Manuel Neuer dan Evolusi Seorang Kiper

Paul Simpson dalam tembok terakhir Bayern yang mengubah persepsi dari manusia biasa menjadi luar biasa...

Dalam kurun waktu 10 tahun, pendapat bahwa Manuel Neuer adalah penjaga gawang paling berpengaruh sepanjang masa terdengar seperti sebuah pernyataan yang sangat tepat. Pertunjukan performa Neuer sebagai sweeper-keeper untuk Bayern Munich dan Jerman bisa mengikis mistis yang mengelilingi posisinya, mengubah cara para kiper dilatih dan sekedar kemungkinan, meyakinkan jutaan anak di taman sekolah di seluruh penjuru Eropa bahwa berada di gawang bukan bukti nyata dari ketidakmampuan bermain sepakbola secara umum.

Itu mungkin terdengar agak berlebihan untuk bersandar pada satu pemain saja, bahkan jika pemain itu menjadi penjaga gawang terbaik di dunia, bermain untuk dua tim yang paling sukses dan bermain indah di dunia. Namun kualitas Neuer, seperti yang dikatakan pelatih kiper Jerman, Andreas Kopke baru-baru ini tentang dirinya: "Saya tak pernah melihat sweeper yang lebih baik, selain mungkin Franz Beckenbauer, yang dapat merevolusi posisi yang paling dalam di dunia sepakbola."

Jika setiap kiper bisa menyapu bola seefisien Neuer, setiap manajer akan memainkan sweeper-keeper. Karena begitu sedikit dari rekan-rekannya yang sekonsisten, seatletis dan menentukan seperti Neuer, lebih banyak pelatih menghindari resiko dengan memilih kiper-kiper yang bisa menghasilkan, apa yang disebut Packie Bonner, dengan menggunakan huruf besar untuk menjelaskan aspek ajaib dari permainan mereka, 'The Big Saves' [penyelamatan hebat].

Berapa lama lagi konservatisme tersebut bertahan? Dalam pertandingan di mana setiap spesialis semakin dibutuhkan untuk menjadi lebih fleksibel - sebuah tren yang diramalkan oleh Total Football Rinus Michel di tahun 1970-an - penjaga gawang yang hanya bisa menghentikan tembakan akan menjadi sama langkanya dengan bek yang hanya bisa melakukan tekel dan striker yang tak bisa melakukan apapun kecuali mencetak gol dalam kotak enam yard.

Ulat Sutera dan Ilmuwan

Lompatan mendadak Neuer dari bagus menjadi hebat berhutang pada efek pembebasan dari taktik Pep Guardiola di Bayern. Sedikit di antara pelatih lainnya merasa bahagia melihat kiper mereka menunggu di dekat garis tengah area penalti untuk waktu yang lama. Namun peningkatan Neuer merupakan ekspresi kepribadian pemain.

Setelah Jerman susah payah menaklukkan Aljazair 2-1 setelah perpanjangan waktu di perempat final Piala Dunia, dengan Neuer begitu sering berlari untuk menyelematkan timnya dan menjadi bek kelima, dia ditanyai apakah ia mengambil terlalu banyak resiko. "Jika saya takut, saya akan tetap berada di garis gawang," katanya. "Saya tidak bisa mulai dengan ragu-ragu. Ketika saya membuat keputusan, saya harus melakukannya. Kadang-kadang hampir saja tapi saya tidak pernah diusir wasit sejauh ini."

Leigh Richmond Roose: Nenek moyang dari kiper flamboyan

Leigh Richmond Roose: Nenek moyang dari kiper flamboyan

Ini semacam keyakinan dalam menjaga gawang yang akan disetujui oleh Leigh Richmond Roose, pemain flamboyan Wales yang menjadi salah satu bintang terbesar di sepakbola Britania seratus tahun yang lalu. Pada tahun 1906, dalam acara tahunan The Book of Football, Roose menulis: "Seorang kiper yang bagus, seperti seorang penyair, dilahirkan bukan diciptakan." 

Jika rekan setimnya, manajer dan para suporter tidak memahami maksudnya, Roose menambahkan, "Untuk membuktikan kiper yang sukses, seorang pemain harus menjadi satu dari mereka yang ditakdirkan oleh alam untuk memiliki jalannya sendiri, sebagai sumber daya yang diandalkan untuk mengisi gawang sepenuhnya dari dirinya sendiri, dan kecuali dia berharap untuk menjadi peniru belaka, seperti ulat sutera yang harus memproduksi kebutuhannya untuk dirinya sendiri."

"Seorang penjaga gawang, kecuali dia hanya ingin menjadi peniru belaka, seperti ulat sutera yang harus memproduksi kebutuhan untuk dirinya sendiri."

- Leigh Richmond Roose, 1906

Menjadi satu-satunya pemain yang diijinkan untuk menyentuh bola dalam sebuah pertandingan secara sah dipahami saat sepakbola memberikan 'para ulat sutera' ini ijin untuk memperlihatkan keunikan mereka. Pada tahun 1916, William Foulkes, kiper raksasa Chelsea, Inggris dan Sheffield United, sangat dikenang saat ia menghadang seorang striker, membuatnya jatuh ke tanah, dan dengan satu tangan membawanya ke tim medis. Sebuah kebiasaan antik yang membuat 'scorpion kick' Rene Higuita, aksi mengejar seekor bebek Sepp Maier dan kostum Superman John Burridge - yang dikenakannya di dalam kaos Wolves untuk memenangkan uang 100 Pounds dari Kevin Keegan, menjadi sesuatu yang biasa saja.

Burridge mempertegas sebuah opini yang dibuat oleh Vladimir Nabokov, novelis dan kiper mahasiwa Rusia, yang menggambarkan dirinya di antara dua tiang gawang sebagai 'hal menakjubkan yang ada dalam penyamaran pesepakbola Inggris'. Aura yang tercipta di sekitar posisi yang unik, eksentrik, berseni tinggi dengan ruang lingkupnya ini memberikan kesempatan pada para pemain untuk mengekspresikan atau menyamarkan kepribadian mereka - dan itu mungkin menjelaskan kenapa menjaga gawang tetap menjadi posisi paling intelek dalam sebuah pertandingan, menarik perhatian novelis (Albert Camus), pemuka agama (Paus John Paul II), ilmuwan (Niels Bohr) dan sosok revolusioner (Che Guevara).

Sendirian di Gawang

Eksentrisitas dan eksotisme merupakan selingan yang menyenangkan dalam sebuah profesi yang yang dirusak oleh ketidakpastian yang hampir selalu ada. Di taman bermain Prancis, saat sebuah tim mengganti penjaga gawang, mereka berkata, "Itu giliranmu untuk berada di tengah tiang gawang." (Enam kata terakhir terdengar lebih mendalam dalam bahasa Prancis: "au milieu des bois.") Camus menggunakan idiom ini sekali waktu, untuk membela seorang kiper dari tim kesayangannya, Racing, dengan mengatakan, "Adalah saat anda berada di tengah dua ting gawang, anda akan menyadari betapa sulitnya itu."

Albert Camus: Penulis. Pemikis. Kiper.

Albert Camus: Penulis. Pemikis. Kiper.

Sendirian di depan gawang tidak menggambarkan gaya menjaga gawang Neuer, namun kemampuan untuk mengatasi tekanan psikologis yang tak terelakkan yang tersirat dalam pernyataan Roose bahwa 'sumber daya yang diandalkan sepenuhnya berada dalam dirinya sendiri'.

Untuk beberapa kiper, beban psikis menjadi tak tertahankan. Pmemikirkan Peter Bonetti yang malang, menjadi tukang pos di pulau Mull setelah dikambing hitamkan atas kekalahan 3-2 Inggris dari Jerman Barat di perempat final Piala Dunia 1970.

Atau memikirkan kiper Brasil, Moacyr Barbosa, yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia sampai Uruguay mencetak dua gol di final Piala Dunia, di Maracana pada tahun 1950. Setelah dipermalukan oleh seorang yang belanja sebagai "orang yang membuat Brasil menangis ", Barbosa mencoba untuk mengusir kesialannya dengan mengadakan pesta barbekyu yang sangat istimewa pada tahun 1963. Kayu yang dibakar untuk menghibur tamu-tamunya ternyata adalah tiang gawang dari final Maracana pada sore yang naas, pemberian usang oleh perubahan dalam peraturan FIFA.

Seluruh gonjang-ganjing, stres dan eksentrisitas ini telah memberikan peran kiper sebuah aura romantis, nyaris filosofis, yang tergambar dalam judul novel seorang penulis bernama Peter Handke, 'The Goalie's Anxiety At The Penalty Kick' [Kecemasan seorang kiper saat tendangan penalti]. Harga yang harus dibayar untuk kemistisan tersebut adalah pengasingan dalam industri tertentu, sebuah sikap yang tertangkap dalam judul cerita Brian Glanville, Goalkeepers Are Crazy.

Ketika Bayern mengalahkan Roma pada bulan November, Neuer membuat umpan sukses lebih banyak dari delapan pemain Giallorossi"

Tidak hanya gila tapi tak terlihat, kehadiran mereka bahkan tidak diakui ketika formasi dijelaskan. Seperti yang diakui kiper Ajax, Jasper Cillessen di Champions Matchday berikutnya, "Untuk memasukkannya ke dalam istilah yang sangat hitam dan putih, Anda menjadi seorang kiper karena Anda tidak cukup bagus untuk bermain sepakbola. Sekarang Anda perlu memainkan beberapa pertunjukan sepakbola." Untuk menyebutkan apa yang dilakukan Neuer merupakan 'beberapa permainan sepakbola' itu adalah pernyataan yang meremehkan. Ketika Bayern mengalahkan Roma 2-0 pada bulan November, ia membuat umpan sukses lebih banyak daripada delapan pemain Giallorossi.

Evolusi sweeper-keeper

Jadi apa yang telah berubah? Proses untuk melibatkan kiper secara taktis ke dalam tim bisa dikilas balik di awal 1950an saat Gusztav Sebes menciptakan tim nasional Hungaria yang mengalir yang memainkan formasi yang revolusioner, dalam posisi 4-2-4, di mana para pemain secara rutin terus berotasi dan penyerang tengah Nandor Hidegkuti terus berada di garis tengah penalti lawan.

Ada ruang di belakang pertahanan kami yang bisa dieksplotasi dan saya harus beraksi seperti sweeper tambahan"

- Pioneering 1950s Hungarian Gyula Grosics

Awalnya, Gyula Grosics menjadi perintis sweeper-keeper karena kebutuhan formasi, bukan karena pilihannya, menjelaskan, "Rencana permainan menyerang menciptakan lebih banyak peluang untuk lawan melakukan serangan balik saat mereka mendapatkan bola. Ada ruang di belakang pertahanan kami yang bisa dieksplotasi dan saya harus beraksi seperti sweeper tambahan, di luar area saya, berusaha menjangkau bola terobosan sebelum jatuh di kaki lawan."

Di saat mempertahankan penguasaan bola menjadi lebih krusial ketika menyerang lawan, Grosics lebih memilih untuk menggulirkan bola daripada menendangnya dengan keras. Taktik ini terbukti sukses, Ferenc Puskas dan Hidegkuti mulai mengambil lemparan ke dalam dan kemudian membuat lawan kebingungan.

Butuh beberapa waktu agar taktik tersebut menyebar. Pada tahun 1997, seperti yang disebutkan oleh Ronald Reng dalam bukunya, The Keeper of Dreams, tindakan yang hanya menggulirkan bola ke arah bek sayap dianggap memiliki resiko yang tak terlihat yang dipaksakan oleh pelatih ke atas lapangan di babak pertama dan berdiri di posisi yang tepat di dekat garis tengah ke arah mana bola harus ditendang.

Gyula Grosics: Selalu sigap kapan saja

Gyula Grosics: Selalu sigap kapan saja

Michels belajar lebih cepat dari Hungaria yang inspirasional. Melatih Belanda di Piala Dunia 1974, dia memutskan bahwa kualitas Jan Jongbloed sebagai bek tambahan, 20 yard dari gawang dengan kakinya, lebih layak masuk timnya yang menganut Total Football daripada kemambpuan menghentikan tembakan milik Jan van Beveren. Meskipun tak ada sesuatu yang istimewa tentang Jongbloed, misinya adalah menjadi yang pertama mendapatkan bola dan menyapunya, pikeputusan Michels memberikan sebuah perbedaan.

Pelatih dari slah satu tim paling berbakat yang tidak pernah memenangkan Piala Dunia mengindikasikan, dengan pemilihan kiper-nya, bahwa bagi seorang penjaga gawang menyapu bola lebih penting daripada sekedar menjaga gawang.

Ajax, Barcelona, Cruyff

Bermainlah dan buat kesalahan"

- Johan Cruyff to his 1985/86 Ajax sweeper-keeper Stanley Menzo

Johan Cruyff mengikuti langkah Michels sebagai pelatih Ajax di musim 1985/86, memberikan saran kepada kiper Stanley Menzo: "Bermainlah dan buat kesalahan." Pesan itu menggambarkan pengakuan bahwa gaya menjaga gawang ini mengundang resiko dan pujian. Resikonya segera terlihat ketika Louis van Gaal menggantikan Cruyff.  Ketidaksabaran-nya dengan kesalahan Menzo menuntunnya untuk mempromosikan Edwin van der Sar yang cukup pandai menahan bola berada di kakinya namun kurang antusias dibandingkan Menzo saat menyerbu lawan di areanya.

Namun Cruyff tidak menyerah. Gagasan memiliki satu pemain di tim Anda yang hanya bisa menghentikan tembakan menyinggung logika-nya. Tentunya, yang ideal adalah untuk memiliki 11 pemain sepak bola, satu di antaranya juga bisa membuat "Penyelamatan Hebat"? Ia bahkan lebih berani daripada Michels, lebih menghargai Menzo untuk kontribusinya dalam menyerang daripada untuk kualitasnya menjaga gawang. 

Jan Jongbloed: Kiper "Total Football"

Jan Jongbloed: Kiper "Total Football"

Pada tahun 1992, ketika Cruyff memenangkan Piala Eropa sebagai pelatih Barcelona, kiper menjanjikan yang bernama Victor Valdés yang telah berusia 10 tahun bergabung dengan akademi pemain muda Barcelona. Meskipun Van Gaal menghabiskan empat tahun melatih Barça, Cruyff masih menjadi seorang filsuf dari klub sepakbola tersebut, di luar tempat tinggal kita. Valdés merupakan kiper sempurna untuk sirkulasi cepat Barcelona yang dikembangkan di bawah mantan pemain mereka, Frank Rijkaard dan Pep. Antara 2009 dan 2011, Valdés tidak membuat banyak "Penyelamatan Hebat" karena tim-nya yang sangat dominan dan dia biasanya tidak harus melakukannya.

Fakta bahwa Valdés menghabiskan begitu banyak waktu jauh dari area penalti-nya sendiri mengilustrasikan bagaimana deskripsi tugas seorang kiper berubah secara radikal– dan berapa banyak latihan yang diperlukan untuk mengembangkan mereka, untuk menjaga mereka tetap handal.

Pilihan: Umpan Pendek Atau Umpan Panjang?

Biasanya, saat seorang kiper tim menguasai bola, tugas mereka adalah memposisikan diri mereka untuk menghindari bahaya. Tapi, pengambilan posisi Valdes merefleksikan kebutuhan untuk mendapatkan bahaya dan peluang. Seperti yang dicatat Bonner dalam edisi terbaru The Tecnician UEFA, kiper semacam ini menjadi "bagian tak terpisahkan tim dengan peran penting untuk membangun permainan dari belakang, tak hanya memainkan umpan-umpan pendek dengan tujuan untuk mengawali penguasaan bola, tapi mengembangkan campuran ini dengan sebuah umpan yang lebih langsung ke lini depan dan kemampuan untuk melancarkan serangan balik."

Sistem pelatihan khusus lama yang fokus pada kinerja kiper dalam bagian tertentu di atas lapangan, secara efektif telah dianggap usang. Penjaga gawang seperti Neuer harus membaca seluruh permainan, memainkan umapan atau lemparan paling produktif  dan bertindak sebagai bek sayap atau bek tengah ketiga.

Mereka juga perlu memahami bagaimana posisi mereka membantu atau merugikan tim. Salah satu yang sosok yang tidak mengakui tim Bayern milik Guardiola adalah Arrigo Sacchi. Pelatih Milan yang inovatif ini berpendapat bahwa jarak antara serangan dan pertahanan timnya tidak boleh lebih dari 25 meter. Ini memdatkan permainan dengan brilian saat timnya diserang, dan memungkinkan mereka untuk menggangu lawan, tetapi membuat mereka rentan terhadap serangan balik cepat dengan umapn panjang. Kecemerlangan Neuer memungkinkan Guardiola untuk memperbaiki permainan menekan Sacchi dengan mengubah kipernya menjadi bek lainnya.

Setelah sesi latihan yang mengesankan dengan pemain outfield, para fans yang terkesan salah menganggap Neuer sebagai pemain baru mereka"

Permainan ini melekat secara alami dalam diri Neuer, yang telah berlatih dengan pemain outfield sejak berada di tim muda Schalke. Setelah satu tampilan yang mengesankan dari pemain muda tersebut, para penggemar dari kalangan muda yang terkesan dengan penampilannya meminta tanda tangannya, menganggap Neuer adalah bintang baru dalam tim mereka, tapi kemudian Neuer mengatakan: "Saya Manuel Neuer, kiper ketiga tim Anda."

Neuer muda: Sudah baik untuk bermain keluar

Neuer muda: Sudah baik untuk bermain keluar

Selama satu abad, tugas menjaga gawang telah menjauh dari isolasi yang disebutkan oleh Roose, yang diumpamakan sebagai ulat sutra yang mandiri, dan menuju peran yang lebih dinamis yang mengintegrasikan kiper, secara taktis dan psikologis, ke dalam tim. Mungkin lebih sedikit nilai mistik tentang generasi Neuer, tetapi mereka menikmati lebih banyak kebebasan dari pendahulunya.

Mereka yang kolot mungkin tidak menyambut perubahan ini, namun, dalam ungkapan Roose, Neuer tentu bukan seorang peniru. Pria Wales tersebut mencerca melawan "para kritikus yang duduk di kursi, yang mengatakan kepada kiper apa yang harus ia lakukan, dan di mana ia harus berdiri" dalam artikelnya di tahun 1906. Untuk Roose, yang memenangkan 24 caps, penjaga gawang harus membawa "unsur orisinalitas" untuk pekerjaan mereka dan, ketika bergegas untuk menendang, "jangan menahan, tapi tendanglah, jangan setengah-setengah."

Neuer memenuhi kedua kriteria tersebut. Jika ia terus bermain begitu hebat, siapa tahu pelatih dan pakar mungkin memulai awalan formasi 4-3-3, 4-4-2 dan 4-2-3-1 mereka dengan angka 1.

Lainnya di #FFT100