Mengapa Performa Buruk Ronaldo dan Ibrahimovic Bagus Bagi Sepakbola

Salah dua bintang terbesar di planet ini luluh lantak, kata Gary Parkinson. Tapi mungkin ini adalah yang terbaik untuk dunia sepakbola...

Salah satu inti ajaran Buddha adalah kematian ego: sebuah perubahan yang penting ketika jiwa dan pikiran seseorang berjalan menuju pencerahan dari pandangan personal yang egois dan mementingkan diri sendiri.

Zlatan Ibrahimovic punya tato di punggungnya yang bergambar lima kepala Buddha; menurutnya, tato tersebut mewakili “lima elemen kehidupan yaitu air, tanah, api, dan seterusnya.” Cristiano Ronaldo baru-baru ini membeli sebuah patung kepala Buddha raksasa untuk taman rumahnya; Anda bisa melihatnya di latar belakang salah satu foto Instagram di mana ia berpose dengan Porsche miliknya.

Mungkin cukup adil jika menyebut bahwa Ibra dan CR7 harus memperbaiki karma mereka. Keduanya jelas tidak terlihat mengorbankan kebutuhan pribadi mereka untuk kepentingan orang banyak.

Meledaknya sistem tata surya

Cristiano Ronaldo baru-baru ini membeli sebuah patung kepala Buddha raksasa untuk taman rumahnya; Anda bisa melihatnya di latar belakang salah satu foto Instagram di mana ia berpose dengan Porsche miliknya

Kita selalu diberi tahu bahwa sepakbola membutuhkan para pemain bintang, tapi sistem tata surya cenderung mempunyai akhir yang buruk. Saat sebuah bintang kehabisan bahan bakar, ia akan membesar dengan cepat kemudian menghilang, dan planet di sekitarnya akan mengalami satu dari dua hal ini: tersedot ke supernova (ledakan besar yang terjadi ketika sebuah bintang mati) atau membeku setelahnya.

Dengan kata lain: mungkin bukan sebuah ide yang bagus untuk membangun sebuah tim hanya berpusat pada satu pemain bintang saja.

Di Manchester United, Ronaldo adalah seorang pemmain kunci tapi merupakan bagian dari empat penyerang yang mengerikan, di mana ia berbagi tugas dan pujian dengan Wayne Rooney, Carlos Tevez, dan Dimitar Berbatov. Pindah ke Real Madrid – di mana, ini harus disebutkan, ia menciptakan sekitar satu juga gol (meski dari sekitar sembilan juta tembakan) - hanya meningkatkan kepercayaan dirinya.

Ronaldo mendapatkan keuntungan berada di trio ini

Bahkan di Bernabeu yang begitu didorong faktor ego dan sistem kasta, adalah hal yang penting bagi Ronaldo untuk tetap menjadi nomor satu di skuat sehingga Florentino Perez – yang begitu terbiasa memberikan gestur tubuh yang besar dan adalah hal yang mengejutkan tangannya belum copot sampai sekarang – dipaksa untuk tidak menyebutkan harga sebenarnya yang harus dibayar untuk transfer Gareth Bale – agar Cristiano yang malang tidak terluka perasaannya.

Tapi sang bintang akhirnya tetap terluka saat Portugal hanya mampu bermain imbang 1-1 di laga pembuka Euro 2016 menghadapi Islandia, sebagian besar karena tim Skandinavia ini punya kecenderungan untuk bertahan secara kolektif saat meladeni tim yang memiliki pemain-pemain yang secara individu jauh lebih bagus.

“Itu adalah malam yang beruntung bagi mereka,” ucap CR7 yang rendah hati. “Saya pikir mereka baru saja menjuarai Euro saat melihat cara mereka merayakannya di akhir pertandingan. Luar biasa. Saat mereka tidak mencoba untuk bermain sepakbola dan hanya bertahan, bertahan, bertahan. Ini, menurut pandangan saya, menunjukkan mentalitas yang kecil dan mereka tidak akan bisa melakukan apapun di kompetisi ini.”

Catatan yang amat sangat buruk

Ronaldo memang akan selalu menjadi cahaya yang paling terang milik Portugal, tapi apakah kebintangannya harus membuat pemain-pemain lain berada dalam bayangan? Jika pemain lain memiliki persentase konversi peluang yang begitu buruk, tidakkah ia akan dicela ataupun dikeluarkan dari tim?

Dalam dua pertandingan perdana Euro 2016, Ronaldo hanya menciptakan dua peluang untuk pemain lain dan mencatatkan 20 usaha mencetak gol – 40,8% dari jumlah usaha yang dilakukan Portugal - dan hanya empat yang tepat sasaran. Catatan 20 tembakannya ini bahkan lebih banyak dari sembilan negara lain: Albania, Austria, Republik Ceska, Islandia, Irlandia Utara, Republik Irlandia, Turki, Wales, dan Swedia. Ia memiliki jumlah tembakan yang sama dengan Italia, yang melakukan sembilan tembakan tepat sasaran dari 20 kali usaha, memenangi dua pertandingan mereka, dan lolos dengan satu pertandingan tersisa.

Di dalam daftar tim tersebut – beberapa sukses, beberapa tidak, tapi semuanya memang tampak tidak terlalu banyak mencoba melepaskan tembakan (sebagai perbandingan, Inggris sudah menciptakan 64 kali usaha tembakan ke gawang) - Anda akan melihat Swedia. Mereka juga tampil cukup buruk, tapi di sisi yang berbeda. Bukannya membuang-buang peluang, mereka lebih seperti tidak mau mencoba untuk menembak sama sekali.

Menghadapi Irlandia, mereka memiliki tujuh tembakan dan tidak ada satupun yang mengarah sasaran. Menghadapi Italia, mereka hanya melakukan empat tembakan, semuanya pun tidak akurat. Tidak ada satupun tim lain yang memiliki jumlah tembakan lebih sedikit dari dua pertandingan perdana mereka – bahkan Islandia sekalipun, tim kecil yang populasinya hanya seperempat Stockholm, dan satu per tiga puluh dari total populasi Swedia.