Analisa

Mampukah Angel Alfredo Vera Membangkitkan Persebaya Seperti yang Terjadi Pada Persipura?

We are part of The Trust Project What is it?

Cerita Awal yang sama Terjadi di Persebaya

Sebelum Liga 1 Indonesia 2017 dimulai, kejutan kembali menerpa Alfredo Vera. Jika sebelumnya kejutan yang ia dapat adalah kabar soal ketertarikan Persipura, kali ini justru sebalikya. Ia terpaksa harus diberhentikan lantaran adanya regulasi kepelatihan Liga 1 yang tak terpenuhi.

Vera hanya memiliki lisensi Argentina yang ia sebut setara lisensi Pro UEFA. Namun, operator kompetisi punya standar berbeda. Mereka mewajibkan setiap klub memiliki pelatih minimal dengan lisensi AFC A.

Meski sempat mempertanyakan soal regulasi yang ia anggap aneh itu, Vera berusaha maklum. Dengan lapang dada, ia menerima keputusan manajemen Persipura dan regulasi yang ditetapkan pihak pengelola liga. Vera pun kembali menganggur.

“Keinginan saya pasti ingin tetap bertahan karena karier saya baru dimulai di sini. Tapi, semua tergantung keputusan operator liga,” ujarnya.

Tapi Vera tak lama menganggur. Semuanya berkat kejadian menghebohkan yang terjadi pada 30 April lalu.

Pada 30 April lalu, pelatih Persebaya Surabaya, Iwan Setiawan, melakukan tindakan tidak terpuji di hadapan para Bonek, pendukung Persebaya. Dari dalam bus pemain, mantan pelatih Persija itu mengacungkan jari tengahnya ke arah para Bonek yang saat itu memadati sekitar bus Persebaya di jalanan Stadion Demang Lehman Martapura. Sebelumnya, ia juga sempat akan menantang berkelahi beberapa Bonek yang ada di dekatnya. Kejadian itu bermula ketika Persebaya dikalahkan tuan rumah Martapura FC dengan skor 2-1.

Tindakan itu kemudian membuat ia dikecam oleh para pendukung Persebaya, terutama Bonek Mania. Mereka merasa tindakan Iwan telah mencoreng nama Persebaya dan Surabaya sendiri. Bonek pun menuntut manajemen untuk memberhentikan pelatih yang memang terkenal dengan segala kontroversinya itu. Lalu tagar #IwanOut bertebaran di media sosial.

Setelahnya, Iwan berusaha menyampaikan permohonan maaf. Tapi, Iwan tampaknya tak sadar, bahwa komunikasi itu bersifat irreversible atau tidak bisa ditarik kembali.

Iwan memang dapat meminta maaf, dan Bonek juga tampaknya sudah menerima permintaan maaf itu. Namun, luka yang ia goreskan kepada Bonek dan juga para pencinta sepakbola lain, tampaknya masih membekas. Apalagi luka yang ia timbulkan itu tidak berupa fisik, tetapi menempel di hati. Seperti kata orang-orang, luka di hati lebih susah disembuhkan.

Maka manajemen Persebaya pun bertindak. Iwan diberhentikan. Dan penggantinya ternyata adalah Angel Alfredo Vera.

Ini semacam deja vu bagi Vera. Setelah tahun lalu secara mengejutkan ditunjuk menjadi pelatih Persipura di saat kompetisi berjalan, dua hari yang lalu narasi seperti itu kembali terulang. Kali ini tim yang meminta jasanya adalah Persebaya, klub yang secara historis memiliki nama dan sejarah yang besar di sepakbola Indonesia.

Di Persebaya, Vera mendapat tugas atau mungkin lebih tepatnya tuntutan untuk meloloskan Persebaya ke Liga 1 Indonesia musim depan. “Saya bangga, tetapi ini juga tugas berat karena ekspektasi yang begitu besar,” ujar Vera.

Ya, ekspektasi yang dibebankan kepada sang pelatih memang besar, mengingat prestasi yang ia peroleh bersama Persipura tahun lalu. Tapi, terlepas dari hal itu, Vera tampaknya tetap akan mendapat beban yang besar meskipun, misalnya, ia tidak memiliki prestasi sama sekali sebab ia membawa nama besar Persebaya. Itu artinya, tuntutan besar akan tetap datang, siapapun pelatihnya.

Jika kemudian Alfredo Vera berhasil membawa Persebaya lolos ke Liga 1, tampaknya ia akan dikenal sebagai pelatih spesialis  pengganti di tengah kompetisi. Lalu ia akan menjadi anti-tesis yang menyatakan bahwa pergantian pelatih ketika kompetisi berlangsung merupakan hal yang menyulitkan.

Kisah awal ditunjuknya ia oleh manajemen Persebaya Surabaya ini nyaris sama dengan kisah ditunjukknya ia di Persipura tahun lalu. Tapi, untuk narasi dan kisah akhirnya kelak, siapa yang tahu. Semuanya akan sangat tergantung bagaimana kemampuan Vera dalam meramu taktik dan memaksimalkan potensi Rahmat Latief dan kawan-kawan, serta tentu saja kemampuannya dalam menarik hati para Bonek.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com