Lini Tengah Indonesia di AFF Suzuki Cup 2016: Siapa Pendamping Evan Dimas?

Hanya tinggal hitungan jam, AFF Suzuki Cup 2016 akan digelar. Indonesia, bersama Thailand, mendapatkan ‘kehormatan’ untuk menjadi yang membukanya pada Sabtu (19/11/2016). Kendati demikian, lini tengah Indonesia nampak belum menemukan susunan terbaik. Evans Simon mencoba memberikan analisanya.

Lini tengah tentu merupakan salah satu hal terpenting dalam sepak bola. Jika anda tidak bisa memenangi pertarungan di daerah ini, besar kemungkinan anda akan dipaksa bertahan hampir sepanjang pertandingan, yang tentu berefek dengan meningkatnya peluang menelan kekalahan. Oleh sebab itu, pelatih Alfred Riedl harus benar-benar mencari solusi demi terbentuknya susunan gelandang yang solid dan multifungsi.

Berdasarkan empat laga uji coba yang telah dijalani, hanya Evan Dimas yang kemungkinan besar dapat dipastikan masuk susunan starter tim nasional Indonesia. Sementara, Stefano Lilipaly, Dedi Kusnandar, dan Bayu Pradana masih akan terus bersaing untuk merebut hati Riedl hingga detik-detik terakhir penyerahan susunan pemain.

Hanya Evan Dimas yang dapat dipastikan masuk susunan starter Indonesia. Sementara, Stefano Lilipaly, Dedi Kusnandar, dan Bayu Pradana masih akan terus bersaing untuk merebut hati Riedl

Stefano bisa jadi pilihan, tapi belum pasti jawaban

Dalam laga uji coba melawan Vietnam di Stadion My Dinh pekan lalu, yang berakhir 3-2 untuk kemenangan tuan rumah, Stefano akhirnya mempertunjukkan kualitasnya, meski belum maksimal karena kurang waktu adaptasi.

Pemain kelahiran 1990 ini tampil cukup impresif dan turut berperan atas terciptanya gol pertama. Secara kualitas individu, boleh dibilang ia memang di atas Dedi dan Bayu, tetapi bukan berarti tidak ada masalah. Dalam laga tersebut, ia justru menunjukkan kualitas serangannya alih-alih menjadi gelandang bertahan sebagai cover bagi Evan Dimas, yang kita tahu merupakan seorang playmaker serangan sejak masih di timnas U-19.

Penggawa SC Telstar tersebut terlihat beberapa kali meninggalkan Evan seorang diri menghadapi serangan Vietnam. Padahal, nama terakhir juga bukanlah seorang gelandang bertahan.

“Saya bisa bermain dengan peran apa saja, bertahan tidak masalah walau saya berposisi asli sebagai gelandang serang. Saya suka dimainkan menyerang, tapi saya juga bermain di bek kanan. Saya bisa dimainkan di mana saja,” ujar Fano memberikan penjelasan mengenai posisi bermainnya.

Tentu saja, langsung menutup kemungkinan bagi Fano untuk bisa bertandem secara apik bersama Evan adalah sebuah ‘kejahatan’. Ia, beserta staf pelatih, bisa memaksimalkan waktu-waktu tersisa atau bahkan memandang lebih jauh setelah laga pertama demi mencapai tingkat kerja sama yang diharapkan.

Jangan lupa, masih ada Dedi dan Bayu yang juga turut dibawa ke Filipina. Ketika diturunkan, mereka mampu menyediakan ruang bagi Evan untuk leluasa bergerak maju karena punya kedisiplinan dan kuat dalam bertahan. Hanya saja, visi mereka dalam mengoper bola masih belum bisa mengimbangi permainan cepat yang dituntut dalam skema serangan balik.

Yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana skema lini tengah Indonesia mungkin berubah menyusul cederanya Irfan Bachdim. Seperti yang dijelaskan oleh Bergas Agung dalam artikel mengenai lini depan Indonesia di AFF Suzuki Cup 2016, ada kemungkinan Riedl mengubah formasi menjadi satu penyerang. Jika hal itu terlaksana, berarti akan ada satu gelandang tambahan yang bisa memperkuat lini tengah timnas.

Jika itu benar-benar terjadi, Fano dan Evan mungkin bisa bermain bersama, dengan dilindungi oleh Dedi atau Bayu Pradana di belakang mereka. Pengalaman Fano sebagai bek kanan akan membantu timnas saat melakukan pressing tinggi seperti yang diinginkan oleh Riedl. Kerja samanya dengan Evan akan sangat krusial dalam penyerangan timnas nantinya.

Kehadiran Lilipaly memberikan kelegaan, namun juga menyisakan pertanyaan

Namun perlu dicatat pula bahwa Riedl hampir tak pernah melatih taktik dengan tiga gelandang tengah selama masa persiapan sejak Agustus lalu. Ada kesan bahwa sejak awal, Riedl sudah menyiapkan 4-4-2 sebagai satu-satunya formasi yang akan ia gunakan di Piala AFF nanti. Sebelum berangkat ke Manila pun, ia sempat menyiratkan bahwa ia hanya akan mengubah formasinya sedikit menjadi 4-4-1-1.

Meski begitu, satu posisi di belakang penyerang tunggal yang diperkirakan akan diisi oleh kapten Boaz Solossa bisa saja diambil oleh Evan atau Fano. Peluang itu terlihat lebih lebar daripada peluang kita melihat Lerby Eliandry, Ferdinand Sinaga, atau Muchlis Hadi di posisi tersebut.

Sayap adalah kunci

Sementara, di sisi kiri dan kanan, rasanya posisi Zulham Zamrun dan Andik Vermansyah sudah tidak bisa diganggu gugat. Keduanya sama-sama memiliki teknik individu mumpuni, kecepatan, dan terbukti mampu menjadi pembeda di saat-saat krusial.

Namun ada catatan bagi kedua pemain ini: mereka harus bisa bersinergi dengan baik dengan kedua full-back di belakang mereka. Perlu diingat, bahwa dalam laga kontra Vietnam di Hanoi, sisi kanan pertahanan Indonesia yang diisi oleh Beny Wahyudi menjadi titik lemah Merah Putih. Selain Beny yang kurang baik dalam menghadapi pemain-pemain Vietnam yang berkualitas tinggi, bahwa ia tidak dibantu oleh Andik yang jarang turun jauh ke belakang juga jadi masalah. Inilah yang kiranya harus diperbaiki oleh Riedl menjelang laga kontra Thailand pada Sabtu ini.

Andik harus lebih rajin membantu Beny Wahyudi bertahan

Feature baru setiap harinya di FourFourtwo.com/ID