Masih Adakah Harapan Arsenal Finis di Posisi Empat Besar?

Dengan semakin dekatnya musim 2016/17 dengan garis finis, Nanda Febriana melihat peluang tim-tim enam besar yang terus bersaing memperebutkan empat tiket ke Liga Champions musim depan. Masih adakah peluang untuk Arsenal?

Tahta Premier League 2016/17 bisa dikatakan hampir menjadi milik Chelsea dengan keunggulan tujuh poin yang mereka miliki atas Tottenham Hotspur di tempat kedua. Dan, dengan perolehan poin kedua tim tersebut hingga pertengahan April ini (Chelsea 75 poin, Tottenham 68 poin), sangat kecil kemungkinan tim-tim asal London itu akan gagal mendapatkan tiket Liga Champions 2017/18. 

Dua jatah tiket yang tersisa pun menjadi rebutan duo Manchester, Liverpool, dan Arsenal. Namun nama yang disebut terakhir kini menjauh dari persaingan setelah kekalahan telak 3-0 dari tim sekota mereka, Crystal Palace di awal pekan ini. Liverpool yang kini berada di peringkat tertinggi dari keempat tim ini (posisi ketiga, 63 poin) bukannya tak mungkin terdepak dari empat besar mengingat mereka sudah memainkan 32 laga, sementara Manchester City (61 poin) masih menyimpan satu laga dan ​​Arsenal (54 poin)​ serta ​​Manchester United​ (57 poin)​ di posisi kelima masih menyimpan dua laga lebih sedikit dari The Reds.

Perhitungan secara matematis tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran untuk menebak-nebak bagaimana klasemen Premier League musim ini akan berakhir. Pasalnya, di luar Chelsea dan Spurs, empat tim lainnya kerap limbung saat seharusnya meraih tiga poin. Hanya dua tim London teratas itulah yang berhasil meraih empat kemenangan atau lebih dalam lima laga terakhir liga (Spurs selalu menang). 

Jadi, bagaimana peluang setiap tim untuk merebut tiket Liga Champions 2017/18? 

1. Chelsea (30 laga, 75 poin) 

Pasukan Antonio Conte melaju begitu stabil musim ini karena begitu banyak faktor. Formasi yang sesuai dengan komposisi pemain, kualitas pemain di atas rata-rata yang sebagian besar pernah merasakan juara di bawah Jose Mourinho, dan pelatih yang tak kenal takut seperti Conte. Kombinasi yang menghasilkan konsistensi luar biasa – Diego Costa dkk bahkan tidak pernah kehilangan poin dalam dua laga beruntun sejak September lalu. 

Dengan tujuh laga tersisa, keunggulan tujuh poin atas Spurs yang juga sudah memainkan jumlah laga yang sama, serta didukung sejarah Premier League yang tak pernah menciptakan skenario penggulingan tahta oleh sebuah tim yang tertinggal tujuh poin di tujuh laga terakhir, The Blues hanya perlu waspada terhadap diri mereka sendiri. 

Dengan tujuh laga tersisa, keunggulan tujuh poin atas Spurs yang juga sudah memainkan jumlah laga yang sama, The Blues hanya perlu waspada terhadap diri mereka sendiri

Salah satu tantangan terberat tentu adalah lawatan ke Old Trafford pada 16 April mendatang. Setan Merah boleh mendapatkan ejekan atas begitu banyaknya hasil imbang yang mereka torehkan, tapi mereka juga sudah tak terkalahkan dalam 20 pertandingan terakhir di liga. Bermain di hadapan suporter sendiri tentu akan mereka anggap sebagai bukan waktu yang tepat untuk mengakhiri rekor tersebut. 

Setelah menghadapi United, The Blues akan menghadapi Southampton, Everton, Middlesbrough, West Brom, Sunderland, dan Watford. Dalam rangkaian laga-laga tersebut, Chelsea hanya butuh lima kemenangan lagi untuk menahbiskan diri sebagai juara dan minimal tujuh poin lagi untuk memastikan kembali ke panggung elit Eropa (dengan skenario United, yang kini berada di posisi kelima, menyapu bersih delapan laga tersisa mereka dengan kemenangan). Dengan empat laga di antaranya akan dihelat di Stamford Bridge, sulit untuk membayangkan The Blues gagal berlaga di Liga Champions musim depan. 

Prediksi posisi akhir klasemen: 1

2. Tottenham Hotspur (31 laga, 68 poin)

Ada alasan besar mengapa The Blues sebenarnya tak perlu terlalu merisaukan Spurs yang saat ini terus menempel mereka di papan klasemen. Salah satunya adalah jadwal pertandingan berat yang menanti pasukan Mauricio Pochettino di tujuh laga tersisa. 

Spurs masih harus berhadapan dengan Arsenal dan Manchester United yang bakal sangat ngotot menang demi mendapatkan posisi empat besar. Di laga akhir pekan ini, mereka harus berhadapan dengan Bournemouth yang hanya sekali menelan kekalahan dalam lima pertandingan terakhir mereka, di mana kekalahan itu diderita dari sang pemimpin klasemen, Chelsea. 

Spurs masih harus berhadapan dengan Arsenal dan Manchester United yang bakal sangat ngotot menang demi mendapatkan posisi empat besar. Akhir pekan ini, mereka harus berhadapan dengan Bournemouth yang hanya sekali menelan kekalahan dalam lima pertandingan terakhir mereka

Di sisi lain Mauricio Pochettino layak mendapatkan pujian atas kinerjanya dalam beberapa tahun terakhir di White Hart Lane karena menjadikan timnya sebagai salah satu pesaing gelar yang kian sulit ditaklukkan. Bersama United, mereka menjadi tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit (3) di sepanjang musim ini dan dengan pertahanan terbaik di liga dengan hanya kebobolan 22 gol. Catatan itu diimbangi dengan produktivitas yang bagus (64 gol, terbaik ketiga di Premier League). Absennya Harry Kane karena cedera tak menghentikan performa impresif Spurs yang mencetak 11 gol dalam empat laga sejak striker Inggris itu masuk ruang perawatan. 

Secara matematis Spurs butuh 14 poin lagi untuk aman dari kejaran Liverpool dan Manchester United sebagai dua tim yang diestimasikan akan mendapatkan poin paling minim dengan menempati posisi empat dan lima dan jumlah poin yang sama. Poin maksimal yang bisa diraih United dan Liverpool sendiri adalah 81 poin. Itu artinya dari tujuh laga tersisa Spurs, mereka setidaknya harus meraih empat kemenangan, dua hasil seri, dan hanya boleh kalah sekali, dan calon lawan-lawan mereka adalah Bournemouth, Crystal Palace, Arsenal, West Ham, Manchester United, Hull City, dan Leicester City. Rumit, tapi mereka tetap memiliki peluang terbesar dibanding empat tim di bawah mereka. 

Prediksi posisi akhir klasemen: 2   

3. Manchester City (31 laga, 61 poin) 

Manchester City memang menempati posisi keempat klasemen saat ini dengan 61 poin, tertinggal dua poin dari Liverpool yang sudah mengoleksi 63 poin, tapi anak asuh Pep Guardiola ini memainkan satu laga lebih sedikit (31) dari The Reds (32). 

Dalam tujuh laga terakhir, City akan berhadapan dengan Southampton, Manchester United, Middlesbrough, Crystal Palace, Leicester City, Watford, dan West Brom. Skenario terbaik tentu saja jika City sukses mendulang poin maksimal dengan merebut kemenangan di semua laga dan finis dengan 82 poin, satu poin di atas lebih banyak dari poin maksimal Liverpool, dan empat poin lebih banyak dari United yang bisa termasuk sebagai lawan yang mereka kalahkan di tujuh laga terakhir.

Sementara itu skenario terburuk yang bisa terjadi untuk City adalah jika Manchester United bisa mengalahkan semua musuh-musuhnya, termasuk mereka, dan begitu halnya dengan Liverpool, kemudian Spurs bisa meraup setidaknya 12 poin di laga tersisa mereka – City jelas bisa terdepak dari empat besar sekalipun memenangi enam partai lainnya. Chelsea bahkan hanya butuh lima poin untuk meraih tiket Liga Champions jika skenario ini yang terjadi. 

Seberapa besar peluang itu terwujud menjadi kenyataan? Pertama-tama, peluang Manchester United untuk memenangi semua laga mereka sulit terjadi dengan performa inkonsisten dan fokus yang terbelah ke Europa League. Pun halnya dengan Liverpool yang juga hobi tampil angin-anginan. 

Skenario terburuk untuk City adalah jika United bisa mengalahkan semua musuh-musuhnya dan begitu halnya dengan Liverpool, kemudian Spurs bisa meraup setidaknya 12 poin di laga tersisa mereka – City jelas bisa terdepak dari empat besar sekalipun memenangi enam partai lainnya

Jika menggunakan perhitungan dengan metode lain, misalnya dari poin rata-rata yang dicapai per laga, United yang memiliki poin rata-rata 1,9 poin hingga 30 laga, maksimal hanya akan meraup 15 poin dari delapan laga tersisa mereka dihitung dari rata-rata poin per laga saat ini. Liverpool sedikit lebih baik dengan rata-rata 1,96 poin per laga dan maksimal bisa mendapatkan 12 poin dihitung dari rataan tersebut di enam laga terakhir, sedangkan Spurs yang memiliki 2,1 poin per laga mungkin akan mampu maksimal meraup 15 poin dalam tujuh laga. Itu artinya, Spurs bisa jadi akan finis dengan 83 poin, Liverpool 75 poin, sedangkan United 72 poin. City yang memiliki rataan 1,96 poin per laga bisa akan finis dengan total 75 poin dan masuk ke posisi empat besar dengan torehan poin yang sama dengan Liverpool. 

Tapi, apapun metode perhitungan matematika yang digunakan untuk memprediksi klasemen akhir musim ini, semuanya kembali tergantung pada performa di atas lapangan hijau. Sepakbola bukan ilmu matematika solid seperti yang digambarkan Mourinho saat membela performa timnya kontra Everton. Saat itu Mourinho mengklaim bahwa Manchester United seharusnya menang 2-1 karena ada gol Zlatan Ibrahimovic yang dianulir oleh hakim garis hingga membuat pasukannya hanya meraup satu poin dengan hasil imbang 1-1. Yang lupa dipertimbangkannya adalah gol Zlatan yang dianulir offside 'diciptakan' ketika skor masih 1-0 untuk keunggulan Everton. Katakan jika gol itu tidak dianulir, apakah bisa dipastikan skor akan berakhir 2-1, dengan Zlatan mencetak gol 'kedua' dengan cara yang sama persis seperti golnya untuk hasil laga sesungguhnya yang berakhir 1-1? Bagaimana jika itu malah membuat pemain Everton memberikan respon yang positif? 

Sama dengan perhitungan rata-rata poin di atas, relativitas ikut ambil bagian. Jika United memainkan jumlah laga dan menorehkan poin yang sama dengan Liverpool saat ini, 63 poin (bisa diestimasikan seperti ini karena United memiliki dua laga di tangan yang bernilai maksimal enam poin), keduanya akan berebut posisi empat besar bersama City dengan poin maksimal 75 poin (dihitung dengan sistem poin rata-rata) dan nasib mereka ditentukan oleh aturan selisih gol.  

Prediksi posisi akhir klasemen: 3