Mengapa Timnas U-19 Generasi 2017 Bisa Bernasib Lebih Baik Daripada Generasi 2013

Tim nasional U-19 Indonesia tahun 2017 ini memang kalah dari segi prestasi daripada para seniornya generasi 2013, namun mereka sebetulnya bisa dikatakan lebih baik. Lalu apa yang harus dipelajari oleh Rachmat Irianto dkk. agar tidak mengalami nasib yang sama seperti generasi Evan Dimas dkk.?

Jauh hari sebelum timnas U-18 mempertontonkan aksinya yang mengundang decak kagum di Myanmar baru-baru ini, timnas Indonesia U-19 pernah melakukan hal serupa pada tahun 2013 lalu dalam gelaran Piala AFF U-19. Saat itu, selain berhasil tampil memukau, timnas juga berhasil menggondol gelar juara setelah mengalahkan Vietnam melalui drama adu penalti yang menegangkan. Pujian untuk anak asuh Indra Sjafri tersebut kemudian datang secara bertubi-tubi beriringan dengan harapan besar yang dibebankan kepada mereka; tim ini dianggap bisa memberikan masa depan menyenangkan untuk sepakbola Indonesia.  

Sayangnya, beban yang diberikan kepada mereka ternyata terlalu berat. Sekitar satu tahun sesudah meraih gelar Piala AFF U-19, timnas U-19 tampil amburadul dalam gelaran Piala Asia U-19 yang digelar di Myanmar. Dalam putaran grup, tergabung bersama Uzbekistan, Australia, dan Uni Emirat Arab di Grup B, Indonesia berada di posisi juru kunci karena selalu kalah dalam tiga pertandingan. Tidak hanya itu, sementara gawang timnas kebobolan 8 kali, mereka juga hanya mampu mencetak 2 gol dalam 3 pertandingan tersebut.

Ada banyak alasan mengapa timnas U-19 era itu gagal meneruskan performa mereka tak lama setelah kesuksesan besar tersebut. Tur Nusantara yang melelahkan dan gaya bermain yang kurang fleksibel adalah dua persoalan yang paling menonjol. Menariknya, dua persoalan tersebut saling berkaitan seperti malam dan bunyi musik jazz di kota New York, Amerika Serikat. Semakin sering timnas U-19 tampil dalam Tur Nusantara, semakin jelas pula kelemahan yang mereka miliki dan ini tentu saja digunakan oleh lawan.

Selain itu, ada satu persolan lagi yang tak kalah penting: pemain-pemain timnas U-19 ternyata tidak mampu berkembang secara cukup signifikan. Sementara hanya Evan Dimas, Hargianto, Hansamu Yama Pranata, Putu Gede, serta Septian David Maulana (mulai tampil di Piala Asia U-19) yang masih mampu tampil konsisten hingga saat ini, kehebatan pemain-pemain timnas U-19 lainnya banyak yang menguap begitu saja.

Di mana Ravi Murdianto, Maldini Pali, Muchlis Hadi, Zulfiandi, serta M. Fathur Rohman? Kebanyakan dari mereka hanya menjadi penghuni bangku cadangan di klub masing-masing.

Sedikit alumni U-19 2013 yang bisa menjadi starter di klubnya

Berbicara mengenai prestasi, timnas U-18 yang berlaga dalam gelaran Piala AFF U-18 di Myanmar baru-baru ini memang masih kalah bila dibandingkan dengan timnas U-19 generasi Evan Dimas tesebut. Pasalnya, timnas U-18 hanya berhasil menjadi juara ketiga, di bawah Thailand dan Malaysia. Meski begitu, jika dillihat dari penampilannya, tim ini sebetulnya tak kalah kelas dari seniornya tersebut. Malahan, tim ini bisa dibilang jauh lebih baik.

Pasca kegagalan di Myanmar, tak sedikit orang yang mengatakan bahwa timnas U-18 sebenarnya lebih layak meraih gelar juara. Tim ini diasumsikan lebih superior daripada para pesaingnya, termasuk Thailand, Malaysia, hingga Vietnam. Dan meski masih mempunyai banyak kelemahan, tim ini ternyata mau belajar dengan cepat.