Kisah

Mengapa Choirul Huda Adalah Tipe Pemain Langka di Indonesia

We are part of The Trust Project What is it?

Pengakuan Toyo Hartono dan pemaparan fakta lapangan oleh Valentino tersebut menjadi kontradiksi dengan keadaan sepakbola Indonesia di era professional (sejak 1994 lalu) hingga sekarang. Ketidakpastian kontrak serta dana pemasukan klub dalam sepakbola professional kita ini seakan menjadi salah satu dari sekian cacat sepakbola dalam negeri. Dan sekali lagi, Huda mampu bertahan dari badai kontrak pendek sepanjang kariernya di Persela.

"Kalau ada klub di daerah asal, kenapa harus bela yang lainnya. Saya senang ada di Persela karena ini adalah klub kebanggaan publik Lamongan," kata Huda dilansir dari laman Viva pada tahun 2016 lalu. "Bukan apa-apa, bagi saya materi itu tak penting. Saya cuma ingin membela klub yang sudah jadi bagian hidup saya," lanjutnya.

Membela klub daerahnya adalah cita-cita Choirul Huda sejak kecil

Sekali lagi, Huda menegaskan bahwa loyalitas itu tidak ada batasannya. Meski banyak rintangan dari mulai sistem kontrak hingga keuangan klub itu sendiri, Huda tetap setia mengenakan kebesaran Persela, klub asal kota kelahirannya, bahkan saat mengembuskan napas terakhir pun, ia masih mengenakan logo Persela di dadanya.

"Manajemen sangat baik, dan sebagai putra daerah salah satu alasan saya bertahan di tim ini dari godaan tim lain adalah, saya sudah diangkat sebagai pegawai negeri sipil karena bermain di Persela," bebernya, seperti dilansir laman Goal.

Kini simbol dari loyalitas itu sendiri telah tiada. Mimpi-mimpinya untuk pensiun di Persela ternyata terlebih dahulu diintersep oleh Sang Maha Kuasa saat masih aktif bersepakbola. Belum lagi mimpi-mimpinya yang lain yang ikut terkubur seperti melanjutkan studinya menjadi sarjana dan juga salah satu kerikil dalam karier sepakbolanya yaitu bermain membela tim nasional Indonesia.

Meski pernah dipanggil ke timnas Indonesia senior untuk pertama kalinya dalam kualifikasi Piala Asia pada 2013 lalu, ia masih terpinggirkan menjadi pemain pelapis karena kalah saing dengan kiper lainnya. "Agak telat memang masuk timnas. Tapi, tak masalah. Itu sudah menjadi sebuah kebanggaan," tutur Huda.

Akhirnya, Persela adalah Huda, dan Huda adalah Persela itu sendiri. Baru-baru ini secara Persela mengumumkan bahwa nomor punggung 1 akan dipensiunkan sebagai penghormatan bagi legenda sepakbola Lamongan dan Indonesia tersebut. Kami pun besar berharap bahwa Persela akan mengabadikan nama Huda sebagai nama pengganti Stadion Surajaya Lamongan yang telah menyemai mimpi anak muda bernama Choirul Huda sampai mengantar sang legenda di akhir hayatnya.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com