Analisa

Mengapa Manchester United Harus Meniru Cara Juventus dalam Memaksimalkan Kemampuan Paul Pogba

Paul Pogba

Sejarah, statistik, akal sehat: semuanya menyatakan bahwa performa Pogba membaik jika bermain dalam formasi tiga gelandang tengah, tulis Adam Digby, dan sekarang Jose Mourinho mungkin akan memahami pesan itu.

We are part of The Trust Project What is it?

Sir Alex Ferguson dengan senang hati mengakuinya. "Juventus adalah contoh untuk Manchester United versi saya," ucap mantan penguasa Old Trafford, sadar bahwa ia belajar banyak pelajaran dari Marcello Lippi dan Bianconeri dalam dekade 1990-an.

Kedua pelatih itu beberapa kali saling bertemu di lapangan, dengan manajer asal Skotlandia itu akhirnya mencicipi kemenangannya dalam bagian dari musim terkenal ketika meraih treble winner pada 1999, menyingkirkan Si Nyonya Tua di semifinal Liga Champions.

Melihat situasi sepakbola saat ini, Juventus yang sekali lagi berhasil meraih keunggulan di awal dan supremasi mereka jelas terlihat dalam kemenangan 1-0 bulan lalu di Manchester. Namun, alih-alih mengagumi ketangguhan mental anak-anak Max Allegri, pelajaran terbesar yang bisa dipelajari Jose Mourinho dari tim asal Italia tersebut adalah dalam menggunakan Paul Pogba.

Performa Pogba di Juventus

Selama menjalani karier di Turin, gelandang asal Prancis itu berkembang dari pemain berbakat menjadi pemain yang lengkap; pemain yang membuat United pada akhirnya akan memecahkan rekor transfer dunia untuk membawanya pulang. Namun Pogba yang saat ini mengenakan jersey merah Manchester United masih belum menghasilkan performa seperti yang pernah ia lakukan saat mengenakan jersey hitam dan putih.

Tampaknya sedikit perselisihan di antara dirinya dengan Jose Mourinho di Inggris telah menyakiti pemain asal Prancis itu, menggantinya dengan memalukan dalam pertandingan dan menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak akan pernah menjadi kapten lagi selama masa jabatannya.

Semakin negatif baik dalam pendekatan taktis dan pandangannya tentang kehidupan di Old Trafford, Mourinho dan calon pemain bintangnya hampir tidak bisa berdiri di jalan yang sama.

“Setiap kali kami bermain di kandang, kami harus menyerang, menyerang dan menyerang,” Pogba mengatakan kepada wartawan sesaat setelah peluit akhir dalam hasil imbang 1-1 pada September lalu di kandang melawan Wolves. “Kami berada di Old Trafford. Saya pikir lawan takut ketika mereka melihat Manchester United terus menyerang. Saya bukan pelatih, tapi saya pikir kami memiliki banyak pilihan berbeda untuk tampil di lapangan.”

Manajer asal Portugal memang memiliki reputasi yang baik untuk kehati-hatian dan kontrol; perbedaan yang mencolok antara Pogba yang biasanya mandeg di Manchester United dan pemain yang lebih berani ketika bermain untuk tim nasional. Meskipun ada perbedaan kualitas yang jelas antara Prancis, Juventus, dan para pemain yang dimiliki Mourinho, ada juga penjelasan taktik yang jelas untuk penampilannya yang lebih tenang.

Telah ada kemajuan dalam performa Pogba baru-baru ini, meskipun penting bahwa itu semua terjadi selama pertandingan d imana Manchester United telah putus asa mengejar kemenangan – seperti yang mereka lakukan di Bournemouth pada hari Sabtu dan di kandang ketika melawan Newcastle, Valencia, dan Wolves dengan berbagai hasil kesuksesan.

Tidak Cocok dengan Formasi Dua Gelandang Tengah

Setidaknya Mourinho lebih sering memainkannya dalam formasi tiga gelandang sekarang: sebelumnya, United secara teratur menerapkan formasi 4-2-3-1 yang membuat Pogba bermain dalam formasi dua gelandang bersama Nemanja Matic. Mantan pemain Chelsea itu tidak bisa menjadi gelandang bertahan sendirian, membuat mereka menjadi duet yang tidak cocok yang mengingatkan kepada duet Frank Lampard-Steven Gerrard yang kerap tampil mengecewakan untuk Inggris.

Ketidakcocokan Pogba dalam sistem semacam itu terbukti di Piala Dunia: bos Prancis, Didier Deschamps, menggunakan formasi dua gelandang dalam pertandingan pertama timnya melawan Australia. Setelah kemenangan membosankan, yang menakutkan karena mengingatkan kepada tim Mourinho, les Bleus meninggalkan formasi 4-2-3-1. Deschamps bergeser ke 4-3-3, memilih pemain sayap Barcelona, Ousmane Dembele dan playmaker Bayern Munich, Corentin Tolisso dalam mendukung targetman Olivier Giroud dan gelandang agresif Blaise Matuidi.

Memainkan nama terakhir – dan juga N'Golo Kante – memberikan Pogba kebebasan untuk menyerang kapan pun ia mau, sementara kehadiran Giroud mendorong pertahanan lawan lebih dalam dan menciptakan ruang di antara lini di mana mantan pemain Juventus itu tahu ia bisa berkembang.

Itu semua tidak pernah lebih jelas daripada di final di mana setelah mengirim bola melengkung dengan sempurna ke arah Kylian Mbappe di sisi kanan (atas), Pogba merangsek ke depan kotak penalti (bawah) untuk mencetak gol ketiga timnya.