Mengapa Claudio Ranieri Pantas Dipecat Oleh Leicester City?

Dari sisi emosional, pemecatan Claudio Ranieri memang pantas disesalkan. Tapi mengapa ia sebetulnya memang layak untuk dipecat?

Kami jamin, takkan ada yang benar-benar gembira ketika Claudio Ranieri resmi di depak dari kursi kepelatihan Leicester City di pertengahan musim ini. Bahkan pemilik, manajemen atau siapapun itu yang mengambil keputusan pemecatan ini, mereka harus menelan pil pahit karena orang yang mereka pecat adalah pria yang mampu menghadirkan keajaiban di King Power Stadium sepanjang sejarah klub mereka.

Wakil direktur Leicester City, Aiyawatt Srivaddhanaprabha berujar bahwa, “Ini adalah keputusan paling sulit yang kami buat dalam perjalanan tujuh tahun kami (King Power) mengambil alih Leicester City.”

“Tapi kami memiliki kewajiban untuk mendahului kepentingan jangka panjang klub di atas semua sentimen pribadi, sebesar apapun itu,” lanjut Aiyawatt.

Ini adalah keputusan paling sulit yang kami buat dalam perjalanan tujuh tahun kami (King Power) mengambil alih Leicester City. Tapi kami memiliki kewajiban untuk mendahului kepentingan jangka panjang klub di atas semua sentimen pribadi, sebesar apapun itu

- Aiyawatt Srivaddhanaprabha

Tentu saja banyak yang menyayangkan bahkan mencemooh keputusan manajemen dari Leicester City ini. Mulai dari Gary Lineker, legenda sepakbola Inggris sekaligus mantan pemain Leicester, hingga Jose Mourinho, pelatih dari Manchester United yang secara blak-blakan mendukung Claudio Ranieri.

Tak cukup juga? Hampir semua media massa dan jurnalis internasional menyayangkan dan melabeli manajemen Leicester sebagai sekumpulan orang yang tak bersyukur dan tak tahu berterimakasih.

Sihir The Tinkerman – jukukan Ranieri – di Leicester musim lalu memang mampu membuat mereka sebagai “the people champions” sekaligus “real champions”. Mereka telah memenangkan gelar dan memenangkan hati orang banyak, khususnya penggemar sepakbola. Kisah heroik yang pantas menjadi dongeng sebelum tidur untuk diceritakan dari generasi ke genarasi.

Namun Leicester City yang mengalami krisis (sebelum menang dari Liverpool, tentunya) memang pantas mempertanyakan kemampuan Ranieri dalam meracik strategi dan motivasi timnya. Bayangkan saja, pasca tahun baru 2017, Leicester tak bisa menang di kompetisi Premier League Inggris (sejak vs Middlesbrough, 2/1) hingga dikalahkan oleh Swansea (12/2), beberapa waktu yang lalu.

Yang lebih buruk, mereka tak bisa mencetak gol sama sekali dalam periode buruk tersebut! Catatan absurd ini merupakan yang terburuk dari seluruh kontestan di empat tingkat kompetisi sepakbola Inggris. Ke mana Jamie Vardy? Ke mana Riyad Mahrez? Ngapain saja sih, Ranieri ini?

Target Leicester musim ini memang tak muluk-muluk untuk kembali menjuarai liga lagi. Cukup bertahan di persaingan papan tengah Premier League Inggris musim ini, seharusnya mampu mereka lakoni. Namun momentum buruk merusak semua rencana Ranieri. Momentum buruk bisa lahir dari apapun. Entah kekalahan, kelelahan atau bahkan kesialan.

Leicester City yang mengalami krisis (sebelum menang dari Liverpool, tentunya) memang pantas mempertanyakan kemampuan Ranieri dalam meracik strategi dan motivasi timnya. Bayangkan saja, pasca tahun baru 2017, Leicester tak bisa menang di kompetisi Premier League Inggris

Jika bicara kekalahan dalam sepakbola sebagai bentuk dari sebab akibat, maka sudah pasti permainan di lapangan-lah yang menjadi penyebabnya. Banyak pengamat yang memprediksi kehilanagn N’Golo Kante akan berpengaruh banyak. Mereka benar, Kante bersama Chelsea kini sedang meroket, Leicester justru tenggelam.

Catatan statistik pun berkata demikian. Persentase kemenangan Leicester dengan Kante musim lalu berkisar 62,1% dan tanpa Kante sebesar 19,2%. Perbedaan yang mencolok. Namun, kembali lagi, apakah Ranieri tak memiliki sistem serta taktik alternatif ketika kehilangan Kante?

Mudahnya, jika mereplikasi Kante sekaligus kinerjanya di lapangan adalah hal yang tak mungkin, seharusnya Ranieri mempunyai formula yang sudah dipersiapkan sedari awal musim ini. Toh, Kante hijrah ke Chelsea tepat di bursa transfer musim panas. Banyak waktu yang bisa digunakan untuk menambal hal tersebut.

Kenyataannya, Ranieri masih sering memainkan formasi andalan 4-4-2 nya (kerap menjadi 4-4-1-1) sepanjang musim ini, persis apa yang ia terapkan musim lalu. Leicester kerap kesulitan menghadapi tim yang bertahan terlalu dalam. Tak terlihat lagi Mahrez yang mampu menggiring bola untuk merusak pertahanan lawan.

Laman Telegraph melansir sebuah berita yang cukup mengejutkan. Kabarnya Ranieri kerap kali mengubah taktik dua jam sebelum pertandingan berlangsung dan ini membuat para pemainnya kebingungan.