Mengapa Klub-Klub Indonesia Mudah Pindah dan Berganti Nama?

Begitu mudahnya sebuah klub berpindah kandang dan berganti nama. Apa yang mendorong fenomena ini terjadi? Renalto Setiawan membahasnya di sini...

Tak ada yang lebih hebat – nyaris dalam segala hal – daripada Sriwijaya FC dalam gelaran ISL musim 2011/12.

Hanya kalah sebanyak lima kali sepanjang kompetisi, klub asal Palembang tersebut berhasil menjadi juara ISL dengan perolehan 79 poin, unggul sebelas poin dari Persipura yang berada di peringkat kedua.

Dimotori Keith "Kayamba" Gumbs, top skorer sepanjang masa Sriwijaya, lini depan Laskar Wong Kito begitu rakus dalam mengoyak jala gawang lawan. Mereka mencetak 71 gol, 22 di antaranya melalui kaki dan kepala Kayamba, dan tidak ada tim ISL lainnya yang lebih hebat daripada mereka menyoal hal ini.   

Di lini belakang, Nova Ariyanto adalah jaminan mutu, Supardi tak pernah mau berhenti berlari, dan Thierry Gathuesi seperti seorang prajurit perang yang tak takut mati. Kombinasi mereka bertiga membuat gawang Ferry Rotinsulu hanya kebobolan 31 kali, terbaik di antara kontestan-kontestan ISL lainnya.

Sriwijaya FC

Dalam waktu singkat, Sriwijaya FC jadi kekuatan baru sepakbola Indonesia

Dan yang paling luar biasa dari perjalanan Sriwijaya FC sepanjang ISL musim itu adalah militansi para penggemarnya, yang notabene merupakan warga Palembang. Dalam sebuah pertandingan kandang, stadion Jakabaring, markas Sriwijaya FC, pernah menampung 43.103 penggemar Sriwijaya, 3000 orang lebih banyak dari kapasitas seharusnya. Dan dengan rataan sebesar 21.299 orang setiap pertandingan, Jakabaring merupakan stadion "terpadat" dalam gelaran ISL musim 2011/12 tersebut. Tak heran setiap Sriwijaya berlaga di Jakabaring penggemar Sriwijaya berhasil membuat para pemainnya seperti mempunyai tenaga dua kali lipat, sementara pemain-pemain lawan merasa inferior karena teror yang mengerikan.

Gelar juara ISL 2011/12 yang diraih Sriwijaya tersebut melengkapi gelar Liga Indonesia musim 2007/08, dan tiga gelar Piala Indonesia yang diraih secara berturut-turut (2008, 2009, dan 2010).

Keith Kayamba Gumbs

Keith Kayamba Gumbs, bintang utama Sriwijaya FC

Menariknya, Sriwijaya FC berhasil melakukan hal tersebut dalam waktu yang relatif singkat, delapan tahun. Tepatnya delapan tahun setelah nama Sriwijaya FC mulai hadir di kancah sepakbola nasional – sebelum tahun 2004 tidak ada satu pun klub profesional di Indonesia yang bernama Sriwijaya FC.

Sebelum tahun 2004 tidak ada satu pun klub profesional di Indonesia yang bernama Sriwijaya FC

Cikal bakal Sriwijaya FC berawal dari krisis finansial yang dialami oleh Persijatim, sebuah klub asal Jakarta Timur yang didirikan pada tahun 1976. Pada tahun 2002, klub tersebut kemudian pindah markas ke Solo, menjadi Persijatim Solo FC, untuk mencari peruntungan baru. Saat itu, sepakbola di kota Solo sendiri sedang mati suri karena bubarnya Arseto Solo. Sayangnya peruntungan Persijatim tak membaik di Solo. Selama dua tahun berada di Solo, klub tersebut tidak mengalami perkembangan signifikan. Sekali lagi, Persijatim terancam gulung tikar.

Adalah pemerintah provinsi Sumatera Selatan yang kemudian menyelematkan nasib Persijatim. Tak ingin Stadion Jakabaring terbengkalai pasca PON 2004 dan berambisi mempunyai sebuah tim di divisi tertinggi sepakbola Indonesia, pemerintah Sumatera Selatan mencarikan "tuan" bagi stadion baru tersebut. Pemerintah Sumatera Selatan kemudian mengakusisi Persijatim, dan mulai tanggal 23 Oktober 2004 nama Persijatim berubah menjadi Sriwijaya FC. Sejak saat itulah peruntungan Persijatim (Sriwijaya FC) berubah total.