Kisah

Mengenang Gol Ruud Van Nistelrooy: God of War yang Mengacak-Acak Fulham

Bongsor, kikuk, dan posisi badan yang kagok tidak menghentikan Ruud van Nistelrooy menusuk Fulham dari tengah lapangan. 

We are part of The Trust Project What is it?

Pada tanggal 1 Juli 1976, telah lahir seorang anak laki-laki yang 26 tahun kemudian akan menciptakan salah satu gol terbaik dalam sejarah tanah kelahiran sepak bola, Inggris. Tidak ada yang pernah menyangka ia akan melakukan aksi ajaib seperti itu dengan badannya yang bongsor. Tapi dia adalah Ruud van Nistelrooy alias The Ruud Devil.

Memulai karier sepak bola profesionalnya di Den Bosch selama empat musim sejak 1993 hingga 1997, Nistelrooy sudah menjadi perhatian penggemar sepak bola di Belanda. Terbukti kemudian ia pindah ke Heerenveen dalam usia yang tergolong belia, 21 tahun untuk menginjakkan kaki di Eredivisie, liga yang saat itu menarik untuk disaksikan karena dua tahun sebelumnya, Ajax Amsterdam – dipenuhi dengan pemain hasil akademi mereka sendiri – menjadi juara Liga Champions 1995 setelah mengalahkan raksasa Serie A, AC Milan berkat gol tunggal Patrick Kluivert.

Tidak butuh waktu lama bagi Nistelrooy untuk menarik minat dari tim Eredivisie yang jauh lebih besar dari Heerenveen yaitu PSV Eindhoven. Satu musim bermain di Belanda bagian utara, PSV segera melakukan rekor transfer di antara kedua tim untuk mendaratkannya ke Philips Stadium.

Dua musim di PSV dijalaninya dengan penuh prestasi. Layaknya cerita Kratos dari serial game God of War – yang dengan mudah memenangi banyak perang – torehan menarik dan pencapaian juara ditorehkan dengan mudah pula oleh Nistelrooy. Semudah membalikkan telapak tangan. Musim pertama, ia mencetak 31 gol di liga sekaligus menjadi topskor dan kedua terbanyak di benua Eropa – tentunya ditambah juara Eredivisie. Pencapaian yang sama ia dapatkan juga pada musim kedua. 

Kemudian bakatnya tercium oleh Ferguson. Bukan, ini bukan Sir Alex Ferguson (SAF), tetapi sang anak, Darren Ferguson. Ketika Nistelrooy sedang mengacak-acak pertahanan tim-tim Eredivisie, Darren yang sedang melakukan trial di Heerenveen memberitahukan kepada ayahnya kalau ada penyerang hebat di Belanda yang wajib dibeli oleh Manchester United. Mendengar info itu dari anaknya, SAF langsung mengirimkan tim pemandu bakat ke kota Eindhoven. Seperti pepatah cinta pada pandangan pertama, esok harinya, Nistelrooy segera dibeli oleh United.

Sembilan belas juta pound menjadi uang “taruhan” SAF kepada pemain yang baru terbukti jago di Belanda. Apalagi saat itu sang rival, Arsenal sudah terlebih dahulu memiliki ikon bernama Thierry Henry. Untungnya, Nistelrooy tidak terbebani dengan harga yang dibayarkan untuknya – yang pada saat itu terhitung mahal. “Harga itu biasa saja untuk saya. Malah itu membuat saya percaya diri karena itu artinya United memiliki keyakinan besar kepada saya.”