Mengapa Manchester United Terus Tampil Begitu Buruk di Kandang Sendiri?

Jose Mourinho

Sejarah mengajarkan kita bahwa perpaduan keduanya akan menjamin kemenangan, tetapi hasil yang muncul justru berbeda dari yang kita ekspektasikan. Alex Hess menjelaskan apa penyebabnya...

Aura adalah sesuatu yang lucu: meski tidak berwujud, aura bisa menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, Manchester United secara efektif telah menjadi sebuah contoh kasus yang menarik untuk dicermati untuk konsep ini. Yang paling jelas terlihat adalah aura pada sosok-sosok tertentu, baik itu karena mereka memang jelas-jelas memilikinya (seperti Alex Ferguson, Zlatan Ibrahimovic), atau karena mereka tidak mempunyainya sama sekali (seperti David Moyes, Marouane Fellaini). Tapi aura juga berlaku untuk tempat atau bangunan.

Dalam tiga musim setelah kepergian Alex Ferguson, United mencatatkan kekalahan di liga di Old Trafford dalam jumlah yang sama banyaknya dengan jumlah kekalahan mereka selama delapan tahun sebelumnya. Ini adalah sebuah penurunan yang tampak jelas bagi klub ini: sebuah stadion yang sudah sejak lama menjadi semacam benteng yang sulit ditaklukkan sudah berubah, dalam waktu singkat, menjadi sebuah istana mainan. Atau dengan kata lain, aura Old Trafford sudah menghilang sama sekali.

Tentu saja ada argumen layaknya argumen tentang ayam atau telur yang bisa dibahas di sini. Apakah performa menyedihkan di kandang ini adalah bukti dari terjun bebasnya klub ini, atau malah merupakan sebuah penyebab? Tapi yang pasti adalah United, jika ingin kembali merebut kembali singgasana mereka, perlu mengembalikan Old Trafford menjadi tempat yang memberikan tamu-tamu mereka teror, kekaguman, dan terkadang kekalahan secara instan seperti dulu.

Sebuah stadion yang sudah sejak lama menjadi semacam benteng yang sulit ditaklukkan sudah berubah, dalam waktu singkat, menjadi sebuah istana mainan

Pasangan yang Sempurna? 

Karenanya, segalanya tampak masuk akal saat klub mendatangkan Jose Mourinho di musim panas kemarin. Pertanyaan pasti muncul tentang kemampuannya untuk membuat para fans bergairah dengan permainan United di lapangan atau mengembangkan bakat-bakat muda mereka, namun tidak ada satu orangpun yang ragu bahwa United akan ingat bagaimana berkuasa kembali di kandang mereka sendiri. Toh, Mourinho adalah pelatih yang telah melewati sembilan tahun – dalam total 151 pertandingan dan empat klub – tanpa kalah satu kali pun pertandingan liga di kandang sendiri, sebuah pencapaian luar biasa dilihat dari sisi manapun.

Wajar saja jika Anda berpikir bahwa segalanya akan berjalan sesuai rencana. Jika melihat sekilas ke rekor United musim ini, akan terlihat bahwa kekalahan di awal musim saat derby di Old Trafford adalah satu-satunya kekalahan kandang mereka musim ini di semua kompetisi. Pasukan Mourinho berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan musim terbaik dalam hal performa kandang sejak skuat juara Ferguson, enam tahun silam.

Jose Mourinho Inter Milan

Mourinho tidak pernah kalah di kandang sendiri di liga sebagai bos Inter

Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Tidak sama sekali.

Old Trafford mungkin menjadi tempat yang lebih sulit untuk lawan-lawan United semenjak masa-masa sulit di bawah David Moyes, namun kebanyakan hasil yang didapat Mourinho di kandang bukanlah kemenangan, tapi hasil imbang. Faktanya, mayoritas kecil pertandingan liga di Old Trafford – tepatnya delapan dari 15 pertandingan – berakhir imbang, dan rekor kandang United hanya di peringkat 10 di Premier League. Meski masih ada seperempat musim lagi yang tersisa, Mourinho sudah kehilangan poin di kandang sendiri sebanyak yang dialami Ferguson dalam total dua musim terakhirnya.

Ada pola yang berulang kali muncul dalam hasil-hasil ini: United menguasai bola namun tidak meraih hasil maksimal; mereka menyerang namun tidak membahayakan lawan

Ada beberapa penyebab di sini, termasuk juga kenyataan bahwa proses memang membutuhkan kesabaran. Mengingat pada era pasca Ferguson, secara luar biasa, United kalah sekitar satu dari lima pertandingan kandang di liga, Mourinho mendapatkan tugas yang sama beratnya dengan memutar kapal minyak raksasa di laut. Menurunkan angka ini hingga mendekati nol, seperti yang sudah ia lakukan, adalah sebuah awal yang bagust.

Menyalahkan pemain

Tapi deretan hasil imbang yang buruk sepanjang musim ini sudah mencapai jumlah yang terlalu besar untuk dilihat sebagai anomali kecil belaka. Ada pola yang berulang kali muncul dalam hasil-hasil ini: United menguasai bola namun tidak meraih hasil maksimal; mereka menyerang namun tidak membahayakan lawan. Pertandingan hari Sabtu lalu menghadapi West Brom adalah sebuah contoh yang nyata. Mourinho mungkin bisa mengklaim bahwa ini adalah pertandingan satu arah namun kenyataannya tim tamu memang datang untuk bertahan dan membuat mereka frustrasi, dan pekerjaan West Ham pun dipermudah dengan ompongnya lini serang tuan rumah. Hasil akhir pertandingan ini pun, meski diprotes Mourinho, adalah adil dan memang menggambarkan pertandingan tersebut.

Mourinho memilih untuk menyalahkan timnya sendiri pada hari Sabtu lalu, menegaskan bahwa penyerangnya gagal memanfaatkan kesempatan yang sudah diberikan oleh sistem yang ia siapkan: “Setiap hari ini terjadi [mereka gagal]. Jadi saya akan tetap melakukan apa yang saya lakukan sepanjang musim ini.. Saya memberikan kesempatan. Saya mencoba. Bermain lagi. Ayo. Terus lakukan... Tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan.”

Jose Mourinho Anthony Martial

Jose Mourinho terus mengritik Anthony Martial

Sebuah poin yang cukup masuk akal, sampai Anda melihat para pemain yang menjadi sasaran kritiknya – Anthony Martial, Marcus Rashford, Henrikh Mkhtaryan – dan menyimpulkan bahwa masalah utamanya bukanlah soal kualitas teknik pemain-pemainnya, melainkan rasa kepercayaan diri. Aspek ini masuk dalam area manajerial, dan trio ini bukanlah pemain-pemain berbakat pertama yang kehilangan rasa kepercayaan diri mereka di bawah kepemimpinan Mourinho.