Mampukah Angel Alfredo Vera Membangkitkan Persebaya Seperti yang Terjadi Pada Persipura?

Angel Alfredo Vera akan melatih Persebaya Surabaya di sisa musim mereka di Liga 2 Indonesia 2017. Mengapa penunjukkan ini seperti deja vu bagi Vera?

Caretaker merupakan pelatih pengganti yang mendapat tugas untuk meneruskan dan memperbaiki kinerja pelatih utama sebelumnya. Umumnya, pelatih seperti ini menggantikan seorang pelatih yang dipecat atau mengundurkan diri ketika kompetisi berlangsung.

Di Eropa, ada sejumlah pelatih caretaker yang tergolong sukses. Roberto Di Matteo adalah contoh tepat untuk mendeskripsikan ini.

Pada pertengahan kompetisi musim 2011/12, Di Matteo ditunjuk menggantikan Andre Villas-Boas yang diberhentikan dari Chelsea lantaran tidak sesuai dengan ekspektasi yang dibebankan kepadanya. Ternyata, sentuhan Di Matteo sebagai caretaker tak bisa dipandang sebelah mata. Meski tidak memiliki riwayat kepelatihan sementereng Villas-Boas, ia berhasil membawa Chelsea memenangi Piala FA. Dan yang paling fenomenal, adalah saat ia membawa Chelsea untuk pertama kalinya menjuarai Liga Champions.

Narasi serupa terjadi di Indonesia. Kali ini, adalah Angel Alfredo Vera yang menjadi Di Matteo-nya. Setelah sempat melatih Pusamania Borneo FC U-21 pasca diberhentikan Persegres Gresik United, ia secara mengejutkan diminta untuk menangani Persipura Jayapura yang ketika itu tengah mengalami masa suram bersama Jafri Sastra. Dari total sembilan laga bersama Jafri Sastra, Persipura menelan empat kekalahan. Itu membuat posisi tim Mutiara Hitam terpuruk di papan tengah di tabel klasemen Indonesia Soccer Championship A 2016.

Beberapa pihak menilai keputusan manajemen Persipura keliru. Mereka dianggap tergesa-gesa menunjuk pelatih yang tidak memiliki prestasi dan jejak karier mumpuni selama melatih itu.

Sementara Vera, jelas terkejut. Ia benar-benar tak menyangka kesempatan melatih tim dengan skuat juara datang dengan sendirinya, tanpa pernah diminta. Padahal, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Vera tak memiliki prestasi dan jejak karier mumpuni. Meski sudah cukup berpengalaman melatih klub Indonesia, tetapi ia sebelumnya hanya sebatas memimpin Persela Lamongan dan Persegres Gresik United yang notabene kelasnya di bawah Persipura.

Meski sudah cukup berpengalaman melatih klub Indonesia, tetapi Vera sebelumnya hanya sebatas memimpin Persela Lamongan dan Persegres Gresik United yang notabene kelasnya di bawah Persipura

Maka tak heran di kancah sepakbola Indonesia, nama Vera tak begitu dikenal. Dibandingkan dengan pelatih dengan nama besar seperti Rahmad Darmawan, Jacksen F. Thiago, atau Robert Rene Albert, ia jelas kalah mentereng.

Tapi siapa sangka, di tengah segala ketidakpercayaan yang menumpuk padanya, Vera justru berhasil mengangkat kembali derajat Persipura. Secara perlahan, kemenangan demi kemenangan yang sebelumnya begitu sulit didapat bersama Jafri Sastra, mampu diraih terus menerus.

Vera memang tidak banyak mengubah permainan Persipura secara taktik. Formasi dasar yang ia gunakan pun masih sama dengan yang digunakan pelatih sebelumnya, yaitu 4-5-1. Yang membedakannya adalah kemampuan Vera dalam mengubah skema ketika pertandingan berlangsung. Contohnya adalah ketika menghadapi Persegres pada ISC A tahun lalu.

Vera memang tidak banyak mengubah permainan Persipura secara taktik. Yang membedakannya adalah kemampuan Vera dalam mengubah skema ketika pertandingan berlangsung

Pada pekan ke-33 ISC A itu, Persipura menggunakan formasi dasar 4-5-1. Namun, sepanjang pertandingan, mereka seringkali berganti formasi. Saat bertahan, pola 4-5-1 dipertahankan. Tapi ketika melancarkan serangan, mereka mengubah pola menjadi 4-3-3 atau 3-4-3. Hal semacam ini sering diperagakan oleh tim-tim besar yang berlaga di Eropa. Hasilnya, Persipura berhasil mengandaskan Perseregres dengan skor mencolok: 3-0.

Vera juga merupakan pelatih yang percaya pada pemain muda. Sepanjang ISC A itu, ia cukup sering mengandalkan para pemain muda seperti Osvaldo Haay dan Ferinando Pahabol. Dua pemain itu merupakan sayap alternatif ketika serangan demi serangan yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil.  Ini tampaknya buah dari pengalamannya melatih tim U-21 Pusamania Borneo FC.

Persipura sendiri di akhir turnamen berhasil menahbiskan diri sebagai pemuncak klasemen mengungguli Arema, Madura United, dan Sriwijaya FC. Dan Vera, berhasil membungkam ketidakpercayaan publik. Oleh publik Indonesia, ia pun mulai diperhitungkan sebagai salah satu peracik strategi andal.