Mari Belajar Pengembangan Sepakbola dari Spanyol, Kiblat Baru Sepakbola Indonesia

PSSI telah memutuskan untuk mengalihkan kiblat sepakbola Indonesia ke Spanyol, dan menunjukkan keseriusannya dengan menunjuk pelatih asal Spanyol pula. Tapi jalan masih panjang untuk bisa mencapai cita-cita besar sepakbola Indonesia, tulis Zakky BM...

Berkiblat, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring (dalam jaringan) memiliki makna berarah atau menuju. Kata kiblat dan berkiblat biasanya diidentikan dengan ritual keagamaan. Misalnya, umat Muslim mempunyai kiblat di kota Mekkah, Arab Saudi.

Dalam konteks yang lain, kiblat juga bisa dipakai dalam budaya dan kultur. Misalnya, perkembangan kartun serta komik kebanyakan memiliki dua kiblat Jepang atau Amerika Serikat.

Sementara di sepakbola, dalam hal pengelolaan dan industri, kita semua sepakat bahwa Eropa adalah kiblatnya. Namun, kiblat itu terkait pada pengelolaan dan industri. Dalam urusan gaya bermain sepakbola, yang ini adalah satu hal yang lain.

Sepakbola yang dimainkan di hampir seluruh negara yang berada di kolong langit ini tentu memiliki referensinya masing-masing. Bahkan beberapa negara mampu mematenkan ciri khas tersendiri dalam gaya bermain sepakbolanya. Total football milik Belanda dan Jogo Bonito milik Brasil adalah dua dari beberapa gaya khas bermain bola yang telah mendunia.

Indonesia, yang baru saja pulih dari hukuman FIFA dan memilih ketua federasi barunya di akhir tahun 2016 lalu ini mencanangkan perbaikan untuk kemajuan sepakbola nasional. Ketua PSSI yang baru ini sendiri tak ragu sedikit pun untuk menunjuk Spanyol sebagai kiblat sepakbola Indonesia ke depannya.

"Kita lihat Spanyol berkualitas. Nah, kira-kira seperti itu PSSI akan berpatokan ke sana," ujar Edy Rahmayadi, seperti yang dinukil dari laman Top Skor.

Pemilihan Spanyol sebagai kiblat tersebut bukan tak berdasar. Menurut Edy, ia menganggap fisik pemain Indonesia sedikit mirip dengan Spanyol dan cara bermainnya juga. Lagi pula menurutnya, jika harus berbicara kualitas sepakbola, maka Spanyol bisa dijadikan acuan.

Evan Dimas saat mendapatkan kesempatan langka belajar di Espanyol

Alasan tersebut, selintas masuk akal. Namun ternyata tak sesederhana itu. Sepakbola Spanyol, bahkan di negara-negara unggulan lainnya telah memiliki perencanaan jangka panjang jauh sebelum mereka meraih gelimangan trofi dan prestasi. Tak percaya? Mari lihat kebenarannya…

Jose Luis Astiazaran, mantan presiden La Liga Spanyol, pernah berujar bahwa kemajuan Spanyol sejatinya dimulai dari dua dekade ke belakang.

Jose Luis Astiazaran, mantan presiden La Liga Spanyol, pernah berujar bahwa kemajuan Spanyol sejatinya dimulai dari dua dekade ke belakang

“Strategi kami adalah untuk bekerja keras dalam pengembangan pemain muda lokal (home-grown players) dan mencoba mengkombinasikannya dengan pemain-pemain berpangalaman,” ungkap Astiazaran seperti dinukil dari The Telegraph.

Pernyataan tersebut adalah kebenaran. Bahkan, pada masa awal karier melatih Josep Guardiola di Barcelona B, ia membangun tulang punggung timnya dengan kekuatan pemain muda berbakat dari Barca Juvenil (U19) dipadukan dengan pemain berpengalaman. Itu di Barcelona, dan tentu saja hampir sebagian besar klub Spanyol menggunakan cara yang sama.

Perlu diperhatikan juga, klub-klub di Spanyol memang memiliki tim cadangan (reserve) yang dapat berkompetisi di liga profesional asalkan tidak dalam satu divisi dengan tim utamanya. Tentu saja, keuntungan ini banyak digunakan para klub untuk memainkan talenta mudanya (yang telah berbaur dengan pemain berpengalaman) untuk mencicipi kompetisi profesional di Segunda A (setara kasta kedua), Segunda B (setara kasta ketiga) dan kasta dibawahnya.

Timnas Indonesia U-19 pernah melakukan tur ke Spanyol pada tahun 2014 lalu

“Ketika diriku melewati tahap dari tim Barca Juvenil (U-19) menuju Barca B (tim cadangan), aku berhenti bermain dan melawan pemain yang seumuran denganku dan berhadapan langsung dengan pemain yang mungkin 10 tahun lebih tua dariku bahkan lebih tua. Itu merupakan lompatan besar dan memberikanmu kesempatan apakah dirimu mampu untuk bersaing dengan mereka atau tidak,” ujar Sergio Busquets, seperti dikutip dari laman Grup 14.

PSSI dan PT Liga Indonesia memang merencanakan agar mewajibkan tim utama di kompetisi Indonesia Super League memiliki pemain muda U-23 dalam skuat tim utama bahkan mewajibkan untuk memainkannya sebagai starter tiap pertandingannya sebanyak tiga orang. Meski terlihat sedikit janggal, ini baru rencana dan belum diputuskan secara final.