Analisa

Mengapa Polemik Andri Syahputra Tak Perlu Ditanggapi dengan Berlebihan?

Polemik Andri Syahputra bergulir makin kencang setelah ia membela timnas Qatar U-18 dalam laga ujicoba beberapa waktu lalu. Tetapi mengapa menghujatnya adalah hal yang tak perlu dilakukan?

We are part of The Trust Project What is it?

Suatu ketika saya menyaksikan pertandingan timnas Indonesia di laga final Piala AFF melalui layar televisi dan seperti biasanya, Indonesia tiba-tiba mengalami anti-klimaks hingga urung meraih titel, melanjutkan kutukan sebagai spesialis runner-up. Di momen itu, tanpa tedeng aling-aling, ayah saya berkata, “Ah Indonesia, negara berpenduduk 200 juta lebih penduduk kok susah banget nyari 11 pemain untuk timnas.”

Ucapan yang tegas dan membuat saya berpikir, mungkin ayah saya masih terjebak nostalgia era Ronny Pasla hingga kesal melihat timnas Indonesia saat ini, atau memang secara logika ada benarnya celetukan yang terucap begitu saja itu. Indonesia yang punya penduduk lebih banyak dari Jepang, bahkan kesulitan meski hanya untuk menjuarai Piala AFF yang notabene titel penanda supremasi di Asia Tenggara (ASEAN), sementara Jepang sudah langganan bermain di Piala Dunia.

Lalu, apa korelasi komentar numpang lewat ayah saya itu dengan judul artikel ini? Ada, terutamanya jika Anda melihat polemik Andri Syahputra yang bahkan melebihi hebohnya film layar lebar “Power Rangers”. Semua menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepakbola Indonesia, PSSI, Kemenpora, dan netizen ketika Andri memilih timnas Qatar ketimbang Indonesia.

"Membela Indonesia adalah jihad. Kalau tidak mau membela Indonesia, artinya bukan orang Indonesia. Kalau dia tidak mau membela Indonesia, keluar dari Indonesia," tegas Ketua Umum (Ketum) PSSI yang juga menjabat sebagai Pangkostrad, Edy Rahmayadi.

Edy Rahmayadi berkomentar pedas tentang keputusan Andri

Membela Indonesia adalah jihad. Kalau tidak mau membela Indonesia, artinya bukan orang Indonesia. Kalau dia tidak mau membela Indonesia, keluar dari Indonesia

- Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi

Ucapan tegas Edy pun melanjutkan kritikan pedas dan hujatan netizen di sosial media yang tidak ragu menyebut Andri sebagai pengkhianat, setelah ia menolak ikut bergabung dengan seleksi timnas Indonesia U-19 yang dipersiapkan untuk Piala AFF U-18. Andri lebih memilih bermain untuk timnas Qatar U-19 untuk melakoni uji coba kontra Inggris U-18.

Pilihannya itu membuat masyarakat Indonesia mempertanyakan akan jiwa nasionalis Andri yang dilahirkan di Lhokseumawe, Aceh, pada 29 Juni 1999. Tapi, pertanyaan lainnya juga muncul, apa perlu Andri dihujat dan terus disalahkan karena pilihannya itu? Toh ada salah paham yang ikut menyertai polemik ini, yang membuat kita mungkin salah mengira Andri tak nasionalis atau semacamnya.

Andri memang bertalenta dan dalam 10 tahun terakhir tumbuh bermain di Qatar bersama klub terbaik di sana, Al Gharafa. Ia bisa bermain di banyak posisi dari penyerang sayap, penyerang sentral, dan playmaker – pemain yang jadi idaman tiap pelatih yang namanya masuk daftar pemandu bakat klub-klub Eropa.

Publik di Indonesia pun mengikuti sepak terjangnya di Qatar karena talentanya itu dan seketika, mereka yang tadinya kebanyakan kagum dengan talenta Andri, tiba-tiba mengecapnya sebagai pengkhianat. Jelas, di sini ada kesalahpahaman yang kemudian diklarifikasi ayah Andri, Agus Sudarmanto dan Kemenpora turut turun tangan mencairkan suasana dengan memberi penjelasan.

Publik di Indonesia pun mengikuti sepak terjangnya di Qatar karena talentanya itu dan seketika, mereka yang tadinya kebanyakan kagum dengan talenta Andri, tiba-tiba mengecapnya sebagai pengkhianat.

Polemik Andri ini bukan masalah tentang siapa pihak yang salah atau benar, karena semuanya terjadi karena miskomunikasi yang kadung melebar luas di media sosial. Andri memang menolak panggilan PSSI untuk mengikuti seleksi timnas Indonesia U-19, tapi ia punya alasannya sendiri yang dijelaskan sang ayah karena alasan pendidikan.

Agus tentu tak ingin Andri berhenti sekolah di Aspire Academy, tempat ia belajar dan tercatat sebagai mahasiswa semester pertama jurusan study sport. Pasalnya jika Andri mengikuti seleksi yang berlangsung dalam periode yang cukup panjang, belum lagi dengan pemusatan latihan dan sebagainya, sekolahnya otomatis terhenti.

“Intinya Andri tidak bisa memenuhi undangan karena pendidikan. Saya nggak mau Andri mau Andri putus sekolahnya. Tahapannya (seleksi timnas) pasti akan seperti seleksi lalu TC (pemusatan latihan) sampai menjelang championship (kejuaraan). Tidak sebentar bukan? Lalu apa harus memutus sekolahnya,” tutur Agus kepada Republika.