Melihat Bundesliga Lebih Dekat: Chicharito, Currywurst dan Gol-Gol Spektakuler

Dari fasilitas media hingga maskot dan segala sesuatu di dalamnya, Bundesliga merupakan sebuah sistem yang membutuhkan kecermatan pada detail. FourFourTwo diberi kesempatan langka untuk merasakan itu semua ...

Tor. Ini adalah bahasa Jerman untuk gol, di antara terjemahan lainnya, dan merupakan istilah yang lebih sering digunakan di pertandingan Bundesliga daripada liga Eropa lainnya.

Kami hanya menjalankan langkah kami melawan diri kami sendiri. Kami tidak berlomba dengan Premier League

- Carsten Cramer, Borussia Dortmund

Kecuali dalam empat musim sejak diluncurkan pada tahun 1963, termasuk dalam 25 tahun terakhir, Bundesliga telah menghasilkan rata-rata gol lebih tinggi dibanding liga lainnya di benua Eropa.

Mengingat gol adalah alasan utama suporter menonton sepak bola, itu adalah statistik yang mengesankan, dan liga ini begitu meriah saat FourFourTwo menyaksikannya secara langsung, tapi ada sesuatu yang dari itu nanti.

Premier League mendominasi tontonan sepak bola di seluruh dunia, dengan jumlah uang yang semakin meningkat dari kesepakatan hak siar TV dan kemampuan mereka untuk menggunakan uang itu untuk merekrut sejumlah pemain terbaik dunia, membuat mereka mampu memastikan untuk setidaknya mempertahankan posisi mereka saat ini dalam beberapa tahun ke depan.

Tapi sepakbola Jerman terus berkembang dan memiliki karakternya sendiri, sesuatu yang sangat menarik bagi penggemar mereka.

Menjaga Agar Harga Tetap Terjangkau

Harga rata-rata tiket untuk menghadiri pertandingan Bundesliga hanya €14 (US$ 21,50), jauh lebih murah daripada liga utama di Italia (€19), Spanyol (€34) dan Inggris (€39).

Harga makanan dan minuman juga tetap rendah. Borussia Dortmund, misalnya, telah menolak keputusan berulang-ulang untuk menaikkan harga bir dan merchandise mereka dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka juga telah menolak perusahaan bir internasional yang jauh lebih besar untuk menjaga hubungan dengan bir Dortmund, Brinkhoff, kesepakatan yang saat ini berjalan hingga tahun 2020.

Suporter adalah yang terpenting dan tidak ada upaya yang dilakukan untuk bersaing dengan atau menutup selisih kekayaan dengan klub-klub raksasa Premier League.

BACA JUGA  Playmaker yang terlahir kembali di Dortmund

"Ini bukan bagian dari jalan kami," kata Direktur Pemasaran dan Penjualan Borussia Dortmund, Carsten Cramer.

"Kami hanya menjalankan langkah kami melawan diri kami sendiri. Kami tidak berlomba dengan Premier League."

"Kami sangat yakin bahwa Anda tidak akan menemukan tempat lain di mana Anda akan merasakan sepak bola dengan cara yang intens dan emosional seperti itu."

Julian Brandt merayakan golnya saat melawan Wolfsburg

Itu adalah tujuan utama dari perjalanan FourFourTwo ke Jerman - untuk mendapatkan apresiasi penuh dari Bundesliga di semua tingkatan.

Pada akhir perjalanan yang diisi dengan menyaksikan tiga pertandingan secara langsung, dua wisata stadion dan sejumlah kegiatan lainnya, rasanya tidak mungkin untuk tidak terkesan dengan pendekatan liga ini.

Fokus Pada Pemain Muda

Ini dimulai dengan presentasi di kantor pusat Bundesliga di Frankfurt, di mana sistem liga dan banyak target direncanakan, sebelum perjalanan ke akademi Eintracht Frankfurt.

Sistem akademi Jerman adalah elemen kunci yang menjadi alasan di balik kemenangan menakjubkan negara tersebut di Piala Dunia 2014.

Sebagai bangsa yang sangat bangga dengan olahraga, sepak bola Jerman berada di fase yang buruk pada pergantian milenium, tergelincir dari Juara Dunia pada tahun 1990 ke tempat ketujuh delapan tahun kemudian.

Segalanya jadi jauh lebih buruk di Euro 2000, dengan Die Mannschaft hanya finis di posisi 14 dari 16 tim yang ambil bagian, dengan hanya satu hasil imbang dan dua kekalahan dalam tiga pertandingan grup mereka. Itu jelas bahwa sesuatu harus diubah dan federasi Jerman cepat mengambil tindakan.

Fokus perubahannya adalah pada pengembangan pemain muda, dengan setiap tim Bundesliga wajib memiliki akademi sendiri atau izin mereka akan dicabut.

Emre Can adalah salah satu produk sukses akademi di Jerman

Jadi dimulai lah revolusi yang kemudian berujung pada tim yang luar biasa berbakat yang menghancurkan hati Brasil di Piala Dunia dengan kemenangan 7-1 di semifinal, sebelum Mario Gotze yang baru berusia 22 tahun mencetak gol kemenangan di perpanjangan waktu melawan Argentina di final.

Di antara pemain inti tim tersebut, Thomas Muller, Philipp Lahm dan Toni Kroos adalah lulusan dari akademi muda Bayern Munich, sementara Mesut Ozil (Schalke), Gotze (Borussia Dortmund) dan Manuel Neuer (Schalke) juga produk dari rezim baru.

Pemain Liverpool, Emre Can adalah salah satu pemain dalam garis panjang dari anak-anak berbakat yang telah berkembang melalui akademi Frankfurt dan ke dalam sepak bola profesional.