun juga memiliki kecepatan dalam melakukan serangan balik. Selain itu, Fano – panggilan akrab sang pemain – juga memang menginginkan jika dia dan Evan Dimas ditemani satu gelandang lain yang bisa fokus membantu pertahanan, baik Dedi Kusnandar maupun Bayu Pradana. Opsi 4-2-3-1 dan Fano sebagai pengganti jelas merupakan alternatif yang sungguh realistis.

Stefano Lilipaly tampil mengesankan di laga uji coba kontra Vietnam

Terlebih lagi, lawan-lawan yang dihadapi Indonesia di Grup A kelak adalah negara-negara yang memiliki lini tengah yang sangat kuat. Satu yang paling kuat adalah lawan pertama tim Merah-Putih, Thailand. Dengan skema 3-5-2 yang diperagakan anak-anak asuh Kiatisuk Senamuang, ketika menyerang mereka memiliki lima pemain tengah yang siap berduel dengan lini tengah Indonesia. Karenanya, skema 4-2-3-1 yang juga memiliki lima pemain tengah adalah skema yang tepat untuk bisa meladeni lini tengah Negeri Gajah. Ketika berbalik menyerang pun, Indonesia bisa menghasilkan situasi 3 vs 3 atau bahkan 4 vs 3 dengan mengandalkan kecepatan dua gelandang sayapnya plus Fano dan membuat Boaz tak terkunci sendiri menghadapi tiga bek lawan.

Pola 4-2-3-1 sebenarnya juga tidak asing bagi Riedl karena sebelum memakai 4-4-2, dirinya menggunakan skema ini untuk pasukan Merah-Putih. Karenanya, ada baiknya skema 4-2-3-1 bisa dikedepankan, setidaknya untuk menghadapi Thailand terlebih dulu. Karena kalaupun gagal, ada dua pertandingan menghadapi Singapura dan Filipina yang bisa membuatnya kembali ke pola 4-4-2. Tapi tanpa adanya Bachdim dan dengan melirik stok di lini depan yang ada, realistis untuk Indonesia dan Riedl membiarkan Boaz seorang diri sebagai striker.

Foto utama: PSSI

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID