Kisah

Memimpikan Persatuan Indonesia di Atas Tribun

Sementara Malaysia punya Ultras Malaya, bagaimana dengan tim nasional Indonesia? Memiliki sebuah kelompok suporter yang bisa bersatu dalam mendukung timnas Indonesia secara vokal dari atas tribun adalah sebuah impian, namun ada masalah yang masih harus ditekel oleh para suporter sendiri...

We are part of The Trust Project What is it?

Seberapa penting kehadiran suporter dan suara mereka di dalam stadion bagi tim yang bertanding?

Mungkin hanya sedikit penjelasan ilmiah dan saintifik tentang ini. Tapi di dunia sepakbola, dan olahraga pada umumnya, ada keyakinan bahwa suporter memberikan dorongan psikologis yang besar bagi para pemain yang berada di atas lapangan; kita tahu, para pemain yang tak hanya mengandalkan otak atau skill individu saja untuk bisa menampilkan performa terbaik, tetapi juga menggunakan mental dan emosi.

Untuk bisa setidaknya mendapatkan gambaran pentingnya kehadiran suporter, mari kita tengok kembali pertandingan final SEA Games 2017 beberapa hari lalu.

Akibat urusan tiket final yang berantakan, Ultras Malaya, suporter setia tim nasional Malaysia, memutuskan untuk memboikot pertandingan tersebut. Mereka tidak hadir atas nama solidaritas dengan para suporter lain yang tidak bisa mendapatkan tiket karena; 1. Tiket sulit didapat dan hanya dijual secara offline; dan, 2. Karena sebagian tiket (dan jumlahnya cukup besar) malah dialokasikan ke keluarga, rekanan, atau partner panitia SEA Games 2017 dan pemerintah Malaysia.

Imbasnya, timnas U-22 Malaysia harus bertanding di laga puncak melawan Thailand tanpa dukungan suporter mereka yang paling vokal. Oke, stadion tetap diisi penuh oleh para penonton dari Malaysia, tetapi mereka bukan suporter – mereka penonton. Tak ada nyanyian dukungan yang terus menerus selama 90 menit, hanya sorakan ketika Malaysia menyerang, dan hening ketika tuan rumah diserang.

Malaysia memang memberikan perlawanan bagus untuk Thailand, sang raja sepakbola Asia Tenggara, tapi pada akhirnya, mereka kalah 1-0 karena gol bunuh diri kiper Malaysia, Haziq Nadzli.

Tentu saja, ketidakhadiran Ultras Malaya tidak menjadi satu-satunya alasan mengapa Malaysia akhirnya kalah hari itu. Bagaimanapun gol Thailand terjadi berkat kesalahan (atau kesialan) Nadzli. Thailand tidak menang karena kehebatan mereka, tapi karena faktor lain.

Tapi jika Anda menonton pertandingan tersebut, bisa dikatakan Malaysia memang tidak pantas meraih kemenangan. Performa mereka bisa dibilang menurun; bahkan jika dibandingkan ketika menghadapi Indonesia tiga hari sebelumnya di semifinal, di mana mereka sempat kesulitan di babak pertama namun bisa bangkit di babak kedua.

Apakah tidak adanya teriakan Ultras Malaya menjadi penyebab performa anti-klimaks mereka? Ini tentu bisa diperdebatkan. Kita tidak bisa mengatakannya sebagai sebuah kepastian karena harus ada bukti-bukti empiris untuk bisa menuduh aspek tersebut secara pasti. Tapi kita bisa menduga, berhipotesis, bahwa faktor itu ada.

Dukungan Ultras Malaya mungkin ikut berperan dalam keberhasilan Malaysia menjatuhkan Indonesia (Foto: Asiana.my)

Bagaimanapun, kekuatan Ultras Malaya memang luar biasa. Anggota mereka yang hadir di hampir setiap pertandingan Harimau Malaya bisa mencapai 20.000 orang, dan semuanya berteriak, bernyanyi, melompat, dan bertepuk tangan bersama-sama. Kehadiran mereka mempengaruhi atmosfer stadion. Anda yang hadir di Shah Alam ketika Indonesia harus kalah menyakitkan 1-0 akhir pekan lalu mungkin tahu betapa hebatnya atmosfer stadion hari itu karena kehadiran Ultras.

Bayangkan bagaimana rasanya menjadi pemain di atas lapangan, yang didorong tak hanya oleh energi dalam tubuh, tapi juga semangat yang secara langsung ataupun tidak, dipengaruhi oleh atmosfer stadion. Bahkan pelatih sekelas Jose Mourinho saja terus menerus mengkritik suporter klubnya sendiri ketika mereka begitu hening di kandang sendiri. Karenanya, bisa kita simpulkan, kehadiran suporter yang begitu vokal di dalam stadion mungkin memang bisa mempengaruhi penampilan sebuah tim di atas lapangan.

Pages