Analisa

Mengapa Lini Tengah Barcelona Terlihat Mengkhawatirkan Tanpa Iniesta

Paul Wilkes, yang dipersenjatai Stats Zone, berada di Etihad Stadium untuk menonton kemenangan Manchester City atas sang juara La Liga...

We are part of The Trust Project What is it?

Barcelona asuhan Pep Guardiola membanggakan diri dengan sepakbola berbasis penguasaan bola, di mana pelatih yang juga merupakan eks gelandang Barca tersebut menggunakan filosofi yang ia pelajari ketika bermain di bawah asuhan Johan Cruyff. Bos Manchester City tersebut selalu menuntut tim asuhannya untuk menguasai bola sesering mungkin, dan mempertahankan filosofi itu sampai saat ini, meski ia agak sedikit mengendurkan kengototannya itu ketika di Bayern Munich dan sekarang di Etihad.

Ia tahu bahwa adalah hal yang tidak mungkin untuk membangun kembali tim yang mirip dengan tim Barcelona di eranya, dengan banyak pemain bintang di tim adalah produk akademi klub sendiri. Ia juga mencoba menggunakan kekuatan skuat yang ia dapatkan di Munich dan Manchester, sambil di saat yang sama, ia mengajari mereka gaya sepakbola yang ia innginkan.

Namun mungkin alasan utamanya adalah bahwa Guardiola tidak lagi mempunyai gelandang sebagus Xavi dan Andres Iniesta; bahkan Barcelona, yang kini diasuh Luis Enrique, sekarang bermain lebih direct tanpa mereka berdua.

Xavi, Andres Iniesta

Xavi dan Iniesta begitu penting dalam kesuksesan Barcelona selama empat tahun Guardiola di sana

Suksesor yang tak sukses

Rencana awal mereka adalah mengembangkan Cesc Fabregas dan Thiago Alcantara sebagai suksesor, tetapi keduanya meninggalkan Barcelona sebelum Xavi bergabung dengan Al Sadd di Qatar

Xavi meninggalkan Camp Nou tahun lalu, dan karena itu, cedera yang dialami Iniesta pada Oktober lalu memberikan para suporter Barcelona sedikit gambaran bagaimana tim kesayangan mereka pasca era Xavi/Iniesta. Sejauh ini, mereka tidak terlihat menyukai apa yang mereka lihat.

Klub telah mengkhawatirkan periode ini akan datang sejak lama. Rencana awal mereka adalah mengembangkan Cesc Fabregas dan Thiago Alcantara sebagai suksesor duo pemain tersebut, tetapi keduanya meninggalkan Barcelona sebelum Xavi bergabung dengan Al Sadd di Qatar.

Di Etihad pada Rabu dini hari kemarin, Luis Enrique memilih Andre Gomes sebagai partner Ivan Rakitic di lini tengah, dengan Sergio Busquets di belakang mereka sebagai pelindung lini belakang. Pemain multi-posisi asal Portugal ini tak bermain dalam laga akhir pekan kemarin melawan Granada, ketika adik Thiago, Rafinha, mencetak satu-satunya gol dalam laga yang sulit bagi juara Spanyol ini.

Gomes memiliki karakteristik yang berbeda dengan Iniesta, yang berarti ia tidak akan pernah bisa menjadi pengganti sang veteran. Rakitic juga tipikal pemain yang berbeda dengan Xavi, meski ia berhasil memaksa gelandang legendaris itu lebih banyak duduk di bangku cadangan di musim terakhirnya di Katalunya.

Penguasaan bola yang lebih dalam

Barcelona membuat dua kali umpan lebih banyak daripada City, dan menikmati 65 persen penguasaan bola, tetapi hal itu bukan karena Rakitic ataupun Gomes

Iniesta adalah tipe pemain yang bisa melewati pemain lawan sambil menggiring bola dan memberikan umpan-umpan subtil dengan visinya yang luar biasa, sementara Gomes adalah tipe pemain kuat yang memanfaatkan kemampuan fisiknya untuk melewati lawan. Gomes menyelesaikan 36 umpan pada Rabu dini hari lalu – bukan jumlah yang rendah, tetapi jelas jauh lebih sedikit ketimbang Iniesta seandainya ia bermain, dan mengindikasikan adanya perubahan pendekatan di tim asuhan Enrique ini.

Barcelona membuat dua kali umpan lebih banyak daripada City, dan menikmati 65 persen penguasaan bola, tetapi hal itu bukan karena Rakitic ataupun Gomes; bahkan kiper Marc-Andre ter Stegen membuat umpan lebih banyak daripada kedua gelandang tersebut, dan menggambarkan betapa suksesnya City menekan lawan mereka di lini tengah.

Barca masih terus mendominasi bola, tetapi penguasaan bola mereka terjadi di area mereka sendiri. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk mengalirkan bola ke Lionel Messi, Neymar, dan Luis Suarez, karena Blaugrana sendiri kesulitan mengirim bola dari belakang ke area penyerangan.