Mengapa Omar Abdulrahman Kami Pilih Sebagai Pemain Terbaik Asia 2017?

Mungkin ini adalah sebuah kejutan untuk sebagian besar pembaca kami, bahwa Omar Abdulrahman berada di posisi satu di daftar 50 Pemain Terbaik Asia versi FourFourTwo tahun ini, terutama bagi mereka yang tidak mengikuti sepakbola Timur Tengah secara rutin.

Dua pemenang sebelumnya di seri tahunan kami – Son Heung-min dan Shinji Okazaki – adalah nama-nama yang mungkin lebih familiar bagi para penggemar sepakbola di Asia, terutama karena popularitas dan kekuatan bintang yang dimiliki Premier League Inggris.

Meski Okazaki menjalani musim yang sama buruknya dengan musim buruk Leicester City, yang kesulitan untuk menyamai level mereka ketika menjuarai Premier League musim lalu, memang benar Son menjalani musim luar biasa untuk Tottenham, tim yang membuat Chelsea harus berjuang hingga garis akhir untuk menjadi juara musim ini.

Dengan bola di kakinya, Amoory adalah seorang virtuoso, pelukis di lapangan sepakbola yang mampu melakukan apapun yang tidak bisa dilakukan pemain lain

Tapi Son gagal merebut posisi puncak karena keberadaan seorang pemain cepat dengan rambut unik yang memiliki kaki-kaki ajaib ini, dan ia masih berusia 25 tahun. Ia jelas akan segera membawa bakat besarnya itu ke Eropa, seperti yang ia katakan kepada kami dalam wawancara eksklusif kami nan langka bersamanya.

Tapi jangan hanya dengarkan kata-kata saya saja, keputusan ini adalah hasil dari pertukaran pikiran sekelompok pakar sepakbola Asia kami, yang memilih sosok yang dikenal dengan panggilan Amoory ini sebagai pemain nomor satu di Asia.

“Asia sudah menghasilkan banyak pemain hebat dalam beberapa tahun terakhir,” ucap pakar sepakbola Asia yang tinggal di Jepang yang juga seorang kolumnis untuk FourFourTwo, Scott McIntyre, saat ditanya mengapa ia memilih Abdulrahman sebagai nomor 1.

“Beberapa dari mereka adalah pemain dengan teknik luar biasa, beberapa memiliki kemampuan yang hebat dalam memenangkan bola, ada juga yang mampu mengubah pertandingan, dan beberapa sangat tajam di depan gawang atau dominan sekali di lini belakang.”

Lelaki yang dikenal dengan nama 'Amoory' ini adalah bintang bagi klub dan negaranya

“Tapi jarang sekali benua ini menghasilan seorang seniman sepakbola. Dengan bola di kakinya, Amoory adalah seorang virtuoso, pelukis di lapangan sepakbola yang mampu melakukan apapun yang tidak bisa dilakukan oleh pemain lainnya, tidak hanya di Asia, tapi juga di manapun.”

“Beberapa nama di daftar kami punya kualitas hebat di hal-hal tertentu, namun tidak ada yang memiliki bakat yang begitu indah, sentuhan yang memukau, dan di atas segalanya: visi – kualitas yang hadir sebagian besar karena bakat selain juga karena kerja keras untuk terus belajar – yang dimiliki pemain UEA ini dan ini membuatnya berbeda dari yang lain.”

Saat Anda menggabungkan skill dan kemampuan yang ia punya untuk menciptakan sesuatu dari nol, hal ini membuatnya menjadi pilihan yang wajar untuk menjadi nomor satu

Jika perlu bukti yang lebih meyakinkan lagi lagi, perlu kami ingatkan bahwa Abdulrahman berhasil menjadi pemain terbaik Asia dan juga pemain terbaik di Liga Champions Asia pada tahun 2016 lalu. Ia membawa klub UEA, Al Ain, melaju hingga ke final kompetisi tertinggi di benua ini, di mana mereka kalah tipis dalam dua leg dengan skor agregat 3-2 dari raksasa Korea, Jeonbuk Hyundai.

Semua prestasi itu terjadi hanya 12 bulan setelah ia membantu negaranya meraih medali perunggu di Piala Asia 2015, di mana ia membawa UEA melewati tim-tim favorit di turnamen-turnamen sebelumnya dan mengalahkan juara bertahan Jepang di perempat final, sebelum akhirnya terpilih masuk ke dalam tim terbaik turnamen.

Koresponden FourFourTwo di Australia, Paul Williams, meliput turnamen ini dan ia memiliki pendapat yang sama dengan McIntyre tentang kualitas yang dimiliki pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini.

“Gabungan dari semua aspek brilian yang ia miliki lah yang membuat Anda bisa terkagum-kagum saat menyaksikannya bermain, dan pengaruh yang ia berikan untuk timnya – entah di Al Ain atau UEA,” ucap Williams.

Okazaki, pemain nomor 1 kami tahun lalu, tidak bermain efektif selama satu tahun terakhir

“Al Ain mampu lolos ke final Liga Champions Asia sebagian besar karena penampilan bagusnya; ia adalah sosok yang membuat timnya menyatu. Saat Anda menggabungkan skill dan kemampuan yang ia punya untuk menciptakan sesuatu dari nol, hal ini membuatnya menjadi pilihan yang wajar untuk menjadi nomor satu.”

Dengan gaya rambutnya yang unik, Amoory seringkali menarik perhatian.

Tapi jangan salah, bakat sepakbola yang ia miliki lah, bukan hanya sekadar penampilan uniknya, yang membuat begitu banyak orang mengaguminya.

“Penampilannya di Piala Asia 2015 di Australia sangat impresif,” ucap kolomnis senior FourFourTwo lainnya, John Duerden – orang Inggris yang kini tinggal di Malaysia.

“UEA bermain di dua pertandingan di fase grup di Canberra, kota yang tak memiliki klub sepakbola profesional di negara yang lebih terkenal karena olahraga selain sepakbola, dan ia membuat banyak orang membicarakan dirinya.”

“Tidak hanya oleh para fans, tapi juga para penjaga keamanan, relawan, staf katering, dan siapapun yang terlibat di Piala Asia saat itu akan memperhatikan pemain dari Uni Emirat Arab ini dan segala yang bisa ia lakukan dengan bola di kakinya, dan semua dilakukannya dengan sempurna.”

“Juga, setelah babak pertama laga pembuka Olimpiade 2012 antara UEA dan Uruguay usai, saudara laki-laki saya, yang menonton pertandingan itu secara langsung di Old Trafford, mengirimkan pesan pada saya dan bertanya tentang pemain fantastis yang ia lihat di lapangan.”

Abdulrahman sudah mendapatkan sorotan selama beberapa tahun belakangan, setelah menjalani debut profesional saat berusia 17 tahun di tahun 2009 dan mendapatkan debut untuk negaranya dua tahun kemudian.

Ia berlatih bersama Manchester City di awal kariernya, Luis Suarez juga pernah memintanya untuk bertukar jersey setelah laga di London tersebut, dan Ryan Giggs dan Daniel Sturridge juga pernah menemui langsung talenta jenius ini setelah pertandingan Olimpiade usai.

Koresponden FourFourTwo asal Malaysia, Vijhay Vick, merasakan sendiri penderitaan saat menyaksikan Amoory menghancurkan tim nasionalnya di Kualifikasi Piala Dunia pada akhir 2015 silam.

“Saya menyaksikannya di televisi melawan Malaysia dalam pembantaian 10-0 di Abu Dhabi dan kemudian menontonnya secara langsung di laga kedua dan saya terus memperhatikan pemain ini semenjak saat itu,” ucap Vick.

“Ia bisa dibilang sebagai Lionel Messi-nya Asia dengan kecepatan kaki dan skill yang ia miliki dan ia punya segala yang dibutuhkan untuk bisa bergabung dengan liga-liga terbaik di dunia.

“Setelah mendominasi Asia, Premier League Inggris, Bundesliga, atau La Liga adalah tempat di mana ia harus bermain selanjutnya. Tidak ada alasan mengapa ia tidak akan mampu berkembang seperti yang pernah dilakukan Shinji Kagawa, Hidetoshi Nakata, dan sekarang Son Heung-Min.”