Mengapa Fabregas Performanya Merosot Pada Periode yang Sama Tiap Musimnya

Arsenal terlempar dari perburuan gelar, Barcelona melepasnya karena alasan itu dan kini sejarah terulang di Chelsea, jurnalis FFT, Aanu Adeoye, memberikan analisanya...

Tidak banyak hal yang pasti di dalam dunia yang terus berubah-ubah ini, tapi pajak, kematian dan Tony Pulis membawa sebuah klub Premier League selamat dari jurang degradasi adalah pertaruhan yang aman.
 
Namun, selama enam musim terakhir, menurunnya performa Cesc Fabregas pasca Natal setelah start yang mengesankan tampaknya juga nyaris selalu pasti.
 
Dalam periode terbaik karirnya, pemain Spanyol ini mengulang siklus yang familiar dari mengawali musim dengan brilian, namun mengakhirinya dengan kepayahan.
 
Di awal musim ini, Fabregas merupakan det ak jantung tim Chelsea yang melenyapkan semua lawan dan mengancam  menjadi juara, mengatur permainan di lini tengah seperti dalang profesional dan melayani Diego Costa untuk mencetak gol.
 
Tapi sekarang? Itu tidak sering terjadi...

Kepulangan yang Tidak Membahagiakan

Ketika Fabregas mewujudkan mimpinya pindah ke Barcelona dari Arsenal pada musim panas 2011, (selain suporter The Gunners) banyak yang mengharapkan ia akan bertahan untuk waktu yang lama di Katalan untuk menjadi penerus tahta Xavi.
 
Pada kenyataannya, itu tak pernah terjadi, dan klub akhirnya kehilangan kesabaran dengan inkonsistensi dari 'si anak hilang', melepaskannya ke Chelsea dengan kesekapatan senilai 27 juta pound musim panas lalu. Bukanlah hal yang keterlauan untuk sebuah klub memberikan alasan terselubung soal kepergian pemain, tapi sebuah pernyataan yang dikeluarkan situs resmi Barcelona membenarkan kenapa sang pemain Spanyol dijual, mengungkapkan alasan masuk akal kenapa mereka melepas pemain kesayangan dengan dingin.
 
"Meskipun bersinar di setiap awal musim, kontribusi Cesc yang secara bertahap menurun setiap mendekati akhir musim, menjadi penyebabnya," bunyi pernyataan itu. "Dari sosok yang berperan dalam menyerang, mengumpan dan mencetak gol, sentuhan ajaib itu memudar di tiap musim musim. Dia mencetak satu, enam dan satu gol dalam 24 laga terakhir di tiap musim. Untuk beberapa alasan, di paruh kedua musim dia tak pernah sebagus di paruh pertama."
 
"Meskipun bersinar di setiap awal musim, kontribusi Cesc yang secara bertahap menurun setiap musim mendekati akhir menjadi penyebabnya, bunyi pernyataan itu. "Dari sosok yang berperan dalam menyerang, mengumpan dan mencetak gol, sentuhan ajaib itu memudar di tiap musim musim. Dia mencetak satu, enam dan satu gol dalam 24 laga terakhir di tiap musim. Untuk beberapa alasan, di paruh kedua musim dia tak pernah sebagus di paruh pertama."
 
Itu menyakitkan, jika bukan merupakan sebuah penilaian yang adil dari tiga musimnya di Camp Nou.

Mantan pemain Arsenal kembali ke Inggris tapi tidak seperti yang diharapkannya

Penting untuk menanyakan mengapa hal ini menjadi rutinitas menahun. Bagaimana pesepakbola berbakat alami hanya menjadi seorang penonton yang lesu? Selama beberapa musim terakhir di Arsenal, performa yang merosot biasanya bersamaan dengan keluarnya tim dari persaingan meraih gelar.
 
Terhambat oleh serangkaian cedera otot, Fabregas merasakan efek dari memperagakan sistem permainan rapi di sekitarnya, membuat cedera dan kelelahan menjadi sesuatu tak terelakkan.
 
Mungkin satu momen di musim 2009/10 yang menonjolkan betapa tergantungnya tim besutan Arsene Wenger pada kapten mereka yang berpengaruh itu. Aston Villa yang tangguh membuat The Gunners frustrasi pada sore hari di akhir Desember, Fabregas yang belum fit sepenuhnya masuk ke lapangan untuk mencetak gol melengkung dari tendangan bebas berjarak 25 yard dan kemudian menyelesaikan sebuah skema serangan balik yang tajam sebelum keluar lapangan, memegangi bagian hamtringnya, setelah penampilan 27 menit yang luar biasa.
 
Kemenangan itu membawa Arsenal hanya berselisih empat poin dari pimpinan klasemen Chelsea dengan satu pertandingan di tangan, tapi dengan Fabregas mengalami kambuh cedera hamstring dan kemudian absen di beberapa laga krusial, The Gunners terperosok dan akhirnya finis di posisi ketiga, 10 poin di belakang The Blues .

Bermain di Posisi Sayap

Jika penurunan performanya di Arsenal karena ketergantungan sistem permainan tim pada dirinya. itu tak pernah terjadi di Barcelona.
 
Dengan kehadiran Lionel Messi, Andres Iniesta dan Xavi sebagai figur sentral, Fabregas lebih seperti sosok pemeran pendukung daripada pemeran utama, yang memainkan peran penting dalam ketidakefektivitasannya.
 
Meskipun memainkan berbagai peran selama karirnya di Katalan, pemuda Spanyol ini tidak pernah menciptakan posisinya sendiri. Fabregas ditempatkan di lini tengah, di kedua sisi sayap dan gelandang serang.
 
Di leg kedua perempat final Liga Champions musim lalu melawan Atletico Madrid, Tata Martino memilih dia untuk bermain sebagai 'false number nine (striker palsu)' dan hasil buruk bisa dibayangkan.
 
Catatannya di Barcelona sangat mengesankan - 42 gol dan 16 assist dalam 151 pertandingan - tetapi dia hanya memperlihatkan sedikit momen-momen yang hebat dan dua kali mendapatkan ejekan dari pendukungnya sendiri.
 
Pertama ia disiuli saat Bayern mempermalukan raksasa Spanyol dengan agregat 7-0 pada 2013, dan setahun kemudian melawan Atletico Madrid dalam kompetisi yang sama.

Fabregas Menderita saat dimainkan menjadi "False Nine" kala berhadapan dengan Atletico

Pernyataan Barcelona setelah kepergiannya mungkin terdengat kejam, tapi itu didukung oleh fakta angka. Dalam tiga tahun, Fabregas terlibat dalam 43 gol (baik mencetak gol atau memberi assist) di paruh musim pertamanya, menjadi 17 di paruh kedua. Dengan Xavi menjadi pilihan utama di lini tengan, mantan pemain Arsenal ini sering dimainkan di luar posisi aslinya di pertandingan besar, atau bahkan tidak mendapatkan kesempatan bermain sama sekali.
 
Tak pelak hal ini menyebabkan penurunan tajam dalam produktivitasnya. Jika masalahnya di Arsenal adalah ketergantungan berlebihan mereka pada dirinya, masalah utamanya di Spanyol adalah kurangnya kepercayaan yang diberikan kepada dirinya.

Metronom yang Rusak

Sejak pergantian tahun, Chelsea tak lagi berjalan angkuh dan sembrono melawan tim yang mereka kalahkan di awal musim, tak menghasilkan seperti yang dihasilkan tim Jose Mourinho sebelumnya. Tidak mengejutkan jika ini bersamaan dengan menurunnya performa beberapa pemain kunci, terutama Costa dan Fabregas. Bahkan Nemanja Matic bermain buruk beberapa kali, memperlihatkan  kelengahan yang sama sekali tak terbayangkan pada empat atau lima bulan lalu.
 
Dan sementara Eden Hazard dengan gagah terus menyeret rekan satu timnya untuk memenangkan Premier League, Fabregas menjadi sorotan dari performa Chelsea sebelum dan sesudah Natal.
 
Pemain berusia 27 tahun ini menghasilkan sampai 15 assist Premier League dalam paruh pertama musim ini, dan menyumbangkan gol penting di Crystal Palace dan Stoke. Sekarang sudah 10 pertandingan dia tidak memberikan assist dan gagal mencetak gol di semua kompetisi sejak mencetak gol melawan The Potters pada 22 Desember.
 
Fabregas tampak letih, dan meskipun memenangkan beberapa gelar, dia terlihat sangat minim kepercayaan diri. Hasil imbang hari Minggu melawan Southampton membuktikan sebuah titik nadir, dengan pemain Spanyol ini dicemooh oleh sebagain pendukung Chelsea. Meskipun ia menciptakan 103 umpan akurat dari 120 secara keseluruhan - kelima kalinya di musim ini dia menciptakan 120 umpan - ia kehilangan bola sebanyak 27 kali, lebih banyak dari pemain di kedua tim.

"Saya masih bermain dengan baik kan bos?"

Berkurangnya kontribusi Fabregas tidak dapat dipisahkan dengan kurangnya rotasi dalam skuad Mourinho yang membuatnya memainkan 25 laga The Blues di Premier League.
 
Meskipun Oscar menyingkirkan Juan Mata untuk mengenakan seragam nomor 10 tahun lalu, pemain Brasil ini nyaris tidak bermain di posisi itu musim ini. Mourinho terus-menerus memilih Fabregas, ketika memilih Oscar sebagai pelapisnya mungkin menjadi pilihan yang lebih logis.
 
Performa pemain Spanyol itu juga terganggu dengan cedera otot yang dialaminya di Arsenal, dan ia terlihat tidak sepenuhnya bugar dalam beberapa bulan terakhir.
 
Dengan Manchester City yang goyah dan kurangnya persaingan dari tim-tim lainnya di liga, yang memberikan Chelsea ruang untuk bernafas, sulit dibayangkan selain pita biru melilit trofi Premier League saat tim asuhan Mourinho menjamu Sunderland pada Mei mendatang.
 
Fabregas memainkan perannya di paruh pertama musim ini, namun Chelsea harus melihat ke Hazard untuk terus melanjutkan sihirnya saat mereka berlomba menuju garis finish. Sejarah telah berulang, dan sang pemain Spanyol tampak habis lagi di musim semi.

Hull vs Chelsea ANALISIS LANGSUNG dengan Stats Zone UNDUH SEKARANG iOS • Android