Kisah

Memahami dan Memaklumi Maksud di Balik Hebohnya Bung Jebret

Saat Vicki Sparks pertama kali muncul sebagai komentator perempuan pertama acara Piala Dunia di acara televisi wilayah Britania Raya, tak sedikit yang meragukan bahkan mengejeknya. Tentu saja, warganet Britania Raya-lah yang melakukan hal diskriminatif tersebut. Sindiran agar mengecilkan volume televisi hingga ajakan untuk mengaktifkan opsi mute menjadi cukup heboh. Laga fase grup B Piala Dunia 2018 antara Portugal versus Maroko menjadi debut Vicki saat itu.

We are part of The Trust Project What is it?

Kemunculan Vicki tersebut juga memancing mantan bek Chelsea dan tim nasional Inggris, John Terry, untuk berkomentar di media sosial. Ia menuliskan 'having to watch this game with no volume' atau bisa diartikan dengan ‘menonton laga (yang dipandu Vicki) ini tanpa volume’. Unggahan tersebut memancing pro dan kontra mengenai seksisme sampai akhirnya Terry memberikan klarifikasinya bahwa TV yang ia temui memang “rusak” sehingga tak keluar suaranya.

Saat ini, atau setidaknya sejak akhir tahun 2017 lalu, dunia sepakbola Indonesia kembali dihiasi dengan kembalinya salah satu komentator kondang yang sempat vakum, yaitu Valentino Simanjuntak. Valentino, yang biasa disapa dengan panggilan Bung Jebret ini, mendadak menjadi pembicaraan banyak orang karena pembawaannya yang cukup heboh saat memandu laga-laga di televisi nasional; baik itu laga antar klub di Liga 1 ataupun laga tim nasional Indonesia. Kehadirannya tersebut membuat kembali semarak persepakbolaan Indonesia.

Baik Vicki maupun Bung Jebret, keduanya pernah menuai pro dan kontra. Jika masalah Vicki jauh lebih serius yaitu masalah seksisme dan kesetaraan gender, untuk isu Bung Jebret setidaknya hanya soal masalah selera masing-masing telinga pemirsa yang mendengarkan ocehannya di tiap laga. Namun uniknya, tanggapan untuk kedua sosok ini hampir sama; banyaknya ajakan untuk menonton tayangan sepakbola yang mereka pandu dengan cara mematikan suara (mute) atau hanya sekadar mengecilkan suaranya. Setidaknya, itulah yang berkembang di media sosial saat ini.

Dalam wawancaranya bersama laman Beritagar pada tahun 2017 lalu, ia mengaku cukup ‘geli’ sendiri jika mendengar ulang ‘playback’ dari siaran-siarannya di studio. Namun itu pilihan yang telah ia buat dengan kesepakatan tim produser acara juga.

“Tujuan gue bukan sensasi. Enggak lain enggak bukan, gue cuma mau Indonesia juara. Yang kedua, gue mau memberikan tontonan yang berbeda ke penonton. Gue tentu paham jika terlalu banyak bicara itu mengganggu, tapi jika terlalu diam itu justru akan membentuk suasana datar dan hampa. Ya, itu namanya pilihan,” ungkapnya.

Topics