Tren Taktik: Mengenal Regista dan Bagaimana Peran Ini Berevolusi di Kaki dan Kepala Pirlo

Sejak kemunculannya di era 1950an dan 1960an, peran regista telah mengalami evolusi setelah nyaris punah di era 1990an. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan regista dan bagaimana evolusi itu terjadi? Renalto Setiawan memberikan penjelasannya...

Gianni Rivera berhembus melintasi daerah pertahanan Ajax, mengayun-ngayunkan para pemain bertahan hingga kiper Ajax, sebelum menghilang meninggalkan nostalgia. Hal Itu terjadi pada pertandingan final Piala Champions Eropa tahun 1969 lalu antara AC Milan melawan Ajax Amsterdam, tak lama sebelum total football mulai mendunia.

Pada menit ke-40, menerima bola di depan kota penalti Ajax, Rivera melakukan sebuah gerakan yang tak terduga, baik oleh para penonton maupun oleh para pemain bertahan Ajax. Saat itu Rivera melakukan umpan backheel yang langsung dihajar oleh Pierino Prati, penyerang AC Milan, menjadi sebuah gol.

Lihat menit ke 1:57

Umpan backheel Rivera tersebut tidak hanya membuat Milan sementara unggul 2-0, tetapi juga berhasil mengacaukan total football Ajax yang sistematis. Bagaimanapun, total football adalah perkara mempersempit atau memperlebar sebuah ruang, bukan bagaimana caranya menghentikan sebuah umpan backheel.

Umpan backheel Rivera tersebut tidak hanya membuat Milan sementara unggul 2-0, tetapi juga berhasil mengacaukan total football Ajax yang sistematis

Tak berhenti sampai di situ, di menit ke-75 Rivera bahkan melakukan sesuatu yang lebih kejam terhadap total football. Menyadari garis tinggi pertahanan Ajax, Rivera melakukan umpan satu-dua untuk menembusnya. Dia berhasil lolos, untuk kemudian berlari seorang diri menerjang gawang Ajax. Gert Bals, kiper sekaligus kapten Ajax, mencoba menghadangnya, tetapi Rivera berhasil mengelak.

Layaknya para penggemar musik jazz, para penonton kemudian menunggu improvisasi seperti apa yang akan segera dikeluarkan oleh Rivera. Namun Rivera justru melambat, seperti menunggu momen yang tepat untuk mengeluarkan improvisasi yang ditunggu-tunggu itu. Dalam istilah Argentina, Rivera sedang melakukan la pausa.

Kemudian, berawal dari pergerakan Pierino Prati, improvisasi yang ditunggu itu benar-benar muncul: Rivera mengirimkan umpan silang terukur ke depan gawang Ajax, Prati menyambutnya dengan sundulan, mencetak gol ketiganya pada pertandingan tersebut. Para penonton kemudian bertepuk tangan hebat setelahnya.

Pada akhirnya Milan berhasil menang telak, 4-1. Optimisme Rinus Michels, pelatih Ajax, menjelang pertandingan mentah di kedua kaki Rivera yang sama baiknya. Rivera benar-benar berhasil menyihir Santiago Bernabeu, Madrid, tempat dilangsungkannya pertandingan final, malam itu.

Pages