Mengapa Guardiola Tidak Bertahan di Bayern Munich dan Apa Warisannya?

Pada hari Minggu kemarin, akhirnya diumumkan bahwa ini akan menjadi musim terakhir Pep Guardiola di Bavaria. Tetapi apa yang ditinggalkan Guardiola di sana – dan mengapa ia tak mau bertahan? Jonathan Harding mengevaluasinya…

Kegembiraan di Jerman ketika Pep Guardiola diumumkan sebagai pelatih utama baru Bayern Munich sangat terasa. Popularitas Bundesliga sebagai sebuah brand langsung meningkat dua kali lipat dalam satu malam dan media sosial meledak dengan hashtag Spanyol setelah Bayern mendapatkan pelatih terbaik di dunia setelah musim yang diwarnai dengan treble. Dan semua ini terjadi sebelum negara tersebut memenangi Piala Dunia di Brasil.

Tiga tahun berlalu tetapi perasaan itu sudah cukup terlupakan, digantikan dengan rasa pahit. Selama berbulan-bulan, ketua Bayern, Karl-Heinz Rummenigge ‘optimis’ tetapi awan tebal telah semakin besar di atas kepala Guardiola. “Besok, besok,” kata Guardiola setelah kemenangan di Hannover, merespon pertanyaan tentang masa depannya.

Hari esok itu akhirnya tiba, dan bagi banyak fans Bayern tidak sehari lebih awal. Sejak pertama kali isu kepergiannya muncul, isu tersebut malah semakin besar dan semakin besar. Konferensi pers sosok asal Spanyol ini dipenuhi oleh hiperbola dan kenyataan yang pahit, tetapi akhirnya ketakutan itu telah menjadi kenyataan bagi fans Bayern: Guardiola akan pergi.

Brutalitas Bavaria

Setiap musim, setiap pertandingan, timnya membuat rekor-rekor baru untuk penguasaan bola, poin, atau umpan.

Ketika ia tiba pertama kali di Bayern, orang Catalonia ini dihadapkan dengan tim yang jago dalam hal serangan balik yang memerlukan motivasi baru setelah memenangkan segalanya bersama Jupp Heynckes. Sekarang, setelah sukses membawa timnya menggunakan gayanya, ia meninggalkan Bayern sebagai tim yang sangat serba bisa secara taktik, dengan kepercayaan yang besar pada penguasaan bola dan keyakinan besar bahwa mereka akan menang hingga bahkan sebelum laga dimulai, beberapa pertandingan telah dimenangkan.

Musim ini, penggunaan lima penyerang sekaligus dalam line-upnya terlihat seperti hal arogan bagi lawan-lawannya, dan menunjukkan kepercayaan diri yang besar yang mereka miliki sebelum pertandingan. Tetapi dengan para pemain yang ia miliki, mereka telah sukses besar dan menghasilkan selisih gol hingga +38 dan unggul delapan poin di klasemen Bundesliga di masa libur musim dingin ini. Sementara di setiap pertandingan, Guardiola terus berusaha untuk menyempurnakan sistemnya untuk momen-momen yang bisa menentukan musim.

Setelah menciptakan sebuah mesin di atas lapangan, Guardiola menciptakan sebuah tim di luar lapangan, dengan melakukan perubahan kecil seperti membuat tim makan bersama di sekitar hari pertandingan. Kekuatan mental yang dimiliki oleh tim Bayern miliknya ini luar biasa, dan dengan grup inilah ia sudah memberikan dua, dan akan segera menjadi tiga, gelar Bundesliga. Setiap musim, setiap pertandingan, timnya membuat rekor-rekor baru untuk penguasaan bola, poin, atau umpan. Bayern juga melengkapi lemari trofinya dengan Piala Jerman, Piala Super, dan Piala Dunia Antar Klub di era Guardiola. Ia akan memenangkan cukup banyak gelar setelah pergi dari sana.