Kisah

Marko Simic: Jawaban Atas Masalah Besar Persija Jakarta dalam Dua Musim Terakhir

Zakky BM mengajak kita mengenal lebih jauh mesin gol anyar Persija Jakarta ini dan dampak apa yang bisa ia berikan bagi klub ibukota tersebut di Liga 1 2018 mendatang...

We are part of The Trust Project What is it?

Bisa dibilang, salah satu ‘kearifan lokal’ dari kompetisi sepakbola Indonesia adalah proses seleksi pemain terutama untuk pemain asing. Setiap masa pra-musim, banyak klub akan beramai-ramai menerima pemain asing yang ingin ‘melamar’ lewat jalur seleksi selama sepekan sampai dua pekan lebih. Jika bagus, tentu saja akan si pemain dikontrak (setidaknya satu musim) dan jika tak menunjukkan hal positif, tentu mereka akan dilepas begitu saja.

Prosesi seleksi pemain asing yang menjadi kearifan oleh klub lokal negeri kita ini semakin terbantu dengan adanya turnamen pra-musim seperti Piala Presiden. Bahkan ada beberapa tim yang hanya mengontrak pemain asing tertentu dengan durasi waktu satu kompetisi pra-musim saja. Ini adalah buah dari buruknya sistem scouting dari klub-klub indonesia yang kerap mengandalkan seleksi dan hanya sekedar potongan video saja. Mungkin dalam beberapa musim terakhir, hanya ada klub-klub seperti Mitra Kukar, yang kerap mendapatkan pemain asing ciamik (terutama di pos penyerang yang belum pernah merumput di Indonesia) berkat kelihaian dari hasil scouting mereka.

Selayaknya klub-klub Indonesia lainnya, Persija Jakarta pun kedatangan banyak pelamar terutama pemain asing. Namun ada satu nama pemain asing yang tak diseleksi kedatangannya, ia adalah Marko Simic. Penyerang berumur 30 tahun asal Kroasia ini dikontrak langsung oleh pihak Macan Kemayoran dengan beberapa kesepakatan. Persija tampak yakin dengan kemampuan rekrutannya yang satu ini untuk menjadi juru gedor tim di lini depan untuk musim 2018 mendatang.

 

A post shared by Persija Jakarta (@persijajkt) on

Sikap Persija untuk tidak menyeleksi Simic ini tentu patut diapresiasi. Artinya, mereka sudah mempelajari bagaimana cara Simic bekerja di lapangan. Dengan segala kemampuan yang dimiliki Simic, ia memang sosok yang dicari coach Stefano ‘Teco’ Cugurra untuk menambal lini depan Persija yang kurang tajam musim lalu.

Toh semua juga tahu, bahwa Persija musim lalu lebih terkenal dengan ketangguhan pertahanannya (terbaik di musim 2017, kebobolan hanya 24 gol) ketimbang ketajaman lini depannya. Tak percaya, musim lalu Persija hanya mampu menjebol lawan 46 kali saja dan ini jumlah paling sedikit di antara tim-tim delapan besar (Persija posisi keempat) musim 2017 lalu. Pada ajang ISC A 2016 lalu mereka malah lebih mengenaskan: Macan Kemayoran yang bertengger di posisi 14 cuma mencetak  25 gol saja dan kebobolan 42 gol. Tiga nama striker asing Persija musim lalu; Bruno Lopes, Luiz Junior, dan Reinaldo Da Costa hanya bisa mencetak total 16 gol dari 46 gol Persija musim lalu.

Meski solid di belakang, Persija masih punya masalah di lini depan di Liga 1 2017 lalu

Melihat catatan-catatan tersebut, musim ini, gaya bermain yang diterapkan oleh Teco cukup ofensif dengan mengandalkan soliditas lini tengah dan juga kecepatan pemainnya. Musim lalu Teco berhasil membenahi lini bertahan Persija dan kini waktunya membangun lini serang yang klinis saat memanfaatkan peluang. Simic menjadi pelengkap kepingan skema tersebut sebagai penyelesai segala peluang yang dibuat para pemain Macan Kemayoran di lapangan. Karena akan percuma jika berbagai variasi diterapkan namun lini depan tak mampu menyelesaikan peluang.

“Saya bangga bisa bergabung dengan Persija. Saya memilih Persija karena rekomendasi yang bagus tentang klub ini. Saya tahu bahwa ini adalah klub besar, punya sejarah yang panjang dan juga suporter yang besar,” kata Simic dilansir laman Goal Indonesia. “Kami akan bermain di Piala AFC dan kami punya target yang tinggi di sana dan di Liga 1. Saya ingin bermain di level tinggi, seperti di Persija. Kami punya ambisi yang sama besarnya,” lanjutnya.