Mengapa Kegagalan Demi Kegagalan Arsenal di Liga Champions Adalah Berkat Arsene Wenger

Arsenal kini tercatat sebagai salah satu tim yang paling rajin lolos ke fase gugur Liga Champions Eropa tanpa pernah memenangkannya. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka bahkan seringkali hanya mampir ke babak 16 besar saja sebelum tereliminasi. Karena nasib buruk? Renalto Setiawan menunjukkan mengapa ini bukan karena Arsenal kurang beruntung...

Sekitar satu tahun setelah Arsenal kalah dari Barcelona di pertandingan final Liga Champions musim 2005/06, Arsene Wenger duduk di atas tribun Stadion Olimpiade, Athena, untuk menyaksikan final Liga Champions musim 2006/07 antara AC Milan melawan Liverpool. Seperti seorang analis sepakbola, dia menyaksikan pertandingan final tersebut secara serius. Dan saat pemain-pemain Milan merayakan kemenangannya malam itu, Wenger mengeluarkan komentar. “Anda lihat,” kata Wenger, ”Anda hanya membutuhkan tim biasa saja untuk memenangkan gelar Liga Champions.”

Menurut Wenger, berdasarkan hasil pertandingan itu, keberuntungan dalam sebuah kompetisi sistem gugur itu mempunyai pengaruh yang cukup besar, dan dia menyalahkan keberuntungan ketika Arsenal sering kali gagal di Liga Champions saat mulai melangkah ke fase sistem gugur.

Namun, pendapatnya tersebut justru lebih terdengar konyol daripada terdengar masuk akal. Meski sudah berumur, Paolo Maldini dan Alesandro Nesta, duet bek tengah Milan, tentu saja merupakan yang terbaik pada waktu itu. Sihir Pirlo di Piala Dunia 2006 masih berlanjut di malam final itu. Kaka dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia 2007 bukannnya tanpa alasan, bukan? Salah satu penyebabnya tentu saja kehebatannya dalam membodohi pemain-pemain belakang lawan dalam setiap malam pertandingan Liga Champions. Secara singkat, Milan benar-benar bukan tim biasa saja pada saat itu – mereka terlalu hebat untuk menjadi tim biasa saja.

Mereka biasa saja, Wenger? Serius?

Arsenal tidak beruntung sejatinya bukan karena takdir mengutuk mereka, melainkan karena kadar keras kepala Arsene Wenger yang jauh lebih kokoh daripada Batu Gibraltar di Semenanjung Iberia

Lalu menyoal keberuntungan? Arsenal tidak beruntung sejatinya bukan karena takdir mengutuk mereka, melainkan karena kadar keras kepala Arsene Wenger yang jauh lebih kokoh daripada Batu Gibraltar di Semenanjung Iberia.

Sifat keras kepala Wenger ini bahkan pernah membuat Billy Beane, yang juga merupakan pelopor penggunaan data statistik di dalam olahraga seperti Wenger, mengeluarkan komentar pedas. ”Saat saya berpikir tentang Wenger, saya berpikir tentang Warren Buffett. Wenger menjalankan tim sepakbolanya seperti dia akan memilikinya selama 100 tahun,” begitu katanya.

Wenger yang tak pernah mau belajar

Gary Neville, mantan pemain Manchester United, pernah mengatakan bahwa pendekatan taktik Arsenal sering kali terlihat naif dan arogan

Pada tahun 2015 lalu, Gary Neville, mantan pemain Manchester United, pernah mengatakan bahwa pendekatan taktik Arsenal sering kali terlihat naif dan arogan. Alasan Neville saat itu sederhana: mereka sering memaksa gaya bermain mereka sendiri tanpa memperhitungkan kekuatan tim lawan. Jika dalam gelaran Premier League cara seperti itu mungkin masih tolerir dengan finis di kisaran empat besar pada akhir kompetisi, terutama dalam fase sistem gugur, pendekatan taktik seperti itu di pertandingan-pertandingan krusial Liga Champions tentu saja akan mengakibatkan malapetaka.

Arsene Wenger seharusnya mau belajar dari Sir Alex Ferguson, mantan saingannya di Premier League. Sir Alex Ferguson adalah pemuja sepakbola menyerang. Cita-citanya luar biasa: memiliki tim dengan kemampuan menyerang seperti Real Madrid yang menghancurkan Frankfrut 7-3 di pertandingan final Piala Champions 1960 yang dia tonton sewaktu masih muda.

Wenger seharusnya bisa belajar dari Sir Alex Ferguson

Ferguson kemudian berhasil melakukannya saat membawa United meraih tiga gelar pada musim 1998/99, salah satunya merupakan gelar Liga Champions. Saat itu, berapa pun lawan mencetak gol, United akan mencetak gol lebih banyak. United benar-benar enak ditonton pada waktu itu. Dan yang paling penting, United sulit dikalahkan pada waktu itu – jika mereka kalah, orang-orang akan menganggap mereka hanya kehabisan waktu.