Mengapa Ezra Walian Lebih Memilih Timnas Indonesia Ketimbang Timnas Belanda?

Ezra Walian akhirnya resmi menjadi warga negara Indonesia (meski belum disumpah sebagai WNI) setelah surat Keputusan Presiden keluar yang mengesahkan statusnya sebagai pemain naturalisasi Indonesia. Tapi mengapa ia akhirnya memilih Indonesia ketimbang mencoba menembus timnas Belanda?

Seperti tak mau kehilangan momentum jelang jeda internasional yang bakal banyak menggelar pertandingan sepakbola antar negara, penerbitan surat Keppres RI Nomor 5/PWI Tahun 2017 yang ditandatangai oleh presiden Joko Widodo resmi dikeluarkan pada Senin, 20 Maret 2017 lalu. Tujuannya sangat jelas; mengesahkan Ezra Walian menjadi warga negara Indonesia agar bisa memperkuat timnas Garuda.

Naturalisasi bagi tim nasional Indonesia memang bukan hal yang baru, baik untuk warga keturunan ataupun warga asing yang lama telah menetap di Indonesia. Contoh paling populer dalam sepakbola Indonesia adalah Stefano Lilipaly (yang merupakan warga keturunan) dan Cristian Gonzales (yang merupakan warga asing yang lama menetap di Indonesia).

Pemuda yang bernama Ezra Walian menjadi buah bibir masyarakat kita pasca mengunggah foto dukungannya dengan bendera merah putih untuk tim nasional Indonesia saat Piala AFF 2016 lalu. Tak ayal, spekulasi datang membanjiri media massa; “Apa mungkin pemain Jong Ajax Amsterdam ini akan membela tim nasional Indonesia?”

Perjalanan karier Ezra memang cukup menanjak. Bahkan ia sendiri pernah membela tim nasional Belanda dalam berbagai kategori umur seperti U-15, U-16 hingga U-18. Kejuaran level Eropa pun pernah ia ikuti, macam penyisihan Piala Eropa U-17 bersama tim nasional Belanda, hingga kejuaraan UEFA Youth League (Liga Champions-nya pemain muda) saat bersama Ajax U-19. Singkatnya, ia berada dalam jalur yang benar untuk menjadi pemain besar.

Jalur yang benar menuju pemain besar tersebut ia raih dengan usaha keras. Persaingan di Belanda apalagi di Ajax Amsterdam yang disebut-sebut sebagai pabriknya pemain muda berbakat di Eropa ini sangatlah sulit. Bersantai-santai bukanlah pilihan bagi mereka yang ingin sukses bersama klub sebesar Ajax.

Kemampuan teknikal Ezra sebagai penyerang tentu tak perlu diragukan. Fasih bermain dalam skema 4-3-3 di segala posisi penyerangan membuat keuntungan bagi tim nasional Indonesia arahan Luis Milla yang kemungkinan besar mengadopsi sistem 4-3-3 juga. Jangan lupakan juga rekor pribadi miliknya yang menceploskan lima gol dalam satu pertandingan tim nasional Belanda U17 versus San Marino. Padahal saat itu ia hanya baru berumur 15 tahun, 11 bulan, dan 27 hari. Luar biasa!

Namun, mengapa bisa Ezra Walian lebih memilih Indonesia ketimbang Belanda? Adakah desakan dari orang tua terutama sang ayah yang merupakan keturunan Manado?

Pertanyaan ini sudah pasti menjadi sasaran banyak orang bagi Ezra maupun sang ayah itu sendiri. Namun, apa jawab sang ayah yang ikut menemani Ezra latihan perdananya bersama timnas Garuda?

"Saya rasa Ezra tidak bisa menerangkan alasannya untuk bergabung ke sini karena keputusan itu diambil berdasar perasaannya sendiri. Saya juga tidak menekan dia untuk bergabung karena keputusan itu murni dari dirinya sendiri," ungkap Glenn Walian, ayah Ezra Walian beberapa hari yang lalu.

Keingintahuan Ezra terhadap tanah leluhurnya ini muncul saat ia bermain di turnamen sepakbola yang diselenggarakan Singapura. Saat itu dirinya bermain ciamik dan jadi sorotan media massa.

“Ketika ayah saya menyebut kami ada keturunan Indonesia, tiba-tiba wartawan terus menanyakan soal Indonesia. Saya kaget juga (atas antusias tentang Indonesia ini),” ungkap Ezra.

Tak mengherankan ia terus banyak mencari tahu tentang Indonesia dan seluk-beluknya, tentang pemain-pemain keturunan Belanda yang mempunyai darah Indonesia. Bahkan, sebelum ia resmi menjadi warga Indonesia melalui proses naturalisasi, ia terhitung cukup sering berlibur ke Indonesia.

“Saya sering mendengar soal Ambon, karena banyak orang Belanda keturunan sana. Saya juga mendengar cerita tentang Irfan Bachdim yang pernah jadi primadona di sini. Saya juga kenal dengan Lilipaly. Makin hari, saya semakin mencintai Indonesia. Saya sudah merasa menjadi bagian dari negeri ini," lanjut Ezra.