Louis Saha: 'Ferguson Berteriak Pada Saya... Padahal Saya Mencetak Dua Gol!'

Dari 'hairdryer treatment' ala Sir Alex Ferguson sampai air mata di Liga Champions, eks striker timnas Perancis ini mengungkapkan segalanya…

Saya tahu saya bisa sukses menjadi pesepakbola ketika saya berdiri di samping Thierry Henry dan Nicolas Anelka di akademi Clairefontaine di Perancis. Itu adalah saat ketika saya menyadari saya punya peluang besar untuk menjadi pemain profesional, dan setelah menyaksikan sepakbola Inggris, saya selalu membayangkan saya bermain di sana suatu hari nanti melawan para pemain terbaik di dunia.

Saya merasa paling bahagia ketika saya mempunyai anak dengan pacar saya! Saya mengasuh adik perempuan saya ketika saya masih kecil, dan sejak itu saya selalu ingin menjadi seorang ayah. Anak pertama sangat special dan saya begitu bahagia ketika itu terjadi (pada 2006, tiga hari setelah Perancis kalah di final Piala Dunia).

Sepakbola menghancurkan hati saya ketika saya tak bisa bermain di final Liga Champions 2008. Selama berminggu-minggu saya menyanyikan anthem Liga Champions dan saya begitu siap untuk menghadapi final melawan Chelsea. Cedera dan tidak bisa berpartisipasi di Moskow adalah pukulan yang sangat telak. Saya menangis karena sepakbola. Saat itu, saya tidak sadar saya berperilaku layaknya anak kecil.

Champions League 2008

Saha tidak menjadi bagian dari perayaan besar ini

Pahlawan saya ketika saya kecil adalah George Weah. Saya sangat menyukai gayanya ketika ia di Paris Saint-Germain dan permainannya adalah yang ingin saya capai sebagai pemain. Saya juga terinspirasi David Ginola, yang saat itu juga di PSG bersama Weah – keduanya adalah dua pemain yang kemampuannya berusaha saya tiru dan adaptasikan pada permainan saya.

Saya juga terinspirasi David Ginola, yang saat itu juga di PSG bersama Weah – keduanya adalah dua pemain yang kemampuannya berusaha saya tiru dan adaptasikan pada permainan saya

- Louis Saha

Penyesalan terbesar saya adalah jumlah cedera saya. Saya sangat ingin mempunyai peluang untuk berkembang sebagai pemain. Tetapi cedera tidak membuat saya berkembang. Saya juga tak bisa bermain di final Piala Dunia 2006 (karena hukuman menyusul dua kartu kuning di semifinal), meski tak bisa bermain di final Liga Champions dua tahun kemudian terasa lebih telak.

Momen paling membanggakan saya adalah memenangkan trofi Premier League dua kali ketika saya bermain untuk Manchester United. Tidak ada perasaan yang lebih baik ketimbang mengangkat trofi setelah bekerja begitu keras selama semusim penuh. Tak diragukan lagi, itu adalah hasil terbaik di sepanjang karier sepakbola saya.