Analisa

Melihat Kebangkitan Sepakbola Belanda di Eropa

Berada satu grup dengan dua juara dunia terakhir, Belanda yang dalam masa transisi dianggap akan hancur di UEFA Nations League. Kenyataannya justru berbeda.

We are part of The Trust Project What is it?

Berada satu grup dengan Prancis dan Jerman di kancah UEFA Nations League, membuat Belanda dianggap akan kesulitan lolos ke fase selanjutnya. Jerman yang berstatus sebagai juara dunia 2014 dan Prancis juara dunia 2018 tentu salah satu faktor utamanya. Belum lagi, baik di Jeman maupun di Prancis, mereka banyak diperkuat oleh pemian-pemain yang melanglang buana di liga top Eropa.

Sepakbola Belanda memang seperti pesakitan pasca menjadi runner-up di Piala Dunia 2010 dan juara ketiga di Piala Dunia 2014 silam. Gagal total ke Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018 membuat Belanda tak lagi dilirik sebagai salah satu kekuatan utama sepakbola dari Eropa. Padahal di masa-masa jayanya, sepakbola menyerang khas total football selalu saja lekat dengan imej skuat Oranje ini. Masa-masa 2014 hingga 2018 ini praktis hanya sepakbola wanita mereka saja yang naik daun pasca menjuarai Piala Eropa Wanita 2017 di hadapan pendukung mereka sendiri.

Poin kegagalan regenerasi jelas dituding sebagai biang permasalahan di tim nasional Belanda. Nama-nama seperti Arjen Robben dan Wesley Sneijder masih dipakai Belanda saat menghadapai kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa di tahun lalu. Belum lagi generasi Kevin Strootman, Ibrahim Affelaay dkk yang sempat menguap entah kemana. Hilangnya mata rantai regenerasi ini juga memaksa para pemain veteran harus turun lagi membela Belanda.

Selain masalah regenerasi, masalah pelatih juga sempat menghinggapi skuat Oranje. Kepindahan Louis Van Gaal pasca Piala Dunia 2014 ke Manchester United diteruskan oleh Guus Hiddink kemudian Danny Blind dan juga oleh Dick Advocaat. Sialnya, pergantian-pergantian pelatih tersebut tak menolong Belanda ke arah yang lebih baik. Sampai pada akhirnya Ronald Koeman ditunjuk federasi sepakbola Belanda (KNVB) pada awal 2018 lalu untuk menangani tim nasional, semua menjadi lebih baik. Sampai tulisan ini dibuat, Koeman telah menjalani total 10 laga dengan empat kali kemenangan, empat kali imbang dan dua kali kalah.

Sebelum memulai sesi pelatihan pertamanya di Belanda, Koeman sempat mengatakan bahwa, “saya akan memperjelas situasi (mengenai kondisi timnas) ini kepada pemain, dan juga diri saya sendiri.” Tujuannya jelas, Koeman ingin Belanda mempunyai visi bermain saat UEFA Nations League dimulai. “Ketika kita semua memulai UEFA Nations League, saya harap kita semua telah menyelesaikan fase eksperimen. Setelahnya, kita harus mempunyai kerangka tim dan gaya bermain yang jelas. Tujuan kita adalah lolos kualifikasi Piala Eropa tahun 2020 nanti.”

Benar saja, UEFA Nations League yang dimulai pada awal september 2018 lalu, telah menjadi titik mula Belanda untuk bertarung demi satu tempat di Piala Eropa 2020. Sebelum UEFA Nations League dimulai, Koeman tercatat lima kali uji tanding dengan hasil dua kali menang, dua kali imbang dan sekali kalah. Formasi 5-4-1, 3-5-2, 5-3-2, 3-4-2-1 hingga 4-3-3 ia terapkan pada laga uji tanding tersebut. Pelbagai variasi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa Belanda akan memakai paten 4-3-3  dengan dua gelandang yang cukup baik dalam bertahan serta mengontrol bola dan sisanya, Koeman akan meyesuaikan strateginya di tengah-tengah pertandingan.

Salah satu kecerdikan Koeman, dan juga manfaat darieksperimen uji tanding sebelum UEFA Nations L eague digelar mulai terasa dampaknya. Twit di atas memperlihatkan bahwa Koeman secara cerdik mengubah formasi dari 4-3-3 menjadi 3-5-2 dengan mendorong Virgil van Dijk menjadi penyerang tengah bersama Luuk De Jong. Kondisi Belanda yang tertinggal 1-2 dari Jerman akhirnya bisa disamakan oleh Van Dijk lewat golnya di menit akhir. Selain masalah mentalita, kecerdikan pelatih juga sangat teruji kali ini.