Mengapa Liga 1 Tak Kalah Menarik dengan Liga-Liga Top Eropa

Jangan pernah pandang remeh liga lokal negeri sendiri. Karena jika dilihat lagi, kompetisi lokal sebetulnya bisa lebih menarik daripada liga-liga Eropa...

Kendati jarum jam menunjukkan waktu yang cukup larut bagi seseorang untuk terjaga, Mahardiko tampak begitu intens dan bersemangat menonton jalannya pertandingan Premier League yang mempertemukan Manchester United, tim favoritnya, dengan Everton. Baginya, menyaksikan pertandingan Premier League, terlebih tim yang ia dukung, menjadi hiburan dan memberikan sedikit nilai sentimentil.

Lebih lanjut, Mahardiko berkisah tentang awal mula ia menyukai Premier League. Suatu waktu, kenangnya, sang ayah mengajak Mahardiko menonton pertandingan Manchester United menghadapi Blackburn Rovers dan ternyata pertandingan itulah yang mengantarkan mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran ini mulai menyukai tim merah asal kota Manchester (juga sepakbola) itu. “Mulai dari sana saya menjadi penggemar MU. (Bahkan) Tak lama setelahnya, ayah membelikan game FIFA 2003 yang membuat saya makin mengenal tim-tim di liga Eropa,” tutur Mahardiko.

Alasan-alasan di atas itulah yang membuat Mahardiko lebih menyukai liga-liga Eropa (liga Inggris) daripada liga Indonesia. Selain itu, “Secara kualitas lebih menarik liga Eropa,” katanya lagi.

Premier League begitu besarnya di Asia

Rizqan Alfarisi yang juga lebih menyukai liga-liga di Eropa daripada liga Indonesia punya alasan yang nyaris serupa dengan Mahardiko. Menurutnya, secara teknik permainan, liga Eropa lebih enak untuk disaksikan. Pun dengan kualitas tayangannya di televisi yang semakin membuat pertandingan liga sepakbola Eropa makin menarik. “Subjektif sih,” ujar Rizqan singkat.

Di Indonesia, memang masih cukup banyak yang menganggap liga Indonesia kurang menarik jika dibandingkan dengan liga-liga di Eropa. Di media sosial saja, banyak sekali akun-akun meme sepakbola nasional yang mengkritik habis berbagai keburukan liga Indonesia, misalnya menyebut para pemain yang tak berkualitas baik serta kurang bisa menjaga emosi, wasit yang berat sebelah, hingga hal-hal yang berada di luar ranah teknis pertandingan seperti rumput stadion yang masih berpola tebal-tipis dan kualitas tayangan yang terlihat begitu seadanya.

Memang, harus diakui jika berbagai hal yang disebut di atas dijadikan sebagai indikatornya, liga Indonesia tak akan mampu melebihi aspek hiburan liga-liga top Eropa. Jangankan melebihi, untuk menyamai saja akan sulit sekali. Kendati demikian, sepakbola sebetulnya tak hanya soal teknis permainan atau kualitas tayangan. Ada aspek lain yang turut memengaruhi menarik atau tidaknya suatu pertandingan di liga. Ada beberapa aspek lain yang cukup kuat untuk dapat menyebut liga Indonesia, atau dalam hal ini Liga 1, punya sesuatu yang bisa membuatnya menjadi tontonan yang setara atau bahkan lebih menarik daripada liga-liga di Eropa. Salah satunya adalah jumlah gol.