Analisa

Mengapa Para Pelatih Bertangan Besi Seperti Jose Mourinho Kehilangan Sentuhannya

Jose Mourinho

Pengaruh caci-maki Mourinho kepada para pemain di ruang publik tampak tidak sesuai harapan — tapi yang seperti ini bukan hal baru untuknya.  Alex Hess mengulas pupusnya masa kejayaan para pelatih bertangan besi.

We are part of The Trust Project What is it?

Ini bukan pekan yang penuh cinta. Pada dua pekan lalu, dua hari setelah Jose Mourinho mempertanyakan karakter para pemainnya, menyebut empat nama dan berkata bahwa pesepakbola muda masa kini memenuhi deskripsi “anak manja”, timnya bermain buruk di kandang dalam hasil imbang tanpa gol melawan tim paling payah di liga.

Jika kata-kata menghina yang dikeluarkannya bertujuan untuk memotivasi, rencana Mourinho gagal total — dan bukan untuk kali pertama juga. Tidak belajar dari kesalahan.

Sehari sebelum Mourinho mengeluhkan skuatnya di hadapan publik, Federasi Sepakbola Republik Irlandia mengucap selamat tinggal kepada duo manajer Martin O’Neill dan Roy Keane, pasangan polisi nakal-polisi bandel yang metodenya lebih banyak memberi dampak buruk ketimbang dampak bagus selama masa jabatan mereka. Keduanya dikenal sebagai motivator kuno, tapi para pelatih seperti mereka, yang dulu pernah membangkitkan semangat bertarung para pemain, kini malah menyebabkan perpecahan, membuat pesepakbola kelelahan, dan meruntuhkan moral.

Para Manajer Bertangan Besi

Bahwa dua peristiwa di atas terjadi dalam dua hari berturut-turut mungkin tak lebih dari sekadar kebetulan, tapi keduanya tentu menunjukkan perubahan budaya yang tampaknya menggerayangi sepakbola Inggris.

Banyak manajer yang membangun kariernya dengan fondasi sikap keras belakangan mendapati diri amat kesulitan, kehilangan nama atau malah tak bekerja sama sekali. Sam Allardyce, David Moyes, Tony Pulis, dan Mark Hughes — juga Mourinho — boleh ditempatkan dalam kategori yang luas ini. Semuanya mencapai puncak kesuksesan masing-masing sekitar 10 sampai 15 tahun lalu; tidak satu pun tampak akan kembali ke puncak dalam waktu dekat.

Sementara itu puncak klasemen Premier League penuh senyuman. Pep Guardiola dikenal luas sebagai sosok ayah untuk para pemainnya, dan dia tidak melihat kesenangan (sepakbola menghibur) sebagai ancaman. “Lebih dari berkali-kali juara,” ujar Xavi tentang waktunya di Barcelona, “kenanganku tentang masa itu adalah tentang betapa aku sangat menikmatinya.”

City, yang hampir pasti akan kembali menjadi juara liga musim ini, juga tampak begitu menikmati permainan mereka sendiri.

Pep Guardiola, Raheem Sterling

Jurgen Klopp dan Mauricio Pochettino, di peringkat kedua dan ketiga, telah merevitalisasi klub mereka dari bawah ke atas dan membuat para pendukung klubnya bergairah dengan sepakbola yang penuh semangat.

Soal pemain, baik Klopp maupun Pochettino tidak malu tersenyum ketika sesekali menyanjung pemainnya. Keduanya biasa memberi pelukan erat di akhir pertandingan, sebagai suri teladan pendekatan positif. Pochettino yang terkenal percaya takhayul begitu takut dengan “energi negatif” sehingga dia menaruh semangkuk lemon penangkal di kantornya.

Maurizio Sarri, menempel ketat Spurs di peringkat keempat, bukan seseorang yang selalu tersenyum tetapi bukan pula orang yang tidak mendukung energi positif. Selepas laga antara Chelsea dan Liverpool bulan lalu, dia menceritakan pembicaraan dengan lawannya: “Aku melihat Klopp melihat ke arahku saat pertandingan berlangsung. Aku bertanya, ‘Kenapa kau tersenyum?’ Dia berkata, ‘Tidakkah kau bersenang-senang?’ Aku jawab: ‘Sangat!’ dan dia membalas, ‘Aku juga!’”

Pendekatan yang Positif

Perbincangan di pinggir lapangan semacam itu barangkali akan sulit diterima kelompok pendukung yang saling berseberangan — dan tentunya orang-orang di ruang redaksi penyiaran juga lebih suka jika para pelatih saling mengancam — tapi hasilnya berbicara lantang: Guardiola, Klopp, dan Pochettino membuat klubnya masing-masing menampilkan salah satu permainan sepakbola terbaik dan paling efektif sepanjang sejarah. Kecil kemungkinan pengaruh Sarri tak akan sama.

Bahwa mereka memiliki pendekatan positif yang sama dalam bekerja, dan naik ke barisan atas sepakbola hampir secara bersamaan, tentu terjadi lebih karena sekadar kebetulan.

Di antara para pelatih Premier League yang sedang bagus-bagusnya, Eddie Howe, Chris Hughton, dan David Wagner adalah sosok yang ramah yang tidak begitu tertarik dengan mentalitas agresif yang dulu mendominasi. Dan pencapaian sepakbola akbar era modern — bahkan mungkin sepanjang masa — dipimpin Claudio Ranieri, seorang manajer yang sifat kuncinya lebih dekat ke daya dorong ekspresif ketimbang kecerdasan taktis, lebih ke kehangatan yang menjangkit dan membuat tertarik.

Claudio Ranieri, Kasper Schmeichel

Di titik ini penting untuk dijelaskan bahwa sebagian besar karakterisasi ini terlalu disederhanakan: tidak berarti Pep dan kawan-kawannya adalah hippies bermata besar yang tidak mampu menerapkan disiplin. Sama halnya dengan Jose Mourinho, yang dalam beberapa kesempatan bisa menikmati keadaan; bahkan melontarkan gurauan.

O’Neill sendiri punya selera humor dan Keane pun bukan sosok yang tidak punya kasih sayang. Sebagaimana tulisannya tentang masa di Sunderland: “Staf biasa menghampiriku dan meminta, contohnya, hari libur karena masalah rumah tangga atau masalah dengan anak-anak mereka. Aku rasa itu salah satu keunggulanku, keramahanku adalah kekuatanku.”

Pendekatan Konservatif 

Benar bahwa semua manajer di atas tidak bisa begitu saja dikelompokkan menjadi penyayang atau petarung, namun benar pula bahwa beberapa cenderung ke satu sisi dan beberapa ke sisi lainnya. Keane, biar bagaimana, adalah sosok yang sama dengan pria yang bercerita Brian Clough pernah meninjunya di wajah sebagai hukuman untuk backpass yang lemah. “Itu hal terbaik yang pernah dia lakukan untukku,” ujarnya. “Marah itu bagus.”

Cerita itu adalah salah satu yang menjadi legenda, cerita tentang masa yang sudah lewat di mana pria adalah pria, cangkir teh dibuat untuk dilempar, dan diteriaki di hadapan rekan satu tim adalah ritus peralihan yang suci. Dan berkat dua pria yang menjadi manajernya di sebagian besar karier Keane, metode semacam itu membuahkan hasil yang tak terhingga.

Dan metode itu baik-baik saja, tapi kesalahannya adalah menganggap metode masa lalu akan langsung cocok dengan masa kini. Dari pusat pelatihan Irlandia muncul cerita tentang Keane mengendap ke ruang perawatan dan menuduh para pemain pura-pura cedera dan melalaikan pekerjaan mereka menjadi indikasi bahwa kritikan macam ini sudah sejak lama tidak lagi konstruktif.

Roy Keane, Brian Clough

Sama halnya dengan pendekatan keras ala Mourinho, yang tampaknya lebih berpengaruh kepada pemain-pemain di generasi yang masih memiliki kenangan jelas tentang masa ketika sepakbola masih belum terlalu dipoles — pemain-pemain yang mungkin sudah menjadi pemain junior di masa pra-Premier League — dan pemain-pemain yang secara langsung merasakan betapa beruntungnya mereka melejit dengan cara ini.

Sekarang, cara manajer asal Portugal tersebut lebih mungkin menjadi racun: lihat saja bagaimana dia mengasingkan nyaris seisi ruang ganti Real Madrid; bagaimana dia meninggalkan Chelsea di posisi 16 setelah 26 pertandingan pada 2015; bagaimana dia sekarang mencaci maki para pemain Manchester United nyaris dua pekan sekali.

Pesepakbola muda masa kini hanya tahu industri mereka dibanjiri banyak uang: menjadi hartawan sepanjang hidup adalah nasib yang tak terhindarkan sejak awal masa remaja mereka. Dan tidak, mereka tidak menghabiskan masa mudanya dengan menyapu ruang ganti dan membersihkan sepatu para pemain profesional.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi

Sepakbola telah berubah — dan dunia juga telah berubah. Di era pesepakbola selebritas, pemberitaan 24 jam, dan olok-olok brutal yang berputar di media sosial, para pemain memasukkan semua kritik itu ke dalam hati, sementara para pendahulunya tidak.

Entah kita menyebutnya sebagai manja, sensitif, atau tidak percaya diri, semuanya hanya semantik: intinya adalah para pemain muda sekarang berbeda dengan pemain-pemain di masa lalu. Tantangan untuk para manajer bukanlah mengubah mereka kembali ke model lampau, tapi mengubah diri sendiri.

Dan jika hasil menjadi acuan, para pelatih yang menunjukkan hasil lebih baik adalah mereka yang menyadari bahwa dorongan dan kesenangan bukan kata-kata tanpa arti. Atau sebagaimana Sarri mengatakannya: “Aku mulai sadar bahwa ada bocah dalam setiap pesepakbola. Di situ serunya. Disiplin taktis memang penting, tapi kita tidak boleh lalai dengan pertandingan dan memastikan bahwa para bocah itu menikmatinya.”

Itu pesan yang akan baik jika diindahkan Mourinho, Keane, dan para pelatih lain. Karena cerita pria paruh baya mengeluh tentang keruntuhan moral pemuda-pemuda masa kini adalah cerita yang usianya sama tua dengan usia peradaban. Dan, kebenarannya adalah tidak selalu orang tua yang benar.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com