Mengenang Gol Ryan Giggs: Solo Run Penyihir Wales yang Membawa Man United Menciptakan Tahun Keajaiban

Ketika membicarakan treble winners tahun 1999, semua orang akan mengenang final Liga Champions yang bersejarah. Tapi momen keajaiban tahun 1999 bagi Manchester United sejatinya dimulai di sebuah laga ulangan semifinal Piala FA di Villa Park...

Ryan Joseph Giggs, itulah nama lengkap pria kelahiran 29 November 1973 tersebut dan kini tengah meniti karir di dunia kepelatihan. Giggs merupakan salah satu alasan kuat yang memunculkan sense of belonging banyak penggemar kepada Manchester United, terutama mereka yang telah mengikuti sepak terjang Setan Merah sejak era 1990an lalu.

Psikolog asal Amerika Serikat, Abraham Harold Maslow, dalam bukunya berjudul “A Theory of Human Motivation” menegaskan bahwa perasaan akan kebutuhan (sense of belonging) dapat menjadi motivasi manusia. Dalam kasus ini: kebutuhan untuk terus memantau perkembangan Man United.

Kembali ke Giggs, dia adalah pria yang memicu perasaan sense of belonging kepada banyak fans Man United. Jika Anda pernah ke Old Trafford atau paling tidak menyasikan laga kandang klub melalui layar televisi, Anda pasti pernah melihat tulisan ini: “Giggs Tearing You Apart Since 1991”.

Tahun itu merupakan musim pertama Giggs menjalani debut di tim senior Man United pasca promosi dari akademi pada 1990, dan di tahun itu juga Giggs meraih titel Piala Super UEFA. Giggs muda sudah menjadi buah bibir di Inggris kala itu dengan suguhan talenta dan kecepatannya dalam menyisir sisi sayap, hingga akhirnya penahbisan kualitasnya terjadi pada 1999.

Ingatan fans Man United tentang 1999 identik dengan treble winners bersejarah dan malam bersejarah Liga Champions Eropa kontra Bayern Muenchen. Namun seperti kata Presiden pertama Indonesia, Bung Karno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” maka Anda pun tak boleh lupa akan gol indah Giggs ke gawang Arsenal di semifinal Piala FA.

Pemicu Treble Winners Bersejarah

“Saya melihatnya lagi ketika Giggs pensiun,” akunya. “Saya pikir gol itu memberikan mereka treble karena jika (Dennis) Bergkamp mencetak gol, saya pikir laga akan berakhir. Golnya hebat dan pada 99, saya pikir itu gol (krusial) untuk mereka. Giggs ada di puncak karirnya.”

"Saya melihatnya lagi ketika Giggs pensiun. Saya pikir gol itu memberikan mereka treble karena jika (Dennis) Bergkamp mencetak gol, saya pikir laga akan berakhir. Golnya hebat dan pada 99, saya pikir itu gol (krusial) untuk mereka. Giggs ada di puncak karirnya.

- Arsene Wenger

Komentar itu dilontarkan oleh Arsene Wenger, manajer Arsenal yang sudah menangani klub sejak 1996 hingga saat ini. Ia merupakan saksi hidup kegemilangan Giggs yang masih aktif terlihat di layar kaca saat ini dan tahu persis makna gol pria kelahiran Canton, Cardiff, Wales itu. Sebuah gol yang mengubah tahun 1999 menjadi tahun bersejarah Man United.

Berlangsung sebulan sebelum final Liga Champions kontra Bayern, Man United menjalani laga ulangan melawan Arsenal di Villa Park, setelah sebelumnya imbang tanpa gol. Format laga ulangan di semifinal Piala FA ini sendiri jadi yang terakhir, karena setelahnya regulasi itu dihapus dan semifinal akan melanjutkan laga ke babak tambahan dengan potensi drama adu penalti, jika kedudukan masih sama kuat di waktu normal.

Manajer Man United kala itu, Sir Alex Ferguson, mengistirahatkan lima pemain dan satu di antaranya adalah Ryan Giggs. Ia menurunkan susunan pemain yang terdiri dari David Beckham, Ole Gunnar Solksjaer, Teddy Sheringham, Jesper Blomqvist, Roy Keane, dan pemain lainnya.

Sementara Arsenal yang berstatus juara bertahan Premier League dan Piala FA memainkan pemain-pemain terbaiknya seperti Bergkamp, Patrick Vieira, Lee Dixon, Tony Adams, Martin Keown, Ray Parlor dan pemain lainnya. Berlangsung ketat, kebuntuan baru pecah di menit 18 kala bola jauh disambut Sheringham yang mengontrol serta memberikannya kepada Beckham. Dengan penuh perhitungan, Beckham menendang bola dari luar kotak penalti ke pojok kanan gawang Arsenal yang tak dapat diraih David Seaman.