Mengenang Gol Gabriel Batistuta: Ketika Sang Legenda Menangisi Golnya

Gol ini benar-benar berkelas, tapi bukan karena proses atau keindahannya gol ini terus dikenang. Ini adalah gol yang melegenda berkat air mata Gabriel Omar Batistuta sebagai permintaan maaf sang bomber untuk 'pacar abadinya', Fiorentina.

Apa hal yang paling dikenang dari seorang Gabriel Batistuta?

Beberapa orang mungkin akan menjawab rambut gondrongnya. Yang lainnya bisa menjawab selebrasi senapan mesinnya. Tapi yang paling berkesan, dan mungkin akan jadi jawaban banyak orang, adalah tendangan kerasnya.

Batistuta memang merupakan salah satu penyerang yang tidak mengandalkan kecepatan atau pengambilan posisinya sebagai daya tarik utamanya, tetapi tendangan kerasnya. Kekuatan kaki kanannya memang tak ada duanya, dan ia jelas lebih mementingkan kekuatan ketimbang keindahan.

Lihat saja bagaimana ia mengeksekusi tendangan bebas di pertandingan antara Verona melawan AS Roma pada bulan November 2000. Sementara pemain lain akan berusaha membuat bola melengkung indah untuk melewati pagar hidup dan kiper lawan, Batigol, begitu julukannya, justru memilih menggunakan kekuatannya. Ia seakan tak peduli jika bola mengenai pemain lawan atau bisa ditepis kiper karena bola diarahkan ke sisi ia berdiri. Ia seperti tahu, bahwa para pemain lawan akan takut menghadapi tendangannya dan kiper lawan tidak akan sempat bereaksi ketika melihat bola terbang kencang ke arahnya.

Setelah mencetak gol, Batistuta biasanya akan berlari dengan lengan terentang terbuka, berteriak kesenangan. Pada saat itu, tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa ia sebetulnya tidak menyukai sepakbola. Ketika itu terjadi, ia hanya terlihat seperti seorang pria yang begitu menikmati momennya, menikmati keberhasilannya sendiri.

Tapi ada satu momen ketika selebrasi khas itu tidak terjadi.

Untuk Fiorentina

Bagi Bati, Fiorentina bukan cuma tempat bekerja, tapi juga tempat di mana ia berjuang sekaligus menjadi rumahnya, dan itu terbukti betul pada tahun 1993 ketika La Viola terdegradasi ke Serie B.

Bagi Bati, sepakbola memang hanya pekerjaannya, bukan hobi – seperti yang mungkin dirasakan kebanyakan karyawan di kantor-kantor ber-AC di kota-kota besar. Meski begitu, ia memiliki loyalitas yang tak biasa pada Fiorentina, klub pertamanya di luar Argentina. Bagi Bati, Fiorentina bukan cuma tempat bekerja, tapi juga tempat di mana ia berjuang sekaligus menjadi rumahnya, dan itu terbukti betul pada tahun 1993 ketika La Viola terdegradasi ke Serie B.

Meski diminati klub-klub lain, Batistuta, yang selalu mencetak dua digit gol sejak datang ke Italia, memilih bertahan dan membawa kembali Si Ungu ke habitat sejati mereka, Serie A. Keputusannya untuk tetap membela Fiorentina meski harus bermain di divisi dua membuatnya tak cuma dikagumi, tapi juga dicintai oleh publik Firenze. Tambahkan pula fakta bahwa ia hanya dua kali gagal mencetak 20 gol atau lebih dari tahun 1994 sampai 2000 untuk Fiorentina – tidak mengherankan jika sosoknya kemudian dianggap layaknya manusia setengah dewa dan diabadikan dalam bentuk patung perunggu pada tahun 1996.