Mengapa Choirul Huda Adalah Tipe Pemain Langka di Indonesia

Dia berhasil 'melawan' tren di sepakbola Indonesia dengan hanya membela klub daerah asalnya di sepanjang kariernya sebagai pemain. Inilah alasan mengapa Choirul Huda begitu istimewa.

Jika saja tiang dan mistar gawang di Stadion Surajaya mempunyai jiwa dan indera perasa, kami yakin tiang gawang itu akan menjadi salah satu yang tersedih mendengar sahabat karibnya yaitu Choirul Huda harus meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Meninggalkan dunia, artinya, meninggalkan tiang gawang tersebut pula yang sudah setia bersamanya dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi.

Ini akan menjadi kisah sendu paling epik jika saja tiang gawang di stadion Surajaya tersebut ternyata belum pernah diganti sejak mendiang Huda beraksi bagi Persela Lamongan sejak umurnya 20 tahun pada tahun 1999 lalu. Perjalanan panjang Huda dan aksi-aksi heroiknya di bawah gawang akan menjadi kenangan yang terus melekat bagi tiang serta mistar gawang tersebut.

Kepergian sang legenda memanglah patut dikenang. Sudah banyak tulisan yang mengarsipkan perjalanan Huda yang cukup loyal bersama Persela Lamongan. Padahal, Persela bukanlah klub mentereng seperti Arema, Persib atau Persipura. Persela adalah hanya salah satu dari banyak klub asal Jawa Timur yang berkiprah di kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia.

Karier Huda bersama Persela penuh dengan warna.

"Persela biar tim kecil, namun rasa kekeluargaannya besar. Selama Persela ada, Insya Allah saya akan tetap main di sini," ungkap Huda suatu kali, seperti yang dilansir dari laman Bolacom.

"Insya Allah tawaran banyak. Sempat ada keinginan untuk pergi juga, namun begitu saya ingat semua hal di Persela, saya mengurungkan niat itu. Lagi pula, sejak pertama kali (awal karier) saya sudah mengidolakan Persela," lanjutnya.

Pelbagai tawaran dari klub-klub besar Indonesia memang pernah mampir kepadanya. Dalam setiap arsip yang mengisahkan perjalanan panjang Huda, selalu ada bagian khusus yang menceritakan bagaimana banyak klub berusaha merayu Huda untuk keluar dari Persela dan pada akhirnya tulisan tersebut memuji Huda karena ia tetap loyak untuk klub asal Lamongan tersebut.

Puja-puji untuk Huda memanglah hal yang normal. Kesetiaan bagi satu klub adalah barang mahal terutama di sepakbola Indonesia. Hal tersebut menjadi mahal karena klub-klub Indonesia kerap kali menyodorkan kontrak kepada pemainnya untuk jangka waktu yang pendek, hanya satu musim saja. Logikanya, Huda bisa mencari klub lain sebagai pelabuhan barunya di saat Persela mendatangkan kiper baru, atau Persela sedang masuk masa krisis keuangan. Tapi nyatanya, Huda tak melakukan itu.

"Persela biar tim kecil, namun rasa kekeluargaannya besar."

“Zaman saya dahulu aktif bermain, rata-rata para pemain bermain bersama lima sampai enam tahun di klub yang sama," ungkap Toyo Hartono, salah satu mantan penggawa Krama Yudha Tiga Berlian di kompetisi Galatama, dilansir laman Bolanet.

“Di klub pro luar negeri, biasanya kontrak pemain berlangsung selama tiga tahun. Satu musim sebelum kontrak itu usai, para agennya sibuk untuk menghubungi klub-klub lain, apakah akan ada yang menawar pemainnya tersebut. Di sini tidak, bahkan sampai satu bulan jelang usai kontrak pemain belum juga diberi kabar apakah ia kontraknya akan diperpanjang oleh klub tersebut," kata Valentino Simanjuntak, CEO Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Indonesia (APPI) pada 2011 lalu kepada laman Bolalob.

"Faktor utama ada pada pendanaan klub yang tidak pasti, lalu dana umumnya dari APBD yang notabene tidak perlu pertanggung jawabankan, dan pengurus klub yang kurang memiliki tanggung jawab terhadap pemain," lanjutnya.