Mengapa Philipp Lahm setidaknya layak disebut pemain terbaik kedua di dunia...

Terkejut bahwa pemain Jerman ini mengalahkan Lionel Messi? Jangan sampai, kata Uli Hesse...

Banyak orang bertanya-tanya tentang kejatuhan mendadak Jerman dari kejayaan. Setelah musim panas mereka yang luar biasa, pemenang Piala Dunia kalah telak dari Argentina, kalah melawan Polandia untuk pertama kalinya dalam sejarah, gagal mengalahkan Republik Irlandia dan sangat buruk melawan Gibraltar hingga suporter mereka sendiri mencemooh mereka di luar lapangan.
 
Tak perlu dikatakan, ada berbagai faktor yang berpengaruh di sini. Tapi salah satu masalah terbesar yang mengganggu pelatih nasional Joachim Loew adalah bahwa dia kehilangan tidak kurang dari empat pemain kunci selama liburan kompetisi.
 
Dari satu hari ke hari berikutnya, ia harus memainkan tim tanpa salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia, salah satu bek kiri terbaik di dunia, bek kanan terbaik di dunia dan tangan kanan-nya di lapangan, seorang pemain yang memahami sepakbola dengan begitu sempurna hingga pelatih paling terkenal di dunia telah memanggilnya pesepakbola paling cerdas yang pernah bekerja dengannya. Keempat tokoh utama itu disebut Philipp Lahm.
 
Jika itu benar bahwa Anda baru menyadari apa yang Anda miliki ketika itu pergi, maka Lahm seharusnya terpilih sebagai pemain terbaik Jerman tahun ini di musim panas mendatang, meskipun ia akan kehilangan setidaknya sepertiga dari musim ini setelah pergelangan kakinya patah di bulan November.
 
Itu karena akan merupakan suatu absurditas tertinggi jika pemain Jerman terbaik dari generasinya harus mengakhiri karirnya (Lahm sekarang berusia 31 tahun) tanpa pernah memenangkan penghargaan ini.

Lahm adalah bek kanan, kiri, anchorman dan tangan kanan Joachim Low

Lahm adalah bek kanan, kiri, anchorman dan tangan kanan Joachim Low

Tentu saja Anda dapat memahami mengapa penghargaan semacam ini biasanya diberikan ke pemain ofensif yang luar biasa - Miroslav Klose, Mario Gomez, Franck Ribery, Arjen Robben dan Marco Reus sudah berada di antara deretan pemenang terbaru di Jerman - dan bahkan ada sesuatu yang bisa dikatakan untuk fakta bahwa Manuel Neuer telah dianugerahi penghargaan ini dua kali dalam empat tahun terakhir.

(Ini sudah menjadi hal yang biasa di Jerman. Sementara hanya satu kiper, Lev Yashin, yang pernah memenangkan Ballon d'Or, Neuer adalah kiper keenam yang terpilih sebagai Germany Footballer of the Year).

"Pada usia 17 tahun, Lahm sudah sempurna"

Jika Anda mempertimbangkan tidak hanya kelas tetapi juga konsistensi, maka tidak pernah ada orang seperti Lahm dalam sepakbola Jerman. Orang yang menemukan dia disebut Hermann Gerland. Dia sekarang adalah asisten pelatih Bayern, tetapi dulu menjadi pelatih cadangan, di mana klub mengembangkan bakat lokal. Dia pernah berkata: "Lahm sudah sempurna ketika ia berusia 17 tahun. Dia bisa melakukan itu semua, tidak ada yang tersisa bagi saya untuk mengajarinya." Gerland juga mengatakan: "Philipp tak pernah memainkan pertandingan yang buruk bagi saya. Dia tidak mampu bermain buruk.."
 

Philipp tak pernah memainkan pertandingan yang buruk bagi saya. Dia tidak mampu bermain buruk.."

- Former Bayern youth coach Hermann Gerland

Ketika Lahm menginjak usia 19 tahun, pada tahun 2003, Gerland mencoba mencari klub pinjaman untuknya karena Lahm tidak akan mendapatkan waktu bermain yang ia butuhkan di Bayern yang bertabur bintang. Gerland menelepon Felix Magath, yang kemudian melatih VfB Stuttgart dan menawarkan jasa seorang pemain "yang tampak seperti berusia 15 tahun, tapi bermain seolah-olah ia berusia 30 tahun". Seorang Magath yang skeptis ingin tahu di mana dia harus memainkan pemain muda luar biasa ini. Gerland menjawab: "Pada bek kanan atau bek kiri atau lini tengah sisi kanan atau gelandang tengah...."
 

Lahm Muda saat dipinjamkan ke Stuttgart tahun 2003

Lahm Muda saat dipinjamkan ke Stuttgart tahun 2003

Dua bulan setelah kesepakatan pinjaman, Stuttgart bertemu Manchester United di Liga Champions. Menurut Gerland, Sir Alex Ferguson menatap Lahm dan segera ingin mengontraknya.
 
Itu telah menjadi cerita 10 tahun terakhir: Lahm cocok di mana pun Anda memainkan dirinya, hampir tidak pernah menunjukkan kinerja yang biasa-biasa saja, dan segera mendapatkan kekaguman dari siapa saja yang mengetahui tentang sepakbola. Tapi itu mungkin butuh kedatangan Pep Guardiola untuk membuat dunia menyadari betapa bagusnya Lahm sebenarnya.

Tapi itu mungkin butuh kedatangan Pep Guardiola untuk membuat dunia menyadari betapa bagusnya Lahm sebenarnya.

Pria asal Katalan itu tidak hanya memanggilnya pemain tercerdas yang ia tahu setelah hampir tiga bulan di Bayern, dia juga mengatakan kepada siapa saja yang mau mendengarkan bahwa permainan sepakbola ditentukan di lini tengah - dan kemudian pemain terbaik anda harus bermain di area tersebut di atas lapangan. Kemudian ia memindahkan posisi Lahm, bek kanan terbaik di dunia, tepatnya di sana, meskipun pelatih memilikibegitu banyak  gelandang lain untuk diilih dari tapi tidak bek kanan kelas atas lainnya.
 
Ini mengirimkan sinyal yang kuat. Sebenarnya, itu begitu kuat bahwa pelatih nasional Joachim Loew mengikuti saran Guardiola dan memainkan Lahm di lini tengah saat Piala Dunia dimulai. Itu cukup bagus untuk mendapatkan Jerman ke perempat-final, namun ketika kondisi akan semakin sulit dan turnamen tergantung pada keseimbangan, Lahm kembali ke posisi semula untuk tiga pertandingan terakhir.
 
Dari sana, Jerman mengkombinasikan penetrasi ekstra di sisi sayap (berkat kemampuan overlap Lahm) dengan pertahanan yang sangat solid - dan hanya kebobolan satu gol (7-1 saat melawan Brasil) akhirnya memenangkan trofi yang telah menghindari mereka begitu lama. Dan ketika pemilihan Germany Footballer of the Year datang, di posisi berapa Lahm? Kelima. Konyol.
 
Cerdas dan akomodatif
 
Jadi, jika dan saat saya akhirnya mendapatkan kartu anggota resmi Asosiasi Penulis Olahraga Jerman (Anda tahu kutipan Groucho Marx, jadi jangan bertaruh), organisasi yang membagikan penghargaan tersebut, suara saya akan saya berikan ke Lahm terlepas dari musim yang mungkin dia miliki.
 
Tidak ada yang yang selayak dirinya untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Meskipun saya harus mengatakan saya tidak lagi sepenuhnya memihak dalam hal ini - tidak sejak hari menjemukan di bulan November ini.

"Cheers, Uli": Lahm mengangkat gelasnya

"Cheers, Uli": Lahm mengangkat gelasnya

Sampai hari itu saya selalu memberitahu orang-orang yang bertanya tentang pemain sepakbola profesional yang paling cerdas, paling baik dan paling akomodatif adalah Mats Hummels. (Ketika saya pertama kali bertemu dan memperkenalkan diri, Hummels mengatakan: "Oh, saya tahu Anda: Saya sudah membaca salah satu buku Anda." Ini, Anda pasti akan mengerti, sulit untuk dibayangkan.)

Rekor Lahm di 2014

  • Bayern (Liga): P25 W20 D4 L1
  • Bayern (Piala Domestik): P6 W6
  • Bayern (Eropa): P11 W7 D2 L2
  • Germany (World Cup): P7 W6 D1
  • Total: P49 W39 D7 L3
  • Trofi yang dimenangkan: Bundesliga, DFB-Pokal, World Cup

Tetapi, pada hari itu saya sedang duduk di depan telepon menunggu panggilan dan tiba-tiba menyadari itu tidak akan pernah datang. Mungkin saya harus menjelaskan bahwa di masa lalu, Anda harus memiliki nomor telepon pemain dan bisa memanggilnya jika ada sesuatu yang Anda ingin tahu. Tentu saja tidak ada jaminan ia akan menjawab panggilan Anda, tapi setidaknya Anda adalah orang mengambil inisiatif. Sekarang ini, petugas pers memberitahu Anda bahwa seorang pemain akan menghubungi Anda. Saya bisa mengerti mengapa klub lebih suka seperti ini, tetapi menciptakan situasi yang tidak menguntungkan bagi wartawan: masih tak ada jaminan Anda akan pernah bisa mendengar suara pemain dan sekarang Anda bahkan tidak bisa meninggalkan rumah atau kantor Anda, karena akan tidak baik jika panggilan datang ketika Anda berada di kereta atau mengantri di kasir supermarket.
 
Jadi saya sedang duduk di samping telepon pada 11 November, setelah diberitahu bahwa kapten Bayern Munich akan menelepon beberapa saat setelah pukul 1 siang. Tiba-tiba saya membuat penemuan mengerikan: itu adalah hari ulang tahun Lahm.
 
Petugas pers harus mengatur pembicaraan tanpa menyadari bahwa sang pemain seharusnya memiliki banyak hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada menelepon orang asing di ujung lain negara. Dengan napas jengkel, saya pasrah menghabiskan seluruh sore menunggu telepon yang tidak datang.
 
Pada pukul 13:35, telepon berdering.
 
"Halo," dengan  suara ceria, "ini adalah Philipp Lahm yang berbicara."