Kisah

Memahami Pep Guardiola: Bagaimana Ia Berpikir, Metode Kepelatihannya, Hingga Obsesi Terbesarnya

Setelah Pep Guardiola memberikan dua gelar juara pada Man City di musim yang fantastis ini, Andy Murray memberikan gambaran seperti apa metode kepelatihan dan cara berpikir sang perfeksionis ini

We are part of The Trust Project What is it?

Feature ini pertama kali muncul di majalah FourFourTwo edisi Maret 2016.

Alih Bahasa: M. Rezky Agustyananto

Ia dianggap sebagai pelatih paling inovatif di Eropa, dan setelah musim perdananya yang tak terlalu sukses, Pep Guardiola akhirnya membawa Manchester City merebut gelar juara Premier League dengan dominasi yang luar biasa. Jadi apa rahasianya? Bagaimana metode lelaki Katalunya ini dalam bekerja? Lihatlah 16 poin dalam cetak biru Pep Guardiola...

Ia menuntut kontrol sepenuhnya

Di Bayern, perseteruan antara Guardiola dengan dokter tim Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt yang telah mengabdi lama di klub berakhir dengan pengunduran diri sang dokter setelah 38 tahun di klub

Jangan pernah mempertanyakan otoritas Pep Guardiola. Ini adalah seseorang yang perlu merasa dicintai oleh semua orang, dari ruang rapat direksi hingga lapangan latihan, jika Anda ingin ia membawa revolusinya ke klub Anda.

Meski ia kesulitan dengan beban kerjanya sebagai juru bicara de facto Barcelona di bawah Presiden Joan Laporta, dukungan Guardiola untuk orang yang memberikannya kesempatan besar di dunia manajerial dengan tim B mereka tak pernah luntur. Ketika Sandro Rosell – seorang operator politik yang tajam yang tak dipercaya Guardiola – menggantikan Laporta pada awal 2010, alienasi yang terjadi kemudian ikut berperan penting dalam keputusan Pep untuk meninggalkan Barça pada akhir musim 2011-12 dan berdiam diri di New York. Jarak 6.000 km yang Guardiola buat dengan mantan bosnya itu memberikannya rasa tenang.

Di Bayern, perseteruan antara Guardiola dengan dokter tim Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt yang telah mengabdi lama di klub berakhir dengan pengunduran diri sang dokter (setelah 38 tahun di klub), setelah berkali-kali dituduh bahwa ia bertanggung jawab terhadap masalah cedera yang kerap muncul di tubuh Die Roten.

Sebelum dipenjara karena mengemplang pajak, eks presiden Bayern, Uli Hoeness, makan siang dengan Guardiola hampir setiap hari, momen-momen di mana keduanya saling bertukar cerita sambil menyantap sepiring sosis rostbratwurst. Meski Guardiola dan Karl-Heinz Rummenigge, seorang pengagum Pep yang begitu sering memuji bakat besar pelatihnya tersebut, kerap minum kopi bersama, hubungan keduanya menjadi dingin setelah CEO Bayern itu mengatakan pada Juli 2015 dalam tur klubnya ke Tiongkok, bahwa klub akan tetap bertahan hidup tanpa pemimpinnya. 

Meski menuntut kontrol total, Guardiola setidaknya menyadari bahwa ia tidak bisa merevolusi seisi skuat secara keseluruhan. Dukung dia, berikan dia apa yang ia mau, atau Pep akan pergi.

Fleksibel secara taktik

…dan ia menginginkan hal yang sama dari para pemainnya. Mengapa? Karena Guardiola telah memahami instruksi taktik yang paling kompleks sekalipun sejak ia masih remaja.

“Sekarang kamu akan bermain sebagai false winger,” kata mantan kepala akademi La Masia, Oriol Tort, kepada Pep yang masih berusia 13 tahun ketika timnya tertinggal 1-0 di babak pertama dari tim kecil, Carmel – bukan ide yang mudah untuk diproses oleh seorang gelandang tengah bertubuh kurus sepertinya. Namun Guardiola kemudian bergerak ke area yang kosong antara tengah lapangan dan rekannya di sisi lapangan.

“Kami menang 3-1 dan saya menyentuh bola lebih banyak dalam 15 menit daripada di sepanjang babak pertama,” tulisnya dalam otobiografinya pada 2001 yang sudah tak diproduksi lagi, ‘La Meva Gent, El Meu Futbol’ (‘Orang-Orang Saya, Sepakbola Saya’). “Hanya dengan pindah dua kaki, saya bisa mengubah ritme permainan secara radikal. Tort mengetahui sepakbola lebih banyak daripada mereka yang menciptakan permainan ini.”

Jika seorang anak berusia 13 tahun bisa melakukannya…

Komunikasi adalah kunci

Ia mengenal para pemainnya secara intim. Ia ikut menangis dengan pemain muda Bayern, Pierre-Emile Hojbjerg ketika sang gelandang kehilangan ayahnya karena kanker perut

Singkatnya, Guardiola sangat senang berbicara soal sepakbola. Ini adalah sebuah proses yang dimulai saat pertama kali ia bertemu dengan para pemainnya, dan terus berlanjut di sepanjang sesi latihan (“Ia akan menghentikan permainan sepanjang waktu untuk memperbaiki dan menjelaskan apa yang ia inginkan dari kami,” kenang Dani Alves soal awal karier Pep di Barcelona) dan bahkan hingga menjadi obrolan individu setiap harinya. Pujian pun akan diberikan ketika ia merasa pantas memberikannya.

Guardiola adalah tipikal orang yang akan menghabiskan dua jam per hari untuk membicarakan empat mata tentang pengambilan posisi yang ia inginkan dari para pemainnya. Sebagai seorang pemain yang terus belajar, Jerome Boateng adalah pemain yang paling mendapatkan manfaatnya di Bayern Munich, membuatnya memiliki kecerdasan yang melengkapi kualitas fisiknya, sementara Philipp Lahm terus menghabiskan 15 menit setiap setelah sesi latihan untuk berbicara tentang detail soal permainan lini tengah tim, dengan sinyal penjelasan yang terus diberikan dengan tangannya. Namun bagi pemain-pemain yang instingtif seperti Franck Ribery, sedikit instruksi justru lebih baik.

“Pep tidak hanya memberikan Anda perintah,” kata Gerard Pique. “Ia juga menjelaskan alasannya.”

Ia mengenal para pemainnya secara intim. Ia ikut menangis dengan pemain muda Bayern, Pierre-Emile Hojbjerg ketika sang gelandang kehilangan ayahnya karena kanker perut pada April 2014. Ia hanya menginginkan maksimal 20 pemain di skuat tim utama karena ia benci harus mengatakan pada pemain bahwa mereka gagal masuk dalam skuat pertandingan yang hanya berisi 18 orang saja.

Ia juga memvariasikan apa yang ia katakan, tetapi bukan lewat sebuah rencana psikologis yang sudah diatur sedemikian rupa, tetapi lebih kepada ekspresi yang benar-benar ia rasakan. “Anak-anak, kalian semua hebat,” katanya kepada para pemain Barcelona sebelum pertandingan penentuan gelar juara tahun 2010 melawan Villarreal, yang terjadi hanya dua hari setelah kekalahan di semifinal Liga Campions dari Inter Milan asuhan Jose Mourinho. “Saya hanya ingin katakan satu hal. Jika kita keluar dan kalah, dan kita gagal merebut juara liga, jangan khawatir.” Mereka kemudian menang 4-0.

Ia membangun tim di sekeliling seorang dirigen

Johan Cruyff sering mengatakan pada saya bahwa jika saya dilanggar, itu adalah kesalahan saya sendiri karena saya memegang bola terlalu lama; saya seharusnya mengumpannya lebih cepat

- Pep Guardiola

Di Barcelona, ada Sergio Busquets; atau terkadang Xavi atau Andres Iniesta. Untuk Bayern, ada Thiago Alcantara, Xabi Alonso, dan Philipp Lahm yang mendapatkan peran ini. Dalam setiap pertandingan, Guardiola akan memilih avatar-nya – pemain yang pekerjaannya adalah membuat permainan terus berjalan, seperti yang dulu ia lakukan.

Dalam otobiografinya tahun 2001, ia menulis, “[Mantan pelatihnya di Barça, Johan] Cruyff sering mengatakan pada saya bahwa jika saya dilanggar, itu adalah kesalahan saya sendiri karena saya memegang bola terlalu lama; saya seharusnya mengumpannya lebih cepat.”

Meski demikian, Guardiola juga menginginkan apa yang ia sebut sebagai “para pemain dengan tombol pause”. Mampu mempertahankan bola setengah detik lebih lama daripada gelandang lainnya, mereka membuat lawan melakukan kesalahan dalam pengambilan posisi. Ia sendiri melakukannya dengan lebih baik daripada kebanyakan orang. “Saya mencoba mengelabui lawan agar berpikir saya akan mengumpan ke sisi lapangan lagi,” katanya dalam Pep Confidential, buku tahun 2014 dari Marti Perarnau tentang musim pertama Guardiola di Bayern, “dan kemudian – boom! – saya akan membuat mereka terpecah dengan sebuah umpan ke dalam kotak penalti untuk seorang pemain depan.” 

Pemahaman akan hal tersebut lah yang membuatnya membuat keputusan mengejutkan untuk memainkan Lahm di tengah lapangan alih-alih di posisi aslinya sebagai full-back.

“Ia super-cerdas,” kata Guardiola soal kaptennya yang elegan itu. “Ia memahami permainan dengan brilian; tahu kapan harus masuk dan kapan harus bertahan di sisi lapangan. Orang ini benar-benar luar biasa.”

Singkatnya, Lahm menjadi gelandang pengaturnya, titik tengah di mana tim akan bergerak di sekelilingnya. Hanya pemain-pemain yang paling cerdas yang bisa memainkan peran ini, yang menuntut seorang pemain melakukan segala yang dilakukan oleh dua gelandang bertahan – mempertahankan bola, pengambilan posisi, dan melakukan intersep – dalam formasi 4-2-3-1 yang jarang digunakan oleh Guardiola karena menurutnya formasi ini kurang menyerang.

Ketika ia benar-benar menginginkan dominasi total akan bola, ia akan memilih mantan penerusnya di Barcelona, Thiago, sebagai dirigen lapangan, pemain yang ia minta oder nichts (“atau tidak sama sekali”) ketika ia mengambil alih posisi pelatih kepala dari Jupp Heynckes pada 2013.

“Dasarnya ada di sana: mempertahankan penguasaan bola dan memainkan bola dari belakang,” jelas Thiago kepada FourFourTwo, saat membandingkan dua mantan timnya tersebut. “Tentu saja, setiap tim berbeda, tetapi tim Pep manapun akan selalu mendasarkan permainan mereka pada mempertahankan bola. Itu adalah mentalitasnya.”

Aturan 32 Menit

Pembicaraan soal intensitas Guardiola dalam bekerja bukanlah sesuatu yang baru. Ia mendedikasikan hampir sepanjang waktunya ketika terjaga untuk merencanakan sesi latihannya, memikirkan skema taktik yang akan digunakan, dan mempelajari pemain-pemain potensial dan calon lawan. Hanya dengan sepenuhnya fokus pada bagaimana timnya akan bermain, dan bagaimana para pemainnya saling berinteraksi di lapangan, ia bisa merasa mampu memberikan kemampuan terbaiknya.

Asisten pribadinya, Manel Estiarte, menyebutnya ‘Aturan 32 Menit’. Itu adalah periode waktu ketika Guardiola bisa sepenuhnya tidak memikirkan sepakbola, sebelum pikirannya kembali ke sana. Terkadang ia harus diberitahu untuk makan, atau pulang ke rumha untuk bermain dengan anak-anaknya, Maria, Marius, dan Valentina. Kemudian, setelah setengah jam, ia akan mengurung diri lagi di kantornya atau pikirannya akan bercabang ke mana-mana.

Estiarte menjelaskan soal aturan ini di Pep Confidential, dan mengatakan, “Ia mulai melihat ke langit-langit, dan meski ia mengangguk seolah mendengarkan, ia mungkin sedang memikirkan soal bek kiri lawan.”

Pages